
Ayana tersentak terbangun dari tidurnya. Mimpi-mimpi buruk tentang kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya masih selalu mengganggunya setiap malam.
Seminggu sudah dia tinggal di rumah keluarga tante Hana. Dia menempati sebuah kamar yang cukup luas di lantai dua rumah itu. Desain kamarnya sangat manis, bernuansa pink memberi kesan girly sekali.
Tante Hana bilang dari dulu dia selalu ingin punya anak perempuan tapi Tuhan hanya memberi dia 2 orang anak laki-laki. Makanya di dalam rumahnya yang super luas itu dia sengaja mendesain satu kamar yang sangat cocok untuk anak gadis. Tante Hana juga bilang mungkin sesungguhnya sudah garis nasib akhirnya Ayana tinggal di rumahnya sebagai anak perempuan yang telah lama dia inginkan.
Tok Tok....
"Ayana, apakah kamu udah bangun? Siap-siap ya nak, hari ini tante akan menemani kamu mendaftar di kampusnya Kaivan," panggil tante Hana sembari mengetuk lembut pintu kamarnya.
"Udah tante, Ayana siap-siap dulu ya," sahut Ayana.
Dia bergegas ke kamar mandi dan setelah selesai lanjut menuju walk in closet di kamarnya. Setelah dia pindah ke rumah ini tante Hana sering mengajaknya untuk shopping berbagai keperluannya, mulai dari aneka model baju kekinian, kosmetik, handphone, laptop, tas dan masih banyak lagi barang-barang branded mahal yang dibelikan untuknya.
Sesungguhnya Ayana masih belum terbiasa dengan semua kemewahan ini. Dia masih agak bingung dengan perubahan drastis dalam hidupnya. Memandang pilihan baju yang begitu banyak seperti ini.
Akhirnya dia memakai satu set pakaian yang menurutnya cocok untuk dipakai ke kampus.
Ayana berjalan pelan menuruni tangga sampai kemudian dia menyadari ada seseorang yang sepertinya menghembuskan nafas tidak sabar di belakangnya. Reflek dia menoleh ke belakang. Dan kaget melihat tubuh Kaivan begitu dekat dengannya. Nyaris saja dia terjatuh kalau saja tangan Kaivan tidak cepat menyambar pinggangnya.
__ADS_1
Menyadari kalau tubuhnya bukannya menjauh malah jadi menempel dengan tubuh Kaivan dan wajah mereka begitu dekat satu sama lain, membuat jantung Ayana seakan berhenti berdetak sekian detik sampai akhirnya Kaivan melepaskan tangan dari pinggangnya dan membuat dia bisa bernafas lagi.
"Makanya kalo jalan itu hati-hati.... Jangan sampe lo mati di rumah gue," bisik Kaivan dengan kejam saat melewatinya di tangga.
Ayana berpegang erat pada pegangan tangga, berusaha keras menenangkan jantungnya yang seolah-olah mau meloncat keluar dari tempatnya. Belum pernah seumur hidupnya berada begitu dekat dengan tubuh seorang cowok apalagi cowok dingin seperti Kaivan.
Memang banyak cowok yang pernah naksir Ayana tapi mereka semuanya menjaga jarak dan bersikap sopan menghargai dirinya. Tidak ada yang kasar dan dingin seperti sikap Kaivan padanya.
Ayana semakin merasa takut mendengar kata-kata Kaivan tadi. Kemana lagi dia bisa mengadu setelah kedua orangtuanya tidak ada. Tapi ternyata Tuhan selalu menolongnya dengan memberikan seseorang yang baik hati.
"Gak usah takut Ayana.... Kalo kamu diganggu Kaivan, ngomong aja ke kak Raihan ya," ucap Raihan dengan lembut meraih tangannya dan membimbingnya turun tangga.
Ayana tersenyum, rasa takutnya tadi sedikit terobati melihat sikap Raihan yang ramah padanya. Untung sifat kedua anak tante Hana ini bertolak belakang. Jadi dia masih memiliki seseorang yang bisa dipercaya untuk menjaganya.
