
Kaivan bersandar di depan pintu kamar Ayana. Hatinya seakan tertinggal di dalam sana. Dipejamkannya mata menahan rasa sesak di dada. Dihembuskannya nafas pelan-pelan berusaha mengusir bayang wajah gadis itu.
Ingin rasanya dia masuk lagi ke kamar itu dan meraih tubuh Ayana ke dalam pelukannya. Dan tak akan dia lepaskan lagi. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Janji yang telah terucap tak mungkin diingkari.
Perlahan dia beranjak menuju kamarnya. Terdengar dari lantai bawah, kedua orangtuanya baru sampai di rumah dari perjalanan bisnis mereka ke luar kota setelah acara pertunangan. Kaivan tertegun, akhirnya dia memutuskan berjalan menuruni tangga. Semua harus diselesaikan sekarang.
"Ma.... Pa....." sapanya sambil bergantian mencium tangan mama dan papanya.
"Kalian baik- baik saja kan di rumah?" Mana Ayana?" tanya tante Hana kepada Kaivan.
"Dia ada di kamarnya...."jawab Kaivan.
"Ma.... Pa..... Aku mau bicara sesuatu," kata Kaivan lagi.
Tante Hana berpandangan dengan om Gibran, merasakan ada sesuatu yang tidak enak sedang terjadi. Keduanya pun duduk berdampingan di sofa ruang keluarga berhadapan dengan anaknya.
Kaivan pun mulai bercerita dari awal kejadian sebelum kecelakaan menimpa Jessica. Sampai terakhir dia menjelaskan bahwa dia juga sudah bicara dengan Ayana soal pembatalan pertunangan.
Raut wajah tante Hana semakin berubah menjadi kekecewaan. Begitu pula dengan ekspresi om Gibran yang mendengarkan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Keduanya tak habis pikir mendengarkan penjelasan anak mereka itu. Tapi keduanya membiarkan Kaivan bercerita sampai tuntas.
"Sudah selesai penjelasannya?" tanya tante Hana dengan sorot mata tajam ke arah Kaivan.
"Sekarang giliran mama yang bicara ya dan kamu yang mendengarkan....... Mama salut dengan sikap kamu mau bertanggung jawab kepada Jessica. Walau kecelakaan itu bukan sepenuhnya kesalahan kamu."
"Okelah kalo dia emosi sampe gelap mata dan tidak sadar akan keselamatan dirinya sendiri.... Tapi bukankah dalam menjalin suatu hubungan selalu ada resiko. Orang menikah aja bisa bercerai koq, apalagi baru pacaran," ujar tante Hana tajam.
"Lagian pertunangan ini udah dia ketahui sebelumnya.... Bukankah dia juga harus tau konsekuensinya..... Jauh-jauh hari mama udah kamu kenalkan kepadanya tapi mengapa kemudian mama tetap menjodohkanmu dengan gadis lain. Harusnya dia paham dong kalo itu berarti mama tidak merestui hubungan kalian..... Mengapa tetap ngotot?" sesal tante Hana lagi.
"Tapi Kaivan juga ada salah di sini ma..... Jangan hanya menyudutkan Jessica.... Di awal niatan mama untuk menjodohkan aku dengan Ayana, terus terang aku waktu itu marah dan tidak mau terima. Jadi aku udah terlanjur ngomong ke Jessi akan berusaha membatalkan pertunangan ini waktu itu...." Kaivan berusaha membela Jessica.
"Ya udahlah.... Terserah kamu.... Mama capek berantem terus sama kamu.... Yang jelas pertunangan ini tidak boleh langsung dibatalkan."
"Bukankah tadi kamu bilang, kehilangan memori ini bisa jadi hanya sementara.... Begitu juga kelumpuhan itu masih harus diobservasi lagi.... Jadi status kamu sekarang tetap bertunangan dengan Ayana.... Hanya saja pernikahan kalian akan diundur sampe batas yang belum bisa ditentukan... Biar nanti waktu yang menjawab semuanya dan Tuhan yang akan menunjukkan pilihan terbaik untuk kalian....." pungkas tante Hana sambil melambaikan tangan ke arah Kaivan tanda tidak mau diprotes lagi.
__ADS_1
Kaivan menghela nafas panjang seiring berlalunya kedua orangtuanya dari hadapannya. Dia terpaksa menerima dulu semua keputusan mamanya. Bagaimana pun juga situasinya memang sangat sulit.
Ayana yang sempat menguping pembicaraan mereka dari lantai atas, bergegas masuk kembali ke kamarnya supaya tidak kepergok tante Hana yang sedang menaiki tangga. Hatinya kembali serasa ditusuk-tusuk mendengar ucapan pembelaan Kaivan terhadap Jessica tadi.
