
Mika namanya, adalah cowok yang tanpa sengaja menabrak Jessica tadi siang. Dia juga mengalami luka cukup parah dari kecelakaan tersebut.
Sebelum peristiwa itu terjadi, Mika datang ke kampus karena ada janji konsultasi dengan dosen pembimbing skripsinya. Memang tinggal tugas akhir itu saja yang harus dituntaskannya semester ini.
Sehabis bimbingan, dia berencana cari makan siang dulu sebelum pulang ke rumah untuk melanjutkan menulis skripsi. Jalanan yang lengang membuatnya tanpa sadar menginjak pedal gas agak dalam saat tiba-tiba seorang gadis berambut pendek berlari di depannya dan dia tidak sempat lagi menginjak rem karena sudah terlalu dekat.
Masih jelas dalam ingatannya saat roda depan sepeda motornya membentur keras gadis itu kemudian tubuhnya terpental beberapa meter tak bergerak lagi, sedangkan dia jatuh terhempas dan menggelosor di aspal yang panas.
Saat ada beberapa orang datang menghampirinya untuk menolong, dia masih sempat berkata sambil menunjuk ke arah gadis itu terbaring," Tolong dia duluan," sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Dan di sinilah dia sekarang, berada dalam sebuah kamar perawatan rumah sakit dengan kaki kanan terbalut gips, tangan kanan juga digips dan kepala memakai penyangga leher. Seketika rasa nyeri pelan-pelan mulai menyeruak walau dalam infusnya pasti sudah ada obat penghilang rasa sakit.
"Kamu udah sadar nak," terdengar suara mama yang khawatir dari sisi kanan tempat tidurnya.
"Ma.....," hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Mama mengelus lengan kirinya dengan lembut.
"Gak usah banyak bergerak dulu ya nak, supaya bisa cepat sembuh...." ucap mama lagi sambil tersenyum menghibur dirinya.
"Bagaimana dengan cewek yang aku tabrak tadi ma?" tanyanya cemas teringat tubuh itu tidak bergerak setelah terpental di aspal.
"Lukanya lumayan parah juga. Kata dokter kepalanya gegar otak ringan dan kedua kakinya mungkin akan lumpuh sementara tapi karena dia belum sadar, dokter masih menunggu perkembangannya nanti," jelas mama padanya.
"Kamu jangan terlalu banyak mikir dulu.... Tadi polisi juga udah datang, katanya ini bukan kesalahan kamu sepenuhnya. Dan keluarga gadis itu juga memilih jalan damai dengan kita."
Mika terdiam mendengar penjelasan mamanya. Di satu sisi dia lega ternyata gadis masih hidup tapi di sisi lain dia kasihan mendengarkan ada kemungkinan jadi lumpuh. Padahal kondisinya sendiri juga tidak lebih baik. Tapi entah mengapa dirinya justru jadi kepikiran.
"Semoga diagnosa dokter itu salah," doanya dalam hati.
***************************
__ADS_1
Kaivan sudah sampai kembali di rumah sakit. Dia berencana untuk menunggui Jessica malam ini agar kedua orangtua gadis itu bisa beristirahat dulu.
Sesampainya dia di depan kamar gadis itu, terlihat mama Jessica yang sedang duduk di bangku. Mungkin sekarang papanya yang gantian menjenguk.
"Apakah Jessica sudah sadar tante," tanyanya.
"Sudah sadar barusan dan sekarang papanya gantian masuk ke dalam," jawab mama Jessica masih dengan wajah yang bersedih.
"Kalo boleh, biar saya yang jagain Jessica malam ini, biar tante dan om bisa istirahat dulu," ujar Kaivan berharap usulannya dapat diterima.
Mama Jessica mengangguk-angguk tanpa memandang ke arah Kaivan.
"Nanti coba tante tanyain om dulu," sahut mama Jessica lagi.
Kemudian keheningan kembali menyelimuti mereka. Beberapa saat berlalu, pintu kamar tempat Jessica dirawat terbuka dan papanya keluar.
"Dia sudah tertidur lagi, mungkin efek anestesinya belum benar-benar hilang. Tapi gak apa-apalah, biar dia tidak cepat kesakitan akibat luka-lukanya," kata papa Jessica kepada istrinya.
