
Tok Tok Tok.....
Ayana tersentak bangun dari tidurnya, terkejut mendengar pintu kamarnya diketuk. Siapa yang mengetuk pintunya tengah malam seperti ini?
Dia bangkit dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu, siapa tahu ada yang urgent pikirnya.
Begitu pintu terbuka, Kaivan langsung menyeruak masuk ke kamar Ayana setelah sebelumnya memastikan telah mengunci pintu kembali.
"Kamu mau apa ??? " Ayana berjalan mundur ketakutan melihat tatapan mata Kaivan yang seperti ingin memakannya.
Akhirnya dia tidak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menempel pada tembok kamar. Sementara Kaivan masih tetap merangsek maju ke arahnya.
"Jangan macam-macam atau aku akan berteriak," ancam Ayana semakin ketakutan pada saat tubuhnya sudah dikungkung dengan kedua tangan Kaivan di sisi kanan dan kiri.
"Eh, gak ada juga yang mau macem-macem ama elo.... Sedikit pun gue gak ada selera sama cewek manja dan kampungan kayak elo...." sergah Kaivan kasar.
"Gue cuma mau kasi tau ke elo, kalo gara-gara urusan gak penting sama elo tadi bikin gue hampir putus sama pacar gue, tau gakkkk.... Bikin gue makin benci setengah mati sama elo.... Kenapa sih elo mesti datang bikin kacau hidup gue, harusnya elo gak usah datang ke rumah ini.... Gara-gara elo hidup gue susah kayak giniiiii...." desis Kaivan dengan sangat marah.
"Aku juga gak pernah mau kayak gini.... Kalo masih bisa dibatalkan, aku juga gak mau melanjutkan rencana pertunangan ini. Aku gak mau jadi perebut pacar orang. Seandainya ada tempat lain buatku pergi, aku gak mau berada di sini dan dibenci sama orang jahat kayak kamu....." isak tangis yang sedari tadi sudah ditahan Ayana akhirnya lepas juga.
Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hatinya terasa lebih sakit lagi daripada siang tadi. Ingin rasanya dia memanggil mama dan papanya, tapi itu jelas tidak mungkin karena mereka sudah tidak berada di dunia yang sama dengannya. Belum pernah dia merasakan sesakit ini sebelumnya. Hidupnya sebelum ini hanya terisi hal-hal yang indah saja tapi mengapa sekarang begitu menyakitkan.
Kaivan melepaskan kungkungan tangannya. Melihat Ayana menangis pilu seperti itu, tiba-tiba hatinya juga terasa seperti tercubit. Tidak seharusnya juga dia melemparkan kesalahan sepenuhnya kepada gadis itu.
Sebenarnya mereka berdua bisa dibilang sama-sama sebagai korban dalam hal ini. Tapi tentu tidak mungkin dia marah kepada mamanya yang memang dari awal mengatur rencana pertunangan ini. Walau semarah apa pun dia, tidak mungkin dia sampai tega melawan mama. orang tua yang sangat disayanginya.
__ADS_1
Akhirnya sambil menghela nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak di dadanya, Kaivan perlahan melangkah keluar dari kamar Ayana. Meninggalkan gadis itu yang masih menangis tersedu.
****************
Ayana memandang bayangan wajahnya di cermin. terlihat jelas kedua matanya bengkak habis menangis panjang semalam. Dia sudah berusaha mengompresnya tapi bengkaknya hanya berkurang sedikit saja.
Tok Tok....
"Ayana, yuk sarapan nak, kamu udah bangun kan?" terdengar suara tante Hana memanggilnya dari balik pintu.
Mau tidak mau Ayana melangkah menuju pintu dan menemui sang tante.
"Hei, koq matamu bengkak gini? Abis nangis ya? Kenapa nak, apakah Kaivan membuatmu sedih?" tanya tante Hana dengan nada cemas.
"Aah, gak koq tante, semalam Ayana hanya sedikit kangen sama mama dan papa aja.... Kalo Kaivan baik banget koq sama Ayana," ujar Ayana berusaha meyakinkan tante Hana.
