Karena Dijodohkan

Karena Dijodohkan
Penyesalan Selalu Datang Terlambat


__ADS_3

Bau rumah sakit menyeruak saat Kaivan bergegas mengikuti brankar yang membawa tubuh Jessica setelah turun dari ambulan. Kaivan masih sangat shock mengingat kejadian yang sangat cepat terjadi di depannya tadi.


Jessica yang tiba-tiba saja berlari menyeberangi jalan saat sebuah sepeda motor melaju kencang tidak bisa lagi menghindari gadis itu. Tubuhnya terhempas keras ke aspal dan berguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti bergerak. Untung saja ke arah pinggir jalan sehingga tidak terlindas kendaraan lain.


Kaivan sangat kaget dan berlari kencang menghampiri. Meraih tubuh yang berlumuran darah tersebut. Orang-orang ramai datang mengerumuni.


"Cepat telpon ambulan !!!" teriak seseorang.


"Jangan dipindahkan dulu...."


"Ya Tuhan....."


"Aduh koq bisa ketabrak?"


"Yang bawa motor dibantuin juga tuh...."


Semua suara-suara itu seakan berdengung bagaikan lebah di telinga Kaivan. Pikirannya tiba-tiba buntu. Matanya nanar tak lepas memandang wajah Jessica yang pias. Darah membasahi sekujur tubuh gadis itu. Dia tidak tahu harus bagaimana.


Tak lama kemudian sebuah ambulan datang dan beberapa petugasnya turun bergegas mengambil alih sang korban. Polisi juga sudah datang untuk memetakan lokasi kecelakaan.


Kaivan ikut naik ke dalam ambulan yang membawa Jessica. Digenggamnya tangan gadis itu. Airmata mulai turun membasahi pipinya. Hatinya menyesali mengapa ini semua bisa terjadi. Seandainya saja mereka tidak bertengkar hebat seperti ini. Seandainya saja dia bisa setia dan tidak mengingkari janji. Seandainya.... Begitu banyak seandainya yang berkelebat di kepalanya.


Memori empat tahun bersama Jessica seakan diputar kembali di kepalanya. Saat mereka bersahabat akrab saat SMA dan kemudian rasa itu tumbuh jadi cinta. Jessica yang selalu ceria dan mandiri, membuatnya terpesona. Hari-hari penuh kasih sayang yang mereka lalui selama ini begitu indah. Walau kadang ada pertengkaran di antara mereka tapi itu hanya bumbu dalam sebuah hubungan. Janji manis yang dia ucapkan pada gadis itu untuk tetap setia. Dan angan-angan keduanya untuk menikah nanti selalu mereka bahas sambil tertawa.


Tapi itu semua perlahan-lahan terkikis saat dia mengenal Ayana, entah mengapa hatinya bisa berubah, dia juga tidak mengerti alasannya. Ternyata dia bukan pasangan yang setia. Ternyata dia mengingkari janji yang dia ucapkan sendiri. Ternyata dia yang membuyarkan impian indah mereka. Ternyata dia yang merusak segalanya.


Sangat wajar kalau Jessica marah dan tidak bisa menerima. Dia saja yang terlampau egois ingin memaksa gadis itu mau memahami situasinya. Padahal jelas-jelas Jessica yang paling menderita karena ini. Hatinya patah. Harapannya sirna. Kekasih yang selama ini selalu ada, tega memutus tali cinta yang sudah lama terjalin. Dan mengganti genggaman tangannya kepada gadis lain. Wanita mana yang tidak terluka.


Kaivan sungguh-sungguh menyesali semuanya. Kalau bisa dia ingin menggantikan posisi Jessica saat ini. Harusnya dia yang dihukum Tuhan, bukan Jessica. Harusnya dia yang merasakan kesakitan ini, bukan Jessica. Bukankah gadis ini sudah sangat menderita dan sekarang ditambah lagi dengan kecelakaan yang menimpanya?

__ADS_1


"Mengapa tidak aku saja Tuhan...." jerit Kaivan dalam hati.


"Maaf anda harus menunggu di luar, pasien membutuhkan penanganan secepatnya," kata seorang suster padanya sambil menutup pintu ruangan Unit Gawat Darurat di depannya.


Kaivan berusaha berdiri tapi dirinya merosot lemas ke lantai. Lututnya seakan-akan tidak kuat menopang tubuhnya. Dadanya semakin sesak dengan penyesalan. Gara-gara dia Jessica seperti ini.


