Karena Dijodohkan

Karena Dijodohkan
Bertunangan


__ADS_3

Akhirnya hari pertunangan itu pun tiba. Tante Hana dan om Gibran sudah menyebarkan undangan kepada teman-teman dan relasi bisnis terdekatnya. Memang acara ini hanyalah untuk kalangan terbatas saja. Karena nanti akan dipersiapkan secara meriah dan megah pada saat pernikahan. Untuk pertunangan hanya berfungsi mengumumkan secara resmi bahwa Kaivan dan Ayana akan segera menikah dengan persiapan pesta yang paripurna.


Sedari kemaren Ayana sudah melewati rangkaian proses perawatan kecantikan mahal di salon ternama langganan tante Hana. Mulai dari luluran, facial, creambath, spa, pokoknya betul- betul perawatan komplit luar dalam.


Sehabis subuh tadi, beberapa make up artist sudah berdatangan untuk mengubah penampilan Ayana menjadi cantik dan mewah. Gaun mahal dari tante butik juga sudah siap untuk dikenakannya.


Ayana betul-betul telah di make over menjadi putri cantik dan berkelas karena tante Ayana mau memamerkan kesempurnaan menantu kesayangannya ke semua tamu yang hadir.


Setelah selesai proses rias wajah dan memakai gaun pertunangan, Ayana dibimbing memasuki ballroom hotel yang sudah disiapkan untuk acara sakral ini.


Sebuah hotel megah sudah dibooking selama 3 hari untuk acara ini. Walau katanya pertunangan ini hanya untuk kalangan terbatas saja, tapi tetap persiapannya tidak main-main. Siapa yang tidak tahu keluarga om Gibran dan tante Hana, keduanya termasuk jajaran klan terkaya di negeri ini. Waktu Raihan dan Monica bertunangan setahun yang lalu, acaranya juga semewah ini. Tapi mereka berdua sepakat menunda pernikahan karena Monica mau tetap menyelesaikan dulu studi S2 di luar negeri.


Kaivan sudah menunggu di kursi pelaminan yang berada di atas panggung. Desain tempat acaranya tetap seperti pernikahan walaupun ini hanyalah pertunangan dulu.


Pelan-pelan Ayana berjalan menaiki panggung dibantu oleh beberapa orang asisten dari pihak EO. Dia belum terbiasa memakai sepatu high heels seperti ini. Tapi mau tidak mau dia harus bisa memakainya karena tidak mungkin gaun semewah ini, alas kakinya flat shoes kan?


Akhirnya dia bisa duduk di kursi pelaminan sebelah Kaivan. Gaunnya ditata sedemikian rupa supaya tidak rusak pada saat dia duduk. Kaivan melirik sekilas ke arahnya.


"Gilaaaa... Cantik banget sih dia, udah kayak bidadari turun ke bumi," walau enggan, dalam hati Kaivan tidak bisa memungkiri pesona Ayana yang luar biasa.


Ayana juga melirik ke arah Kaivan. Jantungnya serasa berhenti berdetak melihat sosok sempurna di sebelahnya. Mata mereka bertemu pandang sesaat. Entah mengapa waktu seakan berhenti berputar sekian detik. Menyatu dalam tatapan yang sangat dalam menembus hati masing-masing.


"Ehem ehem.... Wow ternyata pasangan kita malam ini sangat cocok dan begitu romantis ya. Duduk bersebelahan aja mereka langsung merasa dunia hanya milik berdua", dehem Raihan tersenyum simpul, mendapati keduanya saling berpandangan, seakan terhipnotis satu sama lain.

__ADS_1


Kaivan dan Ayana mendadak tersadar dan sama-sama memalingkan wajah ke arah lain saat mendengar godaan dari Raihan. Pipi Ayana yang putih langsung memerah sampai ke lehernya yang jenjang.


Tak sadar Kaivan melihat lagi ke arah gadis itu dan mendapati semburat rona merah di wajah Ayana. Pikirannya jadi terbang kemana-mana melihat pemandangan mempesona itu.


"Wajahnya aja udah seindah itu.... Apalagi bagian tubuhnya yang belum pernah gue liat, pasti bening banget ya," tak sadar Kaivan meneguk ludah membayangkan gadis di sampingnya ini dalam keadaan polos tanpa kain yang menutupi.


"Ya ampun, koq gue bisa semesum ini ya," rutuk hatinya saat menyadari pikiran kotor yang tadi terlintas, padahal empat tahun dia bersama Jessica belum pernah ada hasrat seperti itu, paling mereka pernah berciuman sekedar menempel bibir, itupun hanya beberapa kali dan masih bisa dihitung dengan jari.


Pikirannya pun kembali pada saat dia pertama kali mencium bibir Ayana, waktu itu dia merasakan dorongan yang dahsyat di dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang lebih dari hanya sekedar berciuman. Untung saja dia masih bisa menahan diri. Dan dia heran kenapa justru hanya pada gadis manja ini dia jadi tidak terkendali seperti ini.


"Gue gak boleh kayak gini.... Gue harus bisa tetap waras kalo berada di dekatnya. Bukankah seharusnya gue benci sama dia," Kaivan berusaha menumbuhkan lagi kebencian di dalam hatinya, dia tidak mau mengkhianati janjinya pada Jessica.