"Hari ini kamu pake mobil aja ya Kai karena mama dan Ayana sekalian ikut sama kamu ke kampus," kata tante Hana kepada Kaivan.
"Aduh ma, mama diantar sopir aja deh, aku males bawa mobil," tolak Kaivan dengan raut muka tidak suka.
"Kaivan, turuti kata mama kamu," tegur om Gibran dengan mata menyorot tajam ke arah Kaivan.
Kaivan tidak berani membantah papanya. Dengan terpaksa dia akhirnya menganggukkan kepala.
************************
__ADS_1
Mereka sudah sampai di kampusnya Kaivan. Ayana membuka pintu mobil setelah Kaivan mematikan mesinnya. Dia duduk di sebelah Kaivan. Tadi sebelum berangkat, tante Hana menyuruhnya duduk di situ dan tante duduk di kursi belakang. Sepanjang perjalanan dia tidak berani menoleh ke samping kanan, berusaha terus memandang ke jendela mobil di sebelah kirinya.
Sewaktu mobil memasuki halaman kampus barulah dia secara tidak sadar menoleh ke kanan dan menangkap siluet wajah tampan Kaivan dari samping. Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna seandainya sikap cowok itu bisa lebih ramah, gumamnya dalam hati.
"Mama langsung ke kantor administrasi kampus ya Kai. Nanti kalo udah selesai, mama chat ke kamu," ujar tante Hana sebelum Kaivan beranjak pergi.
"Iya ma...,"sahut Kaivan malas.
Tante Hana menggandeng tangan Ayana dengan sayang dan berjalan bersama menuju ruangan pendaftaran mahasiswa baru. Bangga sekali dia melihat beberapa pasang mata memandang wajah cantik Ayana dengan kagum, seakan-akan Ayana adalah anak gadisnya.
"Kamu mau kuliah jurusan apa nak, " tanya tante Hana.
"Kalo bisa Ayana mau jurusan desain grafis aja tante, karena dari dulu Ayana suka menggambar dan mendesain."
"Oooh, kamu ternyata suka gambar juga ya.... Sama dong dengan Kaivan, dia sekarang ambil jurusan Arsitektur lho," ujar tante Hana.
"Wah, koq bisa samaan gitu ya bakatnya... Jangan-jangan kalian berjodoh," canda tante Hana yang membuat pipi Ayana memerah.
Dia tidak bisa membayangkan akan berjodoh dengan Kaivan. Kalau boleh memilih dia lebih suka cowok berkarakter lembut dan sopan seperti kak Raihan. Dari dulu dia tidak pernah suka dengan bad boy. Wajah Kaivan memang lebih tampan, tapi kepribadiannya sangat tidak menarik hati. Kasar, dingin dan cuek, bagaimana mungkin punya suami seperti itu.
SUAMI !!!!
Ayana kaget sendiri dengan pikirannya. Masa cewek yang baru mau jadi mahasiswa dan berumur 17 tahun sudah memikirkan siapa yang pantas jadi suaminya. Pikiran ini yang membuat pipinya memerah. Bukan karena memikirkan Kaivan. Amit-amit membayangkan cowok kayak dia.
Tapi tante Hana salah persepsi, dia berpikir pipi Ayana merona karena malu-malu disebut berjodoh dengan Kaivan. Diam-diam sebenarnya tante Hana memang telah punya rencana itu. Dia ingin sekali Ayana resmi menjadi bagian dari keluarganya. Bukan sebagai anak angkat, tetapi sebagai menantu. Dan karena Raihan sesungguhnya sudah bertunangan, maka dia menjodohkan Ayana dengan Kaivan.
__ADS_1
Apalagi mendengar ternyata mereka berdua punya kesukaan yang sama yaitu menggambar, tante Hana jadi makin bersemangat dan merasa pilihannya memang sudah tepat. Tinggal menunggu waktu saja untuk mewujudkan perjodohan Kaivan dan Ayana. Tante Hana jadi semakin tidak sabar.