
Seharian ini Kaivan tidak henti-hentinya tersenyum. Sampai beberapa sahabatnya melihatnya dengan ekspresi aneh.
"Eh, kenapa sih lo dari tadi nyengir-nyengir mulu... Lagi kuliah pun kerja elo ngelamun sambil senyam senyum," sindir Dean, salah satu sahabat akrabnya.
"Iya nih Kai, tumben banget.... Padahal tampang lo biasanya kayak orang mau perang mulu, sangar gitu....," cibir Aldi ikut-ikutan.
"Lagi bayangin yang enak-enak sama Jessica ya.... Dasar pikiran mesum lo ya," timpal Brian dengan tatapan menuduh.
"Apaan sih elo elo semua.... Bukannya perhatiin dosen malah melototin muka gue selama kuliah tadi ya," sergah Kaivan kesal.
"Udah ah.... Jangan bikin mood gue hancur liat muka kalian," Kaivan bergegas menjauh dari sahabat-sahabatnya itu.
"Hei mau kemane lo, maen ngacir aja." Aldi berteriak ke arahnya.
"Aah.... Palingan nyamperin ceweknya tu anak.... Udah ga tahan mau nyosor kali... Kita makan aja dulu yuk," ucap Brian sambil mengajak Aldi dan Dean ke kantin kampus.
Kaivan melangkah menuju ruang kelas Ayana. Mereka memang sefakultas walaupun tidak sejurusan. Beda dengan Jessica yang berada di fakultas lain.
Baru sebentar saja tidak bertemu dengan gadis itu, hatinya sudah dipenuhi rasa rindu. Ingin secepatnya melihat wajah Ayana lagi. Sungguh Ayana sudah menjadi sumber kebahagiaannya sekarang ini.
Tapi belum sampai ke tujuan, Kaivan merasa seseorang menarik lengannya dengan keras.
"Gue mau bicara sama elo..... SEKARANG !!!! tanpa basa basi Jessica menyeretnya pergi.
Kaivan tidak bisa membantah. Apalagi semua orang pasti akan heran kalau dia menolak ajakan Jessica. Siapa pun di kampus ini tahu kalau dia adalah pacar Jessica. Dia pun terpaksa ikut saja saat Jessica menggiringnya ke suatu tempat.
__ADS_1
Dari pintu ruang kelasnya, Ayana melihat semua itu. Dia baru saja selesai kuliah dan bermaksud untuk pulang. Dan dia tertegun saat melihat Jessica menarik Kaivan di depan matanya, pemandangan itu membuat dadanya nyeri.
"Biarlah.... Mungkin mereka memang perlu bicara," Ayana mencoba menghibur diri sendiri.
"Ay, lo pulang sama siapa? Bareng yuk," ajak Ezra kepadanya.
Awalnya Ayana ragu. Dia tidak enak kalau nanti Kaivan salah paham saat melihat dia diantar Ezra pulang.
"Tapi bukankah Kaivan juga pergi dengan Jessica.... Lagian aku dengan Ezra hanya berteman kan," kata Ayana dalam hati.
Akhirnya dia menyetujui ajakan Ezra dan ikut berjalan ke parkiran.
*****************************
Setelah duduk berdampingan di salah satu bangku taman yang terlindung oleh sebuah pohon yang rindang. Jessica menatap tajam ke arah Kaivan.
"Kenapa elo seminggu ini menghindari gue," semburnya marah.
"Bukan gitu Jes, gue kan udah bilang sama elo..... Seminggu ini kita memang gak bisa ketemuan," Kaivan berusaha menjelaskannya supaya Jessica tidak curiga padanya.
"Selama acara pertunangan itu kan keluarga gue datang semua.... Mana sempat gue pegang handphone... Lo kan tau sendiri mama paling berisik kalo diliatnya gue sibuk sendiri.... Gue males ribut sama nyokap," panjang lebar Kaivan memberikan alasan.
"Gak usah bohong deh elo ya.... Lo pasti gak sadar gue liat semua tadi pagi mulai dari elo menurunkan cewek itu, menggenggam tangannya, mengusap rambutnya, mencium jemarinya.... Terus terang aja deh kalo elo udah tergoda sama dia," tuduh Jessica dengan kemarahan yang meluap-luap.
Mata gadis itu sudah berkaca-kaca dari tadi. Dan sekarang airmatanya sudah tumpah ruah membasahi pipinya.
