
Dokter yang memeriksa Jessica sudah selesai melakukan tugasnya. Dia kemudian mengajak kedua orang tua gadis itu untuk berbicara di ruangannya.
"Pasien sepertinya kehilangan memori jangka pendeknya untuk sementara. Jadi mungkin ada sebuah atau beberapa peristiwa yang terjadi sebelum kecelakaan yang sangat mengejutkan atau menyakitkan bagi pasien. Sehingga secara tidak sadar alam bawah sadarnya berusaha untuk menghapus memori itu terpicu benturan keras di kepalanya," jelas sang dokter panjang lebar kepada mama dan papa Jessica.
Kedua orangtua itu saling berpandangan dan mengangguk-angguk. Mereka tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu. Berarti Jessica memang tidak bisa menerima semua perkataan Kaivan sebelum kecelakaan terjadi makanya memori itulah yang berusaha dilupakannya sekarang.
"Dan kehilangan memori jangka pendek ini mungkin tidak berlangsung selamanya ya bapak dan ibu. Bisa saja suatu saat akan kembali lagi. Makanya kita tetap harus memantau pasien secara berkala," tambah sang dokter lagi.
"Oooh begitu ya dok.... Tapi kehilangan memori ini tidak akan berakibat kepada kesembuhan putri kami secara fisik kan dok?" tanya mama Jessica.
"Kalau kesembuhan fisiknya yang harus kita cermati adalah kedua kakinya ya bu.... Karena sekarang ini ada kemungkinan akan lumpuh sementara disebabkan beberapa bagian kaki yang cukup parah frakturnya sehingga harus diterapi secara intensif dulu. Baru nanti kita lihat bagaimana perkembangannya ya, apakah si pasien bisa cepat berjalan kembali," sambung sang dokter kembali.
"Baiklah dokter, kami akan mengikuti semua saran dokter. Semoga anak kami bisa pulih kembali kondisinya," ujar papa Jessica sambil menyalami sang dokter dan bangkit dari duduknya.
Mama Jessica kemudian gantian bersalaman.
"Terima kasih banyak ya dok," ujarnya sambil sedikit membungkukkan badan tanda penghormatan.
Mereka pun keluar dari ruangan dokter yang merawat Jessica.
"Kita harus memberitahukan apa yang dikatakan dokter tadi kepada Kaivan. Dia jangan dulu mengungkit-ungkit perkataannya sebelum kecelakaan itu kepada Jessica. Takutnya anak kita nanti jadi histeris dan makin lama sembuhnya," ucap papa Kaivan kepada istrinya.
"Iya betul pa.... Kita panggil dulu Kaivan dan bicara padanya," sahut mama Jessica.
*******************************
__ADS_1
Kaivan diam mendengarkan penjelasan dari mama dan papa Jessica. Apa saja yang tadi mereka dengar dari dokter sudah disampaikan semuanya kepadanya. Banyak pikiran berkecamuk di kepalanya. Akhirnya dia mengambil keputusan.
"Baiklah om dan tante..... Sebetulnya saya juga udah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak meninggalkan Jessica menghadapi semua ini."
"Apalagi ternyata dia sekarang kehilangan memori atas apa yang terjadi sebelum kecelakaan. Saya janji tidak akan mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Dan saya juga berjanji tidak akan meninggalkan Jessica lagi," kata Kaivan bersungguh-sungguh.
Dia sudah membulatkan tekadnya. Sepulang dari rumah sakit ini dia akan bicara pada Ayana dan berharap gadis itu mau mengerti kondisinya. Kemudian dia juga harus berbicara kepada kedua orangtuanya bahwa pertunangan antara dia dan Ayana tidak dapat diteruskan karena dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan Jessica. Itu keputusannya yang sudah tidak bisa ditawar lagi.
"Kalau gitu, saya pamit pulang dulu om dan tante, nanti malam saya akan balik lagi untuk jagain Jessica," ujar Kaivan sambil bangkit dari duduknya. Dia bergantian cium tangan mama dan papa Jessica sebelum beranjak pulang.
Sambil berjalan ke parkiran, pikirannya penuh dengan kata-kata yang akan diucapkannya kepada Ayana. Hatinya kembali terasa nyeri membayangkan reaksi gadis itu nanti. Tetapi dia tidak punya pilihan lain.