Mama Jessica kembali hanya mengangguk. Sepertinya masih shock dengan kejadian yang menimpa anak tunggal mereka.
Papa gadis itu memandang Kaivan dengan tajam.
"Udah seharusnyanya dia yang jagain, karena dia yang bikin anak kita begini," dengusnya masih marah kepada Kaivan.
Kaivan tertunduk dan menelan ludah yang terasa pahit. Dia sadar di mata orangtua Jessica kesalahannya ini belum bisa dimaafkan.
"Ayo kita pulang kalo gitu, besok kita ke sini lagi, gantian nungguin Jessi," kata papa Jessica sambil membimbing istrinya bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar.
Setelah papa dan mama Jessica pulang, Kaivan perlahan membuka pintu ruang perawatan. Ditatapnya sesosok gadis yang terbaring lemah di tempat tidur.
Tubuh Jessica penuh perban di sana sini. Wajahnya pucat dan tampak menyedihkan. Kaivan kembali merasakan penyesalan menusuk dadanya.
__ADS_1
"Seandainya gue tidak pernah berpaling dari elo...." sesalnya sambil duduk perlahan di samping kanan gadis itu.
Digenggamnya tangan Jessica dengan hati-hati. Perasaannya campur aduk. Sebagian hatinya merasa bersalah dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Jessica. Tetapi sebagian lagi terusik dengan bayangan wajah Ayana saat dia pulang tadi.
Wajah cemas yang kemudian berubah jadi raut kecewa dan sedih setelah dia berlalu begitu saja dan tidak mempedulikannya. Pada akhirnya dia telah melukai hati kedua gadis itu. Semua terjadi karena kerapuhan dan ketidaksetiaan hatinya. Dia yang bersalah.
Kaivan menutup mata dan menghembuskan nafas perlahan, berusaha menghilangkan sesak di dada. Yang pasti prioritasnya sekarang adalah Jessica saja.
Tidak mungkin dia meninggalkan saat kondisi Jessica seperti ini. Bagaimana pun juga gadis inilah yang sudah setia mendampinginya selama empat tahun dan mereka sudah lama merajut asa demi masa depan. Sedangkan Ayana baru dikenalnya beberapa bulan yang lalu.
Jadi dia berharap semoga perasaan Ayana kepadanya masih belum begitu dalam dan bisa melupakannya nanti. Dia berdoa semoga gadis itu mendapatkan orang yang lebih baik darinya. Dan dia harus berusaha membuat kedua orangtuanya mengerti situasi ini.
Sekarang yang jelas dia harus bertanggung jawab mendampingi Jessica karena apa yang dialami gadis itu semua disebabkan olehnya. Tidak mungkin dia pergi menjauh dan meninggalkannya.
"Gue akan ada selalu untuk elo.... Gue akan jagain elo.... Gue harap elo mau memaafkan apa yang telah gue lakukan...." bisik Kaivan dalam hati.
*******************************
Kembali terbangun dari tidurnya, Jessica perlahan membuka mata. Rasa pusing masih sangat mengganggunya. Dirasakannya jemari tangan kanannya digenggam seseorang.
Perlahan Jessica melihat ke arah Kaivan yang tertidur di pinggir tempat tidur sambil memegang tangannya. Gerakannya membuat Kaivan terbangun juga.
"Elo udah bangun Jes?" tanya Kaivan sambil menegakkan tubuhnya kembali di kursi.
Jessica tidak langsung menjawab. Matanya memandang sekeliling dan baru menyadari bahwa dia terbaring di rumah sakit. Tadi memang dia sempat terbangun dan melihat mamanya. Tapi sepertinya waktu itu belum sepenuhnya menyadari situasi di sekitarnya.
Dia pikir pas terjaga tadi sedang berada di kamarnya sendiri di rumah dan mamanya sedang membangunkannya untuk kuliah. Cuma entah kenapa kepalanya masih sangat pusing dan matanya sangat berat sehingga dia kembali tertidur.
Barulah saat terbangun lagi dan melihat ada Kaivan di sisinya, dia baru menyadari bahwa dia bukan tidur di kamar sendiri melainkan di rumah sakit.
"Gue kenapa ada di sini Kai?"
__ADS_1
Visualisasi Mika