Karena Dijodohkan

Karena Dijodohkan
Pergi Berdua


__ADS_3

Perkuliahan Ayana baru akan dimulai sebulan lagi. Jadi selama itu dia berusaha mencari kesibukan dengan menggambar dan mendisain sesuai dengan hobi dan bakatnya. Karena terlalu asyik menggambar, Ayana tidak menyadari tante Hana sudah masuk ke kamarnya dan ikut melihat hasil karyanya.


"Wah, ternyata kamu betul-betul berbakat ya nak," puji tante Hana dengan kagum.


"Biasa aja koq tante, cuma oret-oret aja," tersipu malu Ayana saat menyadari tante Hana ikut melihat oretannya.


"Kamu gak pernah coba gambar secara digital gitu nak?"


"Blom pernah tante, sebenarnya kepingin sih tapi peralatannya kan mahal-mahal. Jadi Ayana cuma bisa gambar di buku sketsa aja," jelas Ayana.


"Wah gampanglah kalo soal peralatan menggambar digital. Sebentar ya tante akan suruh Kaivan temani kamu belanja semua keperluan gambar kamu. Kan nanti kalo kuliah dimulai pasti perlu alat-alat itu," ujar tante Hana sambil berjalan keluar kamar Ayana.


"Aduh tante, gak usah deh, Ayana jadi gak enak, semua pasti mahal harganya.... Lagian kalo ditemani Kaivan, ntar malah ngerepotin dia," tolak Ayana sambil bangkit dari duduknya dan berusaha mencegah tante Hana.


Tante Hana berbalik badan dan berhadapan dengan Ayana. Sambil menghela nafas panjang, dia berkata," Ayana, tante kan udah pernah bilang, kamu itu sekarang sepenuhnya tanggung jawab tante Hana dan om Gibran. Jadi apapun kebutuhan kamu udah kewajiban kami untuk memenuhinya. Apalagi ini untuk keperluan kuliah. Kamu gak usah sungkan, tante sudah anggap kamu seperti anak tante sendiri."


Ayana akhirnya mengangguk, dia juga tidak enak menolak kebaikan tante Hana. Setelah menepuk-nepuk bahu Ayana, tante Hana berlalu keluar kamar.


Setengah jam kemudian..........


Tok tok tok.....


Pintu kamarnya diketok seseorang, Ayana pun bangkit membuka pintu. Dia langsung berhadapan dengan wajah Kaivan yang dingin dan matanya yang tajam.


"Koq elo belom siap-siap? Kata mama minta dianterin belanja keperluan kuliah," tegur Kaivan dengan nada ketus.


"Ma...ma...maaf, aku gak tau kalo perginya sekarang juga. Aku siap-siap dulu sebentar," jawab Ayana terbata-bata karena takut.

__ADS_1


Tanpa menjawab Kaivan pergi menjauh dan Ayana kembali menutup pintu. Dia bersandar di pintu sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang ketakutan. Kemudian bergegas ganti baju karena cemas kalau terlalu lama, Kaivan akan makin marah.


Bergegas pula dia turun ke lantai bawah dan melihat cowok itu sudah duduk menunggunya dengan ekspresi tidak sabar.



Ayana seperti merasa jantungnya berhenti berdetak lagi saat matanya bertemu dengan mata elang Kaivan.


"Lama-lama aku bisa mati berdiri kalo ketemu makhluk ini setiap hari," keluh Ayana dalam hati.


"Berapa lama elo mau bengong di situ hah," sergah Kaivan sambil bangkit mendadak dari duduknya.


Tanpa menunggu Ayana, dia sudah keluar menuju mobil. Dan Ayana terpaksa berlari-lari kecil mengikutinya.



Tapi Ayana justru salah sangka berfikir Kaivan mau berbuat tidak sopan kepadanya dan karena kaget dia spontan berteriak. Kaivan reflek menutup mulut Ayana dengan telapak tangannya. Posisi mereka sangat berdekatan.


Selama beberapa saat mata mereka saling terpaut satu sama lain. Ayana merasa waktu berhenti berjalan, matanya tidak bisa lepas dari mata tajam Kaivan yang hanya berjarak beberapa centimeter darinya. Dia tidak bisa berpikir, otaknya seakan-akan kosong bahkan bernafas pun dia seperti lupa.