Untunglah pembawa acara pertunangan segera memulai bicara di atas panggung. Sehingga Kaivan dan Ayana bisa sejenak melupakan gejolak hati mereka yang entah mengapa terasa begitu menyiksa.


Masing-masing berdiri di sebelah Kaivan dan Ayana untuk membantu prosesi saling memasangkan cincin. Asisten yang berdiri di sebelah Kaivan menyodorkan kotak cincin yang sudah terbuka itu dan Kaivan mengambilnya kemudian meraih lembut jemari Ayana untuk memasangkan bukti ikatan mereka. Selanjutnya Ayana juga memasangkan cincin di jari manis Kaivan.



Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan ballroom tersebut. Semua yang hadir mengagumi keserasian kedua insan yang bersanding di panggung dan telah resmi mengikatkan diri dalam suatu ikatan pertunangan. Sang pembawa acara juga membacakan pengumuman bahwa pernikahan keduanya akan segera dilaksanakan secara megah dan meriah.


Tanpa sadar sejak mereka bertukar cincin, tangan Kaivan tidak melepaskan genggamannya pada Ayana. Entah apa dorongan di hatinya sampai dia melakukan itu. Tidak bisa dicegah ada secercah rasa bahagia yang menyelusup di dadanya. Rasanya belum pernah dia rasakan senyaman ini.


Sekali lagi diliriknya wajah cantik yang begitu bersinar di sebelahnya. Kalau tidak sadar akan situasi ramai di sekeliling mereka, sudah dari tadi dia ingin merengkuh tubuh itu dan menikmati lagi bibirnya yang manis bagaikan candu memabukkan bagi dirinya.

__ADS_1


"Mengapa pikiran gue jadi segila ini ya," dengus Kaivan dalam hati berusaha keras menepis keinginan yang menggebu di kepalanya.


Akhirnya acara pertunangan tersebut usai sudah. Keduanya dipersilakan menuruni panggung dan beristirahat di kamar masing-masing di hotel tersebut. Sementara om Gibran, tante Hana dan para panitia masih lanjut berdiskusi untuk menentukan tanggal baik dan bulan baik untuk pernikahan Kaivan dan Ayana.


Ayana dibantu oleh dua orang asisten tante butik melangkah menuju kamarnya. Kemudian wajahnya kembali dibersihkan dari make up yang masih tersisa. Gaun mewah yang dia pakai pun sudah dilepaskan dan digantung di dalam lemari kamar hotel. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan sebelum tidur.


Setengah jam berendam air hangat sudah bisa menghilangkan penat tubuhnya. Ayana beranjak keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe dan melilitkan handuk putih di kepala.


Alangkah terkejutnya dia sewaktu melihat Kaivan sudah duduk di pinggir tempat tidurnya. Masih memakai kemeja putih tanpa jas yang beberapa kancing atasnya sudah terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang sungguh mempesona.


Hampir saja dia mundur lagi masuk ke kamar mandi sebelum akhirnya memberanikan diri berjalan ke arah Kaivan. Sambil berusaha menutupi gerak geriknya yang salah tingkah dalam tatapan tajam Kaivan, dia melangkah ke arah lemari untuk mengambil gaun tidur satin yang sudah disiapkan tante Hana untuknya.


"Ngapain kamu di sini? Keluarlah aku mau ganti baju," lirih suara Ayana berusaha mengatasi gemetarnya.


"Kenapa tidak boleh? Kita kan udah bertunangan, malah sebentar lagi akan menikah," bisik Kaivan bangkit dari duduknya dan semakin mendekati Ayana.


Spontan gadis itu mundur dan berusaha menjauh, tapi tubuhnya sudah tersudut di pintu lemari. Kaivan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan meraih tubuh Ayana merapat padanya. Dengan sia-sia tangan Ayana berusaha mendorong dada Kaivan tapi tenaga cowok itu lebih kuat merengkuhnya.


Dalam sekejap bibir mereka bertemu lagi, awalnya hanya menempel tapi kemudian bertautan semakin dalam. Kaivan ingin menuntaskan hasrat yang sedari tadi tertahan sampai keduanya kehabisan nafas dan akhirnya saling berpandangan.


"Mengapa kamu jadi begini? Bukankah kamu membenciku dan lebih memilih pacarmu itu? Tolong jangan seperti ini...,' keluh Ayana terengah sambil menatap manik mata kelam Kaivan dan berusaha mencari makna di dalamnya. Dia tidak bisa memahami mengapa Kaivan yang dulu bilang benci padanya bisa menciuminya seperti itu. Apakah itu hanya nafsu?


Kaivan balas menatap mata Ayana yang berkaca-kaca. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Mengapa dia mulai merasa seperti ditarik magnet ke arah Ayana. Tanpa kuasa melawannya.

__ADS_1


Direngkuhnya tubuh mungil itu ke dadanya tanpa berkata apa-apa. Isakan lirih tangis Ayana membasahi dirinya. Perlahan diciumnya pucuk rambut gadis itu dengan lembut. Betapa ingin sekali dia bisa mengendalikan waktu, agar bisa berhenti membeku saat ini juga. Hingga hanya mereka berdua yang tersisa.


__ADS_2