
Dipandangnya berulang-ulang chat dari Ayana, tapi dia tidak sanggup untuk membalasnya. Apa yang harus dia katakan sedangkan hatinya masih kacau balau begini. Akhirnya disimpannya lagi handphone itu ke saku celana.
"Pasien sudah bisa dijenguk, tapi harus bergantian satu-satu ya karena masih belum sadar dari efek anestesi operasi tadi," ujar seorang suster memberi informasi.
"Mama aja duluan.... Ayo papa antar ke depan kamarnya," kata papa Jessica sambil merengkuh bahu mama Jessica dan berjalan bersama mengikuti panduan suster menuju bangsal perawatan.
Kaivan mengikuti kedua orangtua Jessica dari belakang. Dia cukup tahu diri dengan tidak bicara apa-apa dulu kalau tidak ditanya. Biarkan saja mama dan papa Jessica agak tenang setelah melihat kondisi anaknya.
Sampai di depan kamar, mama Jessica membuka pintu perlahan dan masuk. Papanya menunggu di depan untuk bergantian menjenguk nanti.
'Maaf saya mau nanya, tadi kejadiannya seperti apa?" akhirnya papa Jessica membuka obrolan.
Sesaat Kaivan tergagap, dia bingung harus memulai cerita darimana. Apakah dia harus jujur menjelaskan pertengkaran yang terjadi di antara dia dan Jessica sebelum kecelakaan itu terjadi? Bagaimana nanti tanggapan papa Jessica mendengar penjelasannya?
"Saya........saya.... Be...begini pak, sebenarnya kami tadi sedikit ada konflik pak.... Maafkan saya yang tidak menyangka reaksi Jessica menjadi begitu marah. Dan tiba-tiba dia berlari sambil menangis meninggalkan saya dan tanpa sadar menyeberang jalan.... Kemudian terjadilah kecelakaan itu karena pada saat bersamaan muncul sebuah sepeda motor yang tidak bisa mengerem lagi.....," Kaivan berusaha menjelaskan dengan gugup.
Hatinya sungguh kecut dan takut, pasti kedua orangtua Jessica akan marah padanya. Karena secara tidak langsung dialah penyebab semua ini.
Dan ternyata papa Jessica memang marah setelah mendengarkan penjelasan dari Kaivan.
"Jadi memang gara-gara kamu ya !!!!.... Kamu tau gak kalo Jessica itu anak kami satu-satunya dan selama ini selalu kami jaga dia !!!!.... Sekarang kamu dengan seenaknya membuat dia menangis dan lalai dengan keselamatan dirinya !!!!..... Itu tandanya apa yang kamu bilang hanya sedikit konflik tadi bukanlah hal sepele. Saya tau banget anak saya, dia seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Kalo hanya masalah kecil tidak mungkin dia jadi kacau begitu !!!!..... Pasti kamu udah sangat menyakiti hatinya !!!!....." ujar papa Jessica dengan nada tinggi sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya ke arah Kaivan.
"Maafkan saya pak..... Saya betul-betul minta maaf.... Saya janji akan bertanggungjawab dengan kejadian ini..... Saya tidak akan meninggalkan Jessica pak.... Saya akan selalu mendampinginya dan tidak akan melukai hatinya lagi....." Kaivan mengatupkan kedua telapak tangannya di dada dan membungkuk ke arah papa Jessica.
__ADS_1
"Bukan saya yang seharusnya memaafkan kamu.... Tapi Jessica..... Biar nanti anak saya itu yang memutuskan apakah akan memaafkan kamu atau tidak..... Yang jelas saya sangat kecewa sama kamu !!!!..... Selama ini dari cerita Jessica dan mamanya yang saya dengar, sepertinya kamu anak baik dan kalian sudah pacaran cukup lama... Ternyata malah begini jadinya !!!!...." sergah papa Jessica lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kaivan tidak tahu harus menjawab apalagi. Dia memang menyadari bahwa semua ini terjadi karena dia. Tidak mungkin lagi membantah.
Keduanyapun kembali diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Papa Jessica duduk di bangku depan kamar perawatan Jessica sambil menunduk memegang kedua sisi kepalanya sedangkan Kaivan memilih tetap berdiri dan bersandar ke dinding rumah sakit.
