
Ayana membiarkan airmatanya mengalir deras. Tubuhnya telentang di kasur menatap langit- langit kamar. Terbayang olehnya wajah kedua orangtuanya. Airmatanya makin deras mengalir diiringi isak lirih yang menyesakkan dadanya.
Dia tidak punya pilihan lain. Kedua orangtuanya tidak punya kerabat dekat karena mereka berdua sama-sama anak tunggal di keluarga. Kakek nenek Ayana dari pihak mama dan papa juga sudah tidak ada. Kalaupun ada kerabat, hubungannya sudah jauh dan belum tentu mereka mau dibebani oleh Ayana.
Membayangkan akan ditunangkan dengan Kaivan sungguh membuat hatinya makin kecut. Teringat kata-kata Kaivan tadi. ternyata cowok itu sudah punya tambatan hati dan sekarang disuruh putus gara-gara dia.
Ayana benar-benar merasa di posisi yang serba salah. Dia tidak mau dianggap perebut pacar orang. Tapi untuk menolak keinginan tante Hana juga tidak mungkin. Ayana takut tante Hana akan tersinggung dan berubah sikap padanya. Kemana lagi dia akan pergi.
Dia hanya bisa berharap suatu saat Tuhan akan menyelamatkannya dengan suatu cara agar dia bisa terbebas dari pertunangan dengan Kaivan. Jangan sampai mereka lanjut ke jenjang pernikahan.
Akhirnya setelah capek semalaman menangis, Ayana pun terlelap dalam tidurnya.
*******************
Terbangun dengan mata yang sembab keesokan harinya, sesungguhnya Ayana malas untuk keluar kamar apalagi memikirkan akan bertemu dengan cowok jahat itu. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan, tante Hana pasti akan bertanya-tanya. Setelah setengah jam berusaha mendinginkan hati, akhirnya dia beranjak ke kamar mandi.
Sehabis mandi dan berpakaian rapi, dengan menghembuskan nafas panjang dia melangkah membuka pintu kamar. Kemudian celingak celinguk melihat keadaan sekitar sebelum buru-buru menuruni tangga.
Dia sungguh tidak mau berpapasan dengan Kaivan. Memikirkannya saja sudah membuat hatinya mengkerut. Kalau ada pilihan lain, dia akan pergi dari rumah ini supaya pertunangannya tidak pernah terjadi.
Sesampainya di lantai bawah, tidak ditemuinya siapapun padahal biasanya ada tante Hana yang selalu mondar-mandir mengerjakan sesuatu. Dia pun berjalan menuju meja makan untuk sarapan, baru kemudian bik Inah juru masak di rumah itu buru-buru menghampirinya.
"Mau makan apa non?" tanya si bibik sambil membungkukkan badan dengan sopan ke arahnya.
"Terserah aja bik, apa aja yang ada?" tanyanya.
"Ada nasi goreng seafood non, kalo mau bibik panasin 2 porsi ya," jawab si bibik lagi.
"Kenapa 2 porsi bik?"
__ADS_1
"Den Kaivan juga belum sarapan, mungkin sebentar lagi turun. Tadi nyonya sebelum berangkat titip pesan supaya non Ayana dan den Kaivan sarapannya bareng aja," jelas bik Inah.
"Ooo ya udah kalo gitu bik, tolong disiapkan aja," angguknya.
"Iya non, mohon ditunggu sebentar ya," kata bik Inah sambil beranjak ke dapur.
Ayana duduk menunggu sambil asyik membuka aplikasi media sosial di handphone-nya. Saat terdengar kursi di depannya digeser seseorang, barulah dia mengangkat kepala. Matanya langsung bertemu dengan tatapan tajam Kaivan.
Buru-buru dialihkan pandangannya kembali menunduk ke arah layar handphone untuk menghindari konflik lebih lanjut dengan cowok itu.
"Heh, gak usah sok sibuk gitulah," sentak Kaivan sambil menendang kakinya di bawah meja makan.
"Gue disuruh nyokap bawa elo ke butik tempat fitting baju untuk acara tunangan sialan itu. Jadi abis sarapan ini buruan siap-siap, gue tunggu gak pake lama ya. Gue juga masih banyak urusan lain yang lebih penting," ujar Kaivan panjang lebar sambil menatap tajam ke arahnya.
"Iya.....,"dia menjawab dengan sangat pelan nyaris tidak terdengar saking takutnya.