__ADS_1
Kaivan terkejut, dia tidak menyangka ternyata Jessica sudah melihat semuanya. Padahal awalnya dia berencana akan pelan-pelan mencoba bicara baik-baik kepada Jessica bahwa pertunangan itu tidak bisa dihindari lagi dan dia berharap Jessica mau memaklumi posisinya sebagai anak yang tidak mungkin durhaka kepada orang tua. Dan pada akhirnya mereka akan berpisah baik-baik dan mungkin akan bisa tetap berteman.
Tapi kalau sudah seperti ini, dia juga tidak bisa berbohong. Bukankah Jessica sudah melihat sendiri? Pasti gadis ini tidak sebodoh itu mau menerima saja kebohongannya padahal sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri.
"Maafkan gue Jes..... Gue sama sekali tidak pernah bermaksud menyakiti elo apalagi sengaja membohongi elo."
"Gue juga gak tau kenapa ini bisa terjadi.... Yang jelas semakin hari gue jadi makin ingin menghibur dia supaya jangan bersedih lagi. Dia udah yatim piatu Jes.... Tidak punya siapa-siapa lagi... Mungkin awalnnya gue merasa kasian.... Tapi lama-lama gue jadi gak tega menolak rencana ortu gue untuk bertunangan dengannya... Gue gak punya pilihan lain.... Gue mohon elo bisa memahami posisi gue ini," Kaivan berharap Jessica mau mengerti.
"Bilang aja elo udah jatuh cinta padanya, ya kan? Apa sih kelebihan cewek kampungan itu sampe bisa bikin elo lupa sama janji elo sendiri? Empat tahun kita bersama dan itu bisa terhapus begitu aja sejak dia tinggal di rumah elo kan......? Gue bener-bener gak nyangka elo bisa sejahat ini sama gue Kai.... Gak ada artinya sama sekali semua janji manis yang selalu elo bilang ke gue.....," isak tangis Jessica makin menjadi.
Kaivan sangat merasa bersalah. Dia juga sebenarnya malu pada diri sendiri. Sebagai laki-laki dia tidak bisa menjaga janji yang dulu dia ucapkan. Cuma tumbuhnya cinta pada Ayana juga tidak bisa dihindari dan dipahami secara logika, hanya saja mungkin datangnya bukan di waktu yang tepat. Dia juga sudah berusaha keras untuk menghindar tapi entah mengapa sekuat apapun dia mengingkarinya, rasa itu justru tumbuh makin kuat. Dia pun tidak kuasa lagi menolaknya. Dalam waktu yang singkat, mau tidak mau Ayana telah menjadi candu dalam aliran darahnya.
"Tolong maafkan gue Jes.... Gue yang salah di sini... Gue yang gak bisa pegang janji...." Kaivan berusaha memegang bahu Jessica untuk menghentikan tangis gadis itu.
"Jangan pegang gue lagi..... Gue jijik sama elo... Gue benci sama cewek pelakor itu.... Di tempat umum aja kalian udah berani pegang-pegang, apalagi di tempat yang hanya ada kalian berdua.....," Jessica mundur menghindar dari jangkauan Kaivan.
"Gue sadar elo gak bisa maafin gue begitu aja.... Tapi tolong jangan marah sama Ayana, dia tidak salah.... Dia juga tidak mau ini terjadi.....," dalam penjelasannya Kaivan masih berusaha membela Ayana, dia tidak rela Ayana dianggap pelakor karena gadis itu bukan dengan sengaja melakukannya.
"Hehhhh.... Bela aja terus cewek itu !!!!... Tunangan elo kan? Calon istri elo kan?Bentar lagi mau nikah kan?" jerit Jessica makin marah melihat Kaivan lebih berpihak pada Ayana.
"Seumur hidup gue gak akan ikhlasin elo jadi miliknya... Gue gak akan rela liat kalian bahagia jadi suami istri... Gue benci banget sama kalian berdua.... GUE BENCIIIIIII !!!!! teriak Jessica sambil berlari kencang menjauh dari Kaivan.
Gadis itu sangat marah sekaligus patah hati. Dia tidak menyangka angan-angan indahnya dulu akan menikah dengan Kaivan buyar begitu saja. Dia tidak pernah bermimpi suatu saat ternyata Kaivan bisa berpaling darinya bahkan jatuh cinta kepada gadis lain. Hatinya sangat sakit. Matanya sudah kabur dengan airmata yang tidak ada hentinya mengalir deras. Yang dia tahu, dia mau pergi sejauh mungkin dari Kaivan agar rasa sakit ini pergi. Tak sadar kakinya melangkah menyeberangi jalan dan sebuah sepeda motor sedang melaju kencang tanpa sempat mengerem.....
BRRAAKKKK !!!!!......
__ADS_1