Kaivan berpikir mungkin sebaiknya dia pulang ke rumah dulu. Untuk mandi dan berpamitan kepada mama dan papanya bahwa dia malam ini mau menemani Jessica yang dirawat.
"Maaf pak.... Sepertinya saya mau pulang dulu untuk memberitahu orangtua saya, tapi saya akan kembali lagi secepatnya pak....." ujar Kaivan pamit sambil cium tangan papa Jessica.
"Hhhmmmm...." papa Jessica hanya membalas dengan anggukan dan terlihat aura mukanya masih marah kepada Kaivan.
Kaivan pun berlalu, Diraihnya kembali handphone dari sakunya. Dia harus balik dulu ke kampus untuk menjemput sepeda motornya. Jadi terpaksa mencari taksi online dari aplikasi.
*************************
"Apakah Kaivan tidak apa-apa, mengapa dia tidak bisa membalas chat" tanyanya dalam hati.
Setelah dari tadi duduk di kamar dengan hati galau, akhirnya dia memilih untuk turun ke lantai bawah dan duduk di ruang keluarga. Dihidupkannya televisi tapi sebenarnya matanya tidak pernah tertuju ke layarnya.
Entah sudah berapa lama dia duduk di situ dengan pikiran yang tidak tahu kemana. Kemudian terdengar suara sepeda motor memasuki halaman rumah.
Bergegas dia berjalan ke arah pintu depan. Kaivan masuk dengan tampang kusut dan sebelah tangannya memegang helm. Cowok itu tidak bicara apapun kepada Ayana, melihat pun tidak.
__ADS_1
Dia langsung saja berjalan cepat dan menaiki tangga menuju kamarnya. Ayana tertegun, perasaannya semakin tidak enak melihat sikap diam Kaivan tadi.
"Ada apa ini?....... Mengapa dia diam saja?" pikirnya kuatir.
Tapi dia juga tidak berani untuk memaksa bertanya. Mereka baru seminggu ini dekat. Dia masih ingat sebelum pertunangan mereka, sikap Kaivan memang seperti ini. Dingin dan tidak mempedulikannya.
"Apakah dia udah berubah dan kembali seperti dulu?" dalam hati Ayana terus bertanya-tanya.
Dadanya sesak dan nyeri. Rasa sedih dan kesepian yang dulu dia rasakan setelah kepergian mama dan papa, sekarang menyeruak kembali. Sangat menyakitkan.
Padahal seminggu sebelumnya, dia merasa sangat bahagia. Walau Kaivan tentu saja tidak bisa menggantikan mama dan papa di hatinya, tetapi kehadiran dan cinta yang dia curahkan sangat membantu menerangi gelap di hatinya. Sekarang kegelapan itu pelan-pelan kembali berkuasa.
***************************
Kaivan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Matanya terpejam erat. Terbayang wajah cemas Ayana yang sempat diliriknya sekilas sebelum pura-pura acuh dan berjalan menjauh.
Dia tidak tahu harus bicara apa kepada Ayana. Kalau dia menjelaskan kronologi peristiwanya, pasti Ayana juga akan ikut-ikutan merasa bersalah. Biarlah dia saja yang menanggung semuanya. Jangan Ayana. Gadis itu sudah terlalu banyak bersedih.
Tapi sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain melukai gadis itu lagi. Bukankah dia sudah berjanji untuk mendampingi Jessica sampai kapan pun di depan papanya tadi? Tentu itu tidak dapat dia lakukan kalau dia masih bertunangan dengan Ayana. Jessica pasti tidak akan mau menerima.
Aahhh.....pusing. Lebih baik dia mandi dulu saja, mencoba mendinginkan hati dan kepalanya. Apa yang sudah terjadi tidak mungkin dihapus kembali. Dia harus bertanggungjawab atas semua ini.
Setelah mandi nanti, dia harus buru-buru ke rumah sakit lagi. Sekarang yang terpenting adalah Jessica dulu. Apakah dia sudah sadar? Apakah dia menangis lagi? Apakah gadis itu mau memaafkannya? Dan mau menerimanya kembali?
__ADS_1
Semua pertanyaannya itu tentu tidak bisa dia jawab sendiri. Tapi dia harus siap menghadapi apa pun jawabannya.