Untung tidak lama kemudian bik Inah datang dengan membawa 2 piring nasi goreng yang kemudian disuguhkan untuknya dan Kaivan. Menyusul kemudian 2 gelas susu dan air putih juga dihidangkan di depan mereka masing-masing.
**********************
Mereka sudah sampai di butik tempat fitting baju. Kaivan bergegas masuk ke dalam tanpa basa basi menunggu dirinya yang masih di dalam mobil. Walau rasa marahnya sudah sampai ke ubun-ubun, Ayana berusaha terlihat tenang berjalan menyusul Kaivan. Dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. Bukankah mereka memang tidak memiliki hubungan apa-apa selain pertunangan yang dipaksakan?
Jadi tidak ada gunanya juga dia marah atas sikap Kaivan yang tidak peduli padanya. Karena Kaivan sudah jelas memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap rencana mamanya ini. Bahkan Ayana yakin Kaivan sedang memikirkan 1001 celah agar bisa membatalkan semua ini.
"Wah, ini rupanya calonnya Kaivan.... Sini tante bantu fitting bajunya ya, semua udah disiapkan lho," sapa seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik dan modis sambil menggandeng tangannya ke ruangan fitting.
Di sana dilihatnya Kaivan sedang dibantu oleh 2 orang asisten untuk memakai dan merapikan setelan jas yang terlihat sangat elegan dan mahal.
"Ganteng banget....," bisik hatinya jujur.
__ADS_1
Siapa pun tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Walau sebenci apapun dia kepada cowok itu, dia tetap mengakui ketampanannya yang luar biasa. Malah sikap dingin dan angkuh yang selalu diperlihatkan Kaivan justru menambah nilai plus penampilan fisiknya. Sayang kepribadiannya tidak sesuai, cibirnya dalam hati.
Tante pemilik butik tadi kemudian mengajaknya mendekati 2 orang asisten lain yang sedang memegang sebuah gaun putih yang sangat cantik dan mewah. Dia sampai terpesona melihat keindahannya. Sungguh bagaikan gaun seorang putri raja, pikirnya.
"Yuk kamu pake dulu gaunnya di ruang ganti itu ya sayang," ujar sang tante sambil menggiringnya ke salah satu ruangan dengan dibantu kedua orang asisten tadi.
Ayana menurut saja apapun yang diperintahkan oleh tante pemilik butik. Akhirnya gaun cantik tadi sudah terpasang dengan pas melekat sempurna di tubuhnya. Rambutnya digelung ke atas oleh asisten tante butik. Dia memandang tampilan dirinya di cermin seakan tidak percaya. Waaah, aku jadi secantik ini, gumamnya sambil mengagumi diri sendiri.
Tante pemilik butik membimbing tangannya untuk keluar dari ruang ganti. Kemudian membantunya naik ke atas panggung kecil di ruangan yang seluruh dindingnya dilapisi cermin. Sekilas Ayana melihat mata Kaivan menatapnya dengan ekspresi terkejut dan kemudian seperti terpesona. Tapi itu hanya sekian detik saja, sebelum cowok itu kembali menunduk pura-pura sibuk dengan handphone-nya.
"Ayo Kai, coba sebentar berdiri di dekat calon tunanganmu, tante mau melihat tampilan baju kalian sebagai pasangan, apakah udah cocok atau masih ada yang perlu diperbaiki," panggil tante butik sambil melambaikan tangan ke arah Kaivan.
Dengan langkah malas, Kaivan berjalan mendekati Ayana. Kemudian mereka berdiri berdampingan sambil memandang ke arah cermin di depannya. Tanpa sengaja mata mereka bertemu pandang sesaat dan Kaivan buru-buru mengalihkan matanya ke arah tante butik.
"Bagaimana tante? Saya soalnya masih banyak urusan lain nih," ujar Kaivan.
Sang tante mematut-matut tampilan mereka berdua. Kemudian mengacungkan kedua jempolnya.
"Perfect banget kalian ini tau gak....," puji si tante sambil tidak henti-hentinya mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Oya udah kalo gitu, saya udah boleh ganti baju lagi kan?" tanpa menunggu jawaban si tante, Kaivan beranjak ke ruang ganti.
Kenapa dia bisa cantik banget gitu ya, tapi gue gak akan tergoda, bisik hati Kaivan geram.
Terpesonaaaa....
__ADS_1
Akuuuu terpesonaaaaa.....
Terdengar sayup-sayup alunan satu bait lagu sepertinya dari bunyi ringtone handphone seseorang.