*****************************
Sabtu dan Minggu memang tidak ada perkuliahan. Jadi Ayana hanya berdiam diri di kamarnya. Sedari pagi gadis itu merasakan kegelisahan dalam hatinya. Masih terbayang semalam sikap Kaivan yang tidak mempedulikannya. Malah bergegas pergi lagi ke rumah sakit.
Rasanya untuk sarapan pun tidak berselera. Dia hanya sendirian di rumah, tentu saja selain para asisten rumah tangga. Tante Hana dan Om Gibran katanya baru hari ini pulang dari luar kota.
Tok tok tok....
Terdengar pintu kamarnya diketok perlahan. Bergegas dia berjalan dan membukanya, mendapati Kaivan yang berdiri di depannya.
"Aku boleh masuk? Kita harus bicara," ucap Kaivan sambil menatap lekat kedua mata Ayana.
"Yaa... Boleeehh...,"sahut Ayana gugup sambil mundur beberapa langkah membiarkan Kaivan berjalan ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Kaivan duduk di pinggir tempat tidur kemudian menepuk-nepuk kasur di kanannya sebagai isyarat agar Ayana duduk di situ. Ayana menurut dan duduk dalam diam.
"Kemaren aku udah bicara dengan Jessica mengenai keputusanku untuk berpisah dengannya karena kita udah bertunangan dan akan menikah. Tetapi ternyata reaksinya sungguh di luar dugaanku, dia sangat histeris dan tidak terima dengan semua itu. Tiba-tiba saja dia berlari meninggalkanku dan menyebrangi jalan sehingga terjadilah kecelakaan itu...." jelas Kaivan lirih dengan suara penuh penyesalan.
"Aku tidak menyangka semua itu terjadi..... Aku benar-benar shock saat melihat tubuhnya terkapar berlumuran darah di jalan...." Kaivan mulai terisak dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kedua bahunya naik turun menahan isakan tangisnya. Ayana hanya bisa terdiam, tidak tahu mesti berbuat apa.
"Ternyata akibat kecelakaan itu, memori jangka pendek Jessi hilang, jadi dia sama sekali tidak ingat dengan apa yang kami pertengkarkan sebelumnya. Yang dia ingat hanyalah aku masih kekasihnya dan hubungan kami baik-baik aja. Jadi orang tua Jessica memohon padaku supaya tetap bersikap biasa tanpa pernah mengungkit-ungkit itu lagi. Dan yang terparah adalah kedua kaki Jessi akan lumpuh...." kembali isakan tangis Kaivan terdengar jelas.
"Aku udah janji sama mama dan papa Jessica, kalo aku gak akan ninggalin dia.... Tetap menemaninya....."
"Brarti pertunangan kita juga terpaksa harus kita batalkan...."
Bagaikan petir di siang bolong, Ayana sangat terkejut mendengarkan kalimat terakhir keluar dari mulut Kaivan. Walau diucapkan dengan perlahan tapi efeknya menghujam tepat di jantungnya. Memberikan rasa nyeri yang sangat di dadanya.
Ayana tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya diam terpaku. Matanya nanar tapi kosong. Di dalam pikirannya berkelebat kenangan apa yang mereka lakukan seminggu lalu. Semua kenangan manis itu.....
Tak sadar tetes demi tetes airmatanya bergulir membasahi pipi. Dia tidak menyangka harapannya telah sirna dalam sekejap mata.
Kaivan memeluknya, mendekapnya erat. Tapi tubuhnya seakan membeku, kehilangan rasa. Dia sama sekali tidak membalas pelukan itu. Tangannya menekuk di depan dada dan kemudian reflek mendorong tubuh Kaivan menjauh.
"Pergilah.... Jessica memang lebih pantas untukmu.... Aku yang salah udah merebutmu dari dia...."
"Tolong tinggalkan aku.... Aku pengen sendirian...." ujarnya berpaling dari Kaivan, menahan isak tangisnya.
__ADS_1
Hening beberapa saat. Kemudian Kaivan berdiri dan berjalan ke arah pintu. Tak lama terdengar suara pintu menutup kembali.