"Ya Tuhan, selamatkanlah dia. Aku berjanji tidak akan meninggalkannya," pintanya putus asa.


Diraihnya handphone dari saku celananya. Diketiknya sebuah kalimat," Jessica kecelakaan karena aku," dan pesan itupun terkirim ke Ayana.


Kemudian dicarinya nomor handphone mama Jessica dan mulai menelpon mengabarkan kepada keluarga gadis itu sambil terisak. Setelah itu dia tidak lagi memperhatikan kondisi sekitar. Pikirannya benar-benar kosong. Peristiwa ini sangat mengguncangkan jiwanya.


Entah berapa saat waktu berlalu, terdengar langkah kaki berlarian mendekatinya.


"Bagaimana kondisi Jessica?" tanya mama Jessica yang panik menyadarkan dirinya kembali.


Tak lama pintu ruangan Unit Gawat Darurat terbuka lagi. Seorang suster keluar.


"Yang mana keluarga nona Jessica?" tanyanya.


"Saya mamanya suster......" mama Jessica mendekati suster itu.


"Maaf ibu, bisa bantu tanda tangan di surat pernyataan operasi ini? Kami harus segera melakukan tindakan sekarang juga," jelas suster sambil menyodorkan secarik kertas dan pulpen.


Mama Jessica bergegas menandatanganinya. Dan menyerahkannya kembali.


"Tolong anak saya suster.... Tolong selamatkan dia," tangis mama Jessica memohon.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin ya ibu...." kemudian suster itu berlalu cepat kembali menutup pintu ruangan.

__ADS_1


Mama Jessica masih menangis terisak. Kemudian datang bergegas seorang bapak yang ternyata adalah papa Jessica yang langsung menghampiri dan memeluk istrinya.


"Bagaimana anak kita ma?" tanyanya.


"Mau dioperasi pa.... Mama takut pa," isak tangis mama Jessica makin kencang.


"Sabar ma.... Kita tunggu aja..... Semoga anak kita gak apa-apa," hibur papa Jessica untuk menenangkan istrinya.


Laki-laki itu melirik sekilas ke arah Kaivan tapi tidak menegur. Dia tahu bahwa pemuda ini adalah pacar anaknya walau mereka belum pernah saling bertemu karena kesibukannya bekerja.


Papa Jessica bukan orang yang banyak bicara. Jadi dia juga tidak berminat untuk bertanya-tanya kepada Kaivan. Biarlah nanti istrinya yang menjelaskannya padanya setelah tenang. Lagi pula bagaimana kronologi kejadian itu sudah tidak penting lagi baginya sekarang, yang paling dia harapkan adalah anak mereka satu-satunya selamat. Itu saja.


Suasana menjadi sangat hening sekian lama. Sampai akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan.


"Keluarganya Jessica?...." tanyanya ke arah mama dan papa Jessica.


"Ya betul dokter....," keduanya bergegas menghampiri.


"Nona Jessica sudah melewati masa kritisnya. Sekarang dia masih di ruangan pemulihan sebelum nanti dipindahkan ke kamar perawatan. Secara umum kondisinya cukup stabil, cuma mungkin kedua kakinya akan sulit dibawa beraktivitas untuk sementara waktu. Dan hempasan di kepalanya juga masih harus diobservasi lebih lanjut setelah dia sadar nanti," jelas dokter panjang lebar mengenai kondisi Jessica.


"Kami sangat berterima kasih dokter.... Terima kasih sudah menyelamatkan anak kami...." ujar mama Jessica sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di dada.


"Iya dokter terima kasih banyak atas bantuannya...." papa Jessica juga spontan menyalami sang dokter.


Dokter itu mengangguk-angguk tersenyum dan menepuk bahu papa Jessica sekilas sebelum beranjak lagi ke dalam ruangan Unit Gawat Darurat. Dia juga memberitahu bahwa Jessica boleh dijenguk nanti setelah bisa dipindahkan ke kamar perawatan.


Kaivan mendengar semua itu. Dia bersyukur dalam hati ternyata gadis itu bisa selamat walau terluka parah. Sedari tadi notifikasi handphone-nya sudah berbunyi. Tapi sengaja tidak dilihatnya. Sekarang baru dibukanya.


Dari Ayana," Ya Tuhan.... Apakah parah? Sekarang kamu dimana?"

__ADS_1


__ADS_2