"Walau mulutmu mengucapkan kata cinta kepadaku, ternyata dalam hatimu dia masih belum sepenuhnya pergi...." keluhnya dalam hati sambil menghempas dirinya ke kasur.
Terdengar pintu kamarnya terbuka lagi. Kemudian tante Hana masuk dan duduk di sisi tempat tidurnya.
"Yang sabar ya nak..... Tante tau kamu mendengar semuanya....."
"Maafkan Kaivan yang belum bisa sepenuhnya menyadari apa yang ada di dalam hatinya...." ucap tante Hana sambil membelai lembut rambutnya.
Ayana bangkit dari tidurnya dan ikut duduk di samping tante Hana. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan tangisnya. Dan tante Hana pun memeluknya dengan erat.
"Menangislah..... Keluarkan semua supaya hatimu lega....." ujar tante Hana sambil mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Dari balik pintu kamar Ayana, Kaivan mendengarkan itu semua. Apalagi suara tangisan Ayana begitu menyayat hati membuatnya semakin merasa bersalah.
Dan dia bagaikan perahu yang sedang terombang-ambing di lautan luas. Tidak tahu kemana harus berlabuh.
******************************
Besok paginya Ayana terbangun dan merasa tidak enak badan. Menangis semalaman sungguh menguras tenaganya. Dirabanya dahi dan lehernya, terasa agak hangat. Apakah dia demam?
Gadis itu jadi malas bangun dan kembali merapatkan selimutnya menutupi dada. Tak lama dia pun kembali tertidur.
Dalam tidurnya dia bermimpi ada seseorang mengelus rambutnya. Tapi lama kelamaan rasa itu begitu nyata, bukanlah mimpi dan dia kemudian membuka matanya.
Ternyata memang ada Kaivan di sisinya, menunduk ke arahnya dan membelai rambutnya dengan lembut. Dia seketika tersentak duduk dan mundur menghindari sentuhan itu.
"Ngapain kamu di sini..... Pergilah......." usirnya sambil bergeser ke ujung lain tempat tidurnya.
"Kamu demam ya? Udah minum obat? Badanmu panas....." seakan tidak peduli diusir, Kaivan malah mendekatinya, membuatnya tidak bisa menghindar lagi.
__ADS_1
"Pergilah..... Atau aku akan berteriak.....Hhhmmpphhhh...." teriakannya tertahan karena Kaivan telah lebih dulu mendekap dan mencium bibirnya.
"Apa-apaan ini....." katanya marah dalam hati dan berusaha meronta melepaskan diri dari ciuman dan pelukan paksa Kaivan.
Tetapi Kaivan tidak mau melepaskannya. Ciumannya malah semakin dalam menuntut dan pelukannya semakin kuat. Sampai akhirnya terpaksa berhenti karena keduanya sudah kehabisan nafas.
"Kamu jahat....." isaknya mulai terdengar lagi.
"Jangan menangis Aya..... Maafkan aku..... Aku memang brengsek.... Aku memang jahat.... Tapi aku benar-benar cinta kamu...."
"Semalaman aku tidak bisa tidur, terbayang terus tangisanmu...." ucap Kaivan lirih sambil mengusap airmata yang menetes membahasi pipi Ayana.
"Kamu bilang cinta padaku tapi kamu juga berjanji tidak meninggalkan dia.... Apa sih maumu? sergah Ayana tak percaya.
"Tolonglah mengerti posisiku Aya.... Mungkin gak menurutmu aku kabur begitu aja setelah kecelakaan itu?" Kaivan berusaha membuat Ayana memahami dirinya.
"Aku ngerti.... Ngerti banget..... Yang gak aku pahami kenapa kamu tetap memaksa mencium dan memelukku...." teriak Ayana lagi.
"Pergilah.... Uruslah dia..... Buktikan janjimu bertanggung jawab pada orangtuanya.... Gak usah dekati aku lagi...." Ayana terus mendorong tubuh Kaivan menjauh darinya.
"Oke.... Oke.... Aku pergi.... Tapi kamu janji minum obat ya... Badanmu panas...." ucap Kaivan sambil berjalan mundur ke pintu.
"Itu urusanku..... Bukan urusanmu.... Pergiiiiiii....." jerit Ayana dengan marah.
Dia benci pada Kaivan. Benci melihat keegoisan cowok itu. Benci merasakan tubuhnya justru merespon dengan baik ciuman dan pelukan tadi.
KAIVAN
AYANA
__ADS_1