
Lama setelah dia keluar dari kamar Ayana, Kaivan masih belum bisa memejamkan matanya. Masih terbayang pertanyaan gadis itu, mengapa dia malah semakin mendekatinya, bukan lagi membencinya seperti dulu.
Dan kehangatan tubuh gadis yang menangis dalam pelukannya tadi seperti tidak mau pergi. Memberikan kenyamanan luar biasa yang belum pernah dia rasakan bahkan saat memeluk Jessica sekalipun.
Rasanya enggan untuk melepaskannya tadi. Walau akhirnya pikiran warasnya bisa menguasai tubuhnya untuk beranjak keluar dari kamar Ayana.
Huffftttt......
Kaivan menghembuskan nafas panjang. Dadanya terasa sesak. Sungguh ingin dia menemui Ayana lagi dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Dan bahwa dia sama sekali tidak bermaksud membuat gadis itu bersedih dan menangis seperti tadi.
"Jangan-jangan Ayana masih menangis terus dan tidak bisa tidur seperti dia sekarang."
Tak bisa tidur tenang dengan pikirannya yang gundah, akhirnya Kaivan mengikuti kata hatinya keluar kamar dan melangkah mendekati kamar Ayana.
Pelan dibukanya pintu kamar gadis itu. Cahaya yang temaram dari lampu tidur memperlihatkan siluet tubuh Ayana meringkuk di kasurnya.
Dengan berhati-hati dia berjalan semakin dekat kemudian berlutut di pinggir tempat tidur gadis itu. Masih terdengar isakan sekali-sekali di dalam tidur Ayana. Di pipinya pun masih terlihat bekas aliran airmata yang belum mengering. Wajahnya sembab dengan anak-anak rambut yang jatuh menutupi.
Perlahan disibakkannya rambut Ayana dan diselipkan di telinga. Ditatapnya wajah mungil dihadapannya. Kembali muncul rasa tadi, rasa yang dia tidak tahu itu apa. Begitu kuat menguasai hatinya.
Apakah ini memang hanya nafsu? Tapi mengapa dia merasa ikut sakit saat gadis itu menangis. Tapi kalau memang ini adalah rasa cinta, mengapa beda dengan apa yang dia rasakan kepada Jessica?
Rasa yang ini jauh lebih kompleks. Begitu penuh warna yang tidak bisa dia uraikan satu per satu. Dan kenyamanan yang ditimbulkannya pun begitu dalam, seperti candu yang membius hatinya. Membuatnya tidak bisa berpaling lagi.
__ADS_1
Kemana rasa benci yang di awal dulu dia rasakan? Kemana rasa marah yang muncul saat tiba-tiba dijodohkan dengan seseorang yang tidak pernah dikenalnya? Mengapa setelah semakin sering bertemu dengan Ayana, itu semua seakan menguap hilang tanpa bekas?
Rasa sayangnya pada Jessica masih bisa dia rasakan tapi sebagian besar hatinya sekarang telah terisi rasa lain yang lebih dalam. Apa yang dimiliki gadis ini sampai bisa membuatnya jadi aneh begini?
Kelopak mata Ayana perlahan terbuka. Gadis itu kaget melihat Kaivan berlutut di sisi tempat tidurnya.
Sssttt....
Kaivan meletakkan satu telunjuknya di bibir Ayana supaya gadis itu tidak bersuara. Matanya tidak lepas memandangi wajah yang tetap cantik walau habis menangis. Mereka bertatapan kembali cukup lama, sama-sama terhanyut dalam perasaan masing-masing.
Kemudian dengan lembut ditundukkannya kepala untuk kembali mendaratkan kecupan di bibir merekah yang sangat menggoda itu. Disesapnya rasa manis yang memabukkan hatinya. Kecupan itu menjadi semakin dalam dan menuntut lebih. Apalagi dia tidak merasakan lagi penolakan dari Ayana seperti sebelumnya. Bahkan gadis itu juga mulai berani memberikan respon yang sama hangatnya.
Lama mereka berciuman sampai akhirnya melepaskan diri dengan terengah kehabisan nafas. Dada keduanya bergemuruh tidak beraturan. Lalu kembali saling menatap dalam diam.