"Kai, kamu gak boleh ya bikin Ayana sedih, kasian dia, udah gak punya siapa-siapa lagi..... Makanya mama menjodohkan kalian supaya kamu bisa seterusnya menemani Ayana jadi dia tidak merasa sendirian lagi," ucap tante Hana ke arah Kaivan yang masih berdiri di depan mereka.
"Iya Ma...." hanya itu jawaban Kaivan sebelum mengambil langkah panjang menuruni tangga menuju ruang makan.
Tante Hana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap dingin anak keduanya itu. Dia berpaling kepada Ayana dan menepuk-nepuk bahunya.
"Sabar ya sayang.... Tante tau mungkin saat ini kamu merasa tidak nyaman dengan sikap Kaivan, tapi tante yakin suatu saat nanti dia akan mencintai kamu dan mau menjadi pendamping hidupmu. Cuma saat ini dia belum menyadari itu...." kata tante Hana sambil merangkul bahu Ayana dengan rasa sayang.
Ayana hanya tersenyum kecil. Dia merasa apa yang diucapkan tante Hana itu hanya hiburan semata dan tidak akan mungkin terjadi karena Kaivan jelas sudah memiliki pilihan sendiri dan itu pasti bukan dirinya. Apalah arti dirinya di mata Kaivan selain sebagai sosok pengganggu dan pengacau hidupnya.
__ADS_1
Kaivan mencuri pandang ke arah Ayana saat gadis tersebut sudah duduk di hadapannya di meja makan. Sambil mengoles roti bakarnya, dia bisa melihat mata gadis itu yang sembab akibat tangisannya semalam. Di sudut hatinya muncul setitik rasa iba apalagi mengingat gadis itu sudah yatim piatu.
"Tapi gue gak boleh lama-lama kasihan padanya, walau bagaimanapun juga dia yang bisa menjadi penyebab percintaan gue dengan Jessica kandas di tengah jalan, padahal impian gue adalah menikah dengan Jessica," bisik hati Kaivan.
Dia buru-buru menyelesaikan sarapannya untuk kemudian pamit kepada mama dan papanya karena mau berangkat kuliah.
"Ma... Pa.... Kaivan berangkat kuliah dulu ya," katanya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
"Eeeh jangan berangkat sendiri dong Kai. Hari ini kan Ayana udah mulai kuliah juga. Barengan sama dia ke kampus," titah tante Hana yang disambut anggukan persetujuan dari om Gibran.
"Aduh ma, masa Kaivan mesti bonceng dia?" tolak Kaivan keberatan.
"Iya tante, Ayana bisa berangkat sendiri aja ke kampus," timpal Ayana melihat ekspresi tidak suka Kaivan padanya.
"Kaivan, papa tidak pernah mengajari kamu untuk membantah apa kata mama," tegur om Gibran tegas.
"Kamu tiap ke kampus harus barengan Ayana, kecuali jadwal kalian berbeda," kata tante Hana.
"Iya deh ma.... Iya...." Kaivan tidak mau membantah lagi.
"Ayo buruan, ntar telat," katanya ke arah Ayana.
Ayana pun buru-buru menyelesaikan sarapannya kemudian berpamitan sambil mencium tangan om Gibran dan tante Hana. Dia berjalan tergopoh-gopoh mengejar langkah Kaivan yang panjang-panjang.
"Nih, pakai helm," kata Kaivan sambil menyodorkan helm padanya.
__ADS_1
Kaivan melajukan sepeda motornya dengan kencang setelah Ayana duduk di boncengan. Tubuh gadis itu tersentak ke depan dan menabrak punggung Kaivan karena kaget dan belum sempat mengatur keseimbangannya. Secara spontan kedua tangannya mencengkeram pinggang Kaivan. Dia sebenarnya sangat tidak nyaman harus tiap hari ke kampus dengan cowok itu. Karena jelas sekali Kaivan tidak menyukai dan sangat terpaksa mengikuti perintah mama dan papanya. Tapi apalah daya, dia belum bisa memikirkan jalan lain untuk menolak.