
Mereka sudah di mobil lagi setelah proses fitting baju pertunangan selesai. Sudut mata Ayana tak sengaja melirik ke arah profil wajah Kaivan yang sedang menyetir.
"Dia memang ganteng banget, sayang kelakuannya sangat minus dan jahat," keluh Ayana dalam hati.
Sambil menghembuskan nafas panjang, dia mengalihkan pandangan ke arah sisi kiri mobil, mencoba mengalihkan perhatiannya kepada lalu lintas yang mereka lewati. Hatinya terasa sangat gundah, mengingat hari pertunangan yang semakin dekat.
Kaivan dapat merasakan kegelisahan Ayana, dia sedikit melirik ke arah gadis itu. Diam-diam dia mengamati sekilas wajah gadis di sampingnya yang putih bersih tanpa noda dengan semburat merah jambu di pipi yang alami bukan polesan make up dibingkai rambut hitam halus yang tergerai melewati bahu.
"Hhhmmmm, wajahnya memang sangat cantik seperti lukisan, pantas mama pengen banget punya mantu kayak cewek ini," dengus Kaivan terpaksa mengakui keindahan di sampingnya itu.
"Tapi gue gak akan tergoda sama elu, setan kecil,"
Kaivan pun menginjak pedal gas lebih dalam untuk mempercepat laju mobilnya. Karena sebenarnya hari ini dia juga sudah terlanjur ada janji kencan dengan Jessica. Tentu saja dia tidak mau membiarkan pujaan hatinya itu menunggu terlalu lama. Dia harus segera mengantarkan Ayana pulang dulu supaya bisa segera pergi lagi.
***********************
Ayana melangkah masuk ke gerbang rumah tante Hana. Dia masih ingat sebelum turun ucapan Kaivan kepadanya.
"Elu turun di depan pagar aja, gue mesti buru-buru pergi lagi karena udah janjian kencan ama Jessica pacar gue. Jangan sampe dia nungguin gue hanya gara-gara kegiatan gak penting sama elu. Dan kalo mama tanya jangan coba-coba ngadu ya, bilang aja gue ada kerja kelompok di rumah temen," tegas Kaivan dengan sorot mata dingin menusuk.
"Iya....," hanya itu saja yang bisa diucapkan Ayana sebelum Kaivan berlalu.
Hatinya terasa semakin gundah. Hal seperti inilah yang bakal sering dia rasakan apalagi nanti setelah mereka bertunangan. Bukankah Kaivan sudah membuat dia berjanji untuk tidak pernah melarang hubungannya dengan Jessica, pacarnya itu. Dia memang tidak berhak marah karena posisinya hanya sebagai tunangan yang dipaksakan.
Entah mengapa mulai muncul sedikit rasa nyeri di lubuk hatinya terdalam. Membayangkan Kaivan akan bermesraan dengan kekasih hatinya.
__ADS_1
"Aduh, koq hatiku rasanya sakit kayak gini? Hei hati, tolonglah jangan baper, kamu gak ada tempat di hatinya, jadi jangan mulai menaruh asa," keluhnya sambil berhenti sejenak memejamkan mata berusaha menenangkan kesakitan yang mulai muncul.
"Dia udah menjadi milik wanita lain, tidak akan pernah menjadi milikmu, pertunangan ini hanyalah formalitas dan keterpaksaan aja, tolonglah sadari itu wahai hatiku," gumam Ayana lirih berusaha menetralkan perasaannya lagi.
Ayana semakin tidak menginginkan pertunangan ini terjadi. Karena dia yakin, dia yang akan menjadi pihak yang tersakiti dalam hubungan ini. Walau bagaimana pun dia hanyalah gadis biasa yang belum pernah merasakan jatuh cinta. Dan tanpa bisa dia cegah, rasa itu justru tumbuh sedikit demi sedikit pada cowok dingin yang jelas-jelas benci padanya bahkan telah mencintai cewek lain.
Mengapa hatinya seakan-akan berkhianat, tidak seharusnya rasa seperti ini mulai ada. Bukankah dari awal dia sudah tidak nyaman dengan sikap dan tingkah laku Kaivan. Bukankah Kaivan juga telah dengan jelas memperingatkannya bahwa dia sudah memiliki kekasih dan tidak akan mau melepasnya walau mereka akhirnya bertunangan. Tapi mengapa hatinya seperti tidak mau mengerti.
Sambil menahan tetesan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, Ayana bergegas masuk rumah dan berjalan ke kamarnya. Dia tidak mau bertemu dengan tante Hana dulu dalam kondisi seperti ini. Pasti tante Hana nanti akan berprasangka tidak baik dan akhirnya marah pada Kaivan. Dan kemudian ujung-ujungnya Kaivan akan semakin membenci dirinya.
Ayana menutup pelan pintu kamarnya dan bersandar di situ sambil menangis pelan. Kenapa hatinya justru terasa semakin sakit. Dia harus segera bisa menghapus benih-benih rasa yang mulai tumbuh. Jangan sampai rasa ini semakin dalam karena tidak akan ada gunanya.
******************
Sesampainya di area parkir kafe tempat mereka janji ketemu, Kaivan bergegas turun dari mobil. Matanya mencari-cari sosok kekasih hatinya di antara pengunjung kafe tersebut.
Diraihnya telepon genggam dan memencet nomor Jessica. Bunyi nada panggil berdering tapi tidak diangkat. Diulangnya sampai 5 kali tapi hasilnya tetap sama. Fix !!! Jessica pasti marah padanya karena sudah menunggu terlalu lama.
Setengah berlari dia balik menuju area parkir. Kemudian bergegas menaiki mobil dan berjalan ke arah rumah Jessica.
Sesampainya di sana, dia buru-buru turun dan mengetuk pintu rumah. Pada ketukan ketiga muncul seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.
"Maaf, mau cari siapa ya mas," tanya si asisten rumah tangga padanya.
"Jessica ada di rumah gak mbak?" tanyanya.
__ADS_1
"Sebentar ya, saya panggilkan dulu... Mas tunggu di sini aja," ujar si mbak sambil mempersilakan Kaivan untuk duduk menunggu di kursi teras.
Kaivan pun duduk sambil melirik ke arah pintu rumah, berharap Jessica mau segera menemuinya. Setelah 15 menit menunggu, akhirnya kesabarannya membuahkan hasil. Jessica muncul dari dalam rumah dengan wajah cemberut.
"Kalo elo gak punya waktu buat gue, gak usah sok-sok an bikin janji kencan segala macem. Gue udah karatan satu setengah jam nungguin elo di kafe itu dan udah malu banget rasanya diliatin sama pengunjung lain karena duduk bengong sendirian kayak orang bego, tau gak lo !!!! " sergah Jessica dengan nada tinggi ke arah Kaivan sambil menudingkan jari telunjuknya.
"Tolong maafin gue Jess, gue bener-bener gak sengaja. Itu karena jalanan tadi macet banget," ujar Kaivan sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda memohon