Tangan Kaivan mengusap lembut rambut Ayana. Tanpa memerlukan kata-kata, mereka bisa merasakan hati keduanya yang sudah saling bertaut erat. Tetapi sedalam apa pun rasa itu masih menyisakan kegamangan yang menganga karena ada seorang Jessica di antara mereka.
Seminggu setelah acara pertunangan, keduanya kembali masuk kuliah. Seperti biasa Kaivan tetap menurunkan Ayana di belakang kampus.
"Maaf aku gak bisa memboncengmu sampai kampus. Kan aku masih berstatus pacar Jessica di mata mereka. Sabar ya, nanti aku akan berusaha cari kesempatan untuk ngomong sama Jessica," ucap Kaivan sambil memegang lembut jemari Ayana.
Sungguh enggan dia melepaskan gadis itu sendirian. Setelah ciuman yang panas di malam pertunangan mereka, hubungan keduanya semakin dekat. Sebutan elo gue yang dulu dia selalu gunakan sudah berubah jadi aku dan kamu. Dan seminggu ini mereka habiskan berdua seperti sepasang merpati yang tidak bisa dipisahkan lagi.
"Gak apa-apa koq," jawab Ayana.
__ADS_1
"Aku sebenarnya gak mau Jessica terluka karena kita," lanjutnya lagi sambil meringis.
Bagaimanapun juga dia merasa bersalah pada Jessica. Tetapi rasa cinta yang muncul di antara mereka juga di luar kuasanya.
Sekuat apapun mereka berusaha menghindari, tetapi kenyataan malah membuat mereka semakin dekat dari hari ke hari. Apalagi memang ikatan pertunangan sudah resmi terjalin. Tinggal menunggu tanggal baik bulan baik untuk menikah yang sedang dirundingkan keluarga.
Kaivan tersenyum, diacak-acaknya dengan lembut pucuk kepala Ayana.
"Aku cinta banget sama kamu, melihatmu bahagia itu prioritasku sekarang. Aku harus bisa membuat Jessica mengerti. Doakan ya sayang," diraihnya jemari gadis itu dan mengecupnya lembut.
"Udah iihhh.... Ntar ada yang liat lagi," pipi Ayana merona merah. Kadang dia masih malu dengan perlakuan mesra Kaivan padanya.
"Hahahaha.... Bener juga.... Aku jalan dulu ya, makin lama sama kamu bikin aku gak bisa pergi nanti," walau enggan akhirnya Kaivan memacu sepeda motornya menjauh dari Ayana.
Ayana berjalan pelan menuju kampus. Bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyum. Terbayang lagi semua perlakuan manis Kaivan padanya seminggu ini.
Ciuman dan pelukan seakan sudah menjadi bagian dari kedekatan mereka. Bahkan sebelum matanya terpejam tiap malam, Kaivan tidak mau beranjak dari kamarnya. Sampai pemuda itu bilang bahwa dia sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan mereka.
"Supaya bisa memilikimu seutuhnya," bisik Kaivan mesra di telinganya malam itu. Kalau tidak ingat bahwa mereka belum menikah mungkin mereka sudah tidak bisa menahannya lagi.
Semua kesedihannya setelah ditinggal mama dan papa seakan sudah mulai terobati sekarang sejak Kaivan selalu mencurahkan cintanya setiap hari. Padahal sebelumnya dia selalu merasa sepi dan sendiri di awal kepindahannya ke rumah tante Hana. Siapa yang menyangka sikap Kaivan yang dulu begitu membenci dan marah padanya, menjadi berubah penuh kemesraan.
Hatinya semakin berbunga-bunga. Cinta pertama kini hadir dalam genggaman. Sesosok pangeran tampan rupawan yang sangat mempesona jadi miliknya. Tak pernah dia bermimpi bisa mendapatkan kebahagiaan sesempurna ini.
__ADS_1
Tanpa mereka sadar, sedari tadi ada sepasang mata menatap dengan penuh kebencian dan kemarahan. Mulai dari saat Ayana turun dari sepeda motor Kaivan sampai berjalan menuju kampus, mata itu tak lepas memandang adegan demi adegan yang membuatnya cemburu habis-habisan.
"Ternyata inilah penyebabnya mengapa seminggu ini Kaivan selalu menghindar tiap diajak ketemuan, malah ada beberapa kali panggilan masuknya di-reject dengan alasan abis batere-lah, lagi nyetir-lah, ada aja alasannya," si pemilik sepasang mata itu sangat geram dalam hati.