"Ngapain elo teriak-teriak di kuping gue.... Bikin budeg aja tau gak... Makanya pikiran lo jangan kotor, gue cuma mau bantuin pasang seatbelt lo yang macet," desis Kaivan dengan sinis.


"Maaf aku kaget aja, bukan berpikiran aneh-aneh," sahut Ayana pelan berusaha membela diri.


Sambil mendengus kesal, Kaivan menyelesaikan gerakannya memasang seatbelt Ayana, kemudian berkonsentrasi mengemudikan mobil meninggalkan halaman rumah. Matanya yang tajam fokus pada jalanan di depannya.


__ADS_1


Ayana memejamkan matanya sejenak, berusaha keras meredakan degup jantungnya yang berpacu. Mengapa dia harus selalu berurusan dengan cowok ini, keluhnya dalam hati. Entah dari apa makhluk ini terbuat, sehingga sikapnya begitu dingin dan kasar. Apakah dari lahir dia sudah seperti itu?


Aah mengapa juga aku harus repot-repot memikirkan dia, sedangkan dia saja sepertinya tidak suka dengan kehadiranku di keluarganya, batin Ayana berkata lagi. Sambil tetap memandang ke arah jendela mobil di sebelahnya.


Tak terasa mereka sudah sampai di supermarket besar yang menjual berbagai peralatan elektronik. Kaivan keluar begitu saja dari mobil tanpa ada niat membantu Ayana membuka pintu mobilnya. Dengan muka cemberut Ayana kemudian berjalan mengikutinya.


*Buruan elo belanja apa yang elo perlukan," ucap Kaivan saat Ayana akhirnya berhasil berjalan sejajar dengannya.


"Tapi aku gak tau mau beli apa aja," sahut Ayana bingung.


"Elo ini ya, sepertinya hobi menyusahkan orang. Kalo elo gak tau mau beli apa ngapain ngomong ke mama nyuruh gue temenin elo belanja?" Kaivan memandang Ayana dengan kesal.


"Aku tadi juga gak mau tapi tante Hana yang maksa," suara Ayana sudah mulai tercekat menahan isak tangisnya.


Dia benar-benar bingung dan takut harus bersikap bagaimana terhadap Kaivan. Karena cowok itu terus-terusan menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Ayana. Sedangkan Ayana juga tidak tahu kenapa Kaivan seperti itu.


"Aku boleh nanya gak? Kenapa sih kamu kayaknya benci banget sama aku," ucap Ayana sambil menoleh ke arah Kaivan dengan mata yang mulai berkabut.


"Nanti elo bakal tau sendiri, kenapa gue benci ama elo," jawab Kaivan sambil mempercepat langkahnya meninggalkan Ayana.


Sesungguhnya dalam hati Kaivan juga agak tidak tega melihat mata Ayana yang berkaca-kaca. Tapi keegoisannya mengalahkan rasa iba itu. Gara-gara elo gue disuruh putus sama pacar gue, geram Kaivan dalam hati.


"Buruan aja deh, gak usah drama gitu pake nangis segala.... Sini biar gue yang pilihkan peralatan yang cocok dengan jurusan kuliah elo," ujar Kaivan dan mulai memilih-milih apa saja yang dibutuhkan untuk perlengkapan kuliah Ayana.


Ayana mengusap kasar matanya. Tidak seharusnya dia meneteskan airmata untuk orang yang membencinya. Tinggal sebatang kara di dunia ini, seharusnya dia bisa belajar untuk kuat dan tidak cengeng. Karena tidak ada lagi mama dan papa tempat dia mengadu. Yang selalu membelanya.


Lagian dia juga tidak merasa punya salah apa-apa terhadap Kaivan. Bukankah mereka baru kenal sebulan ini. Mungkin memang sudah dari dulu sifat Kaivan dingin dan kasar seperti itu. Jadi seharusnya dia tidak boleh baper dan harus belajar untuk kebal dengan sifat Kaivan.

__ADS_1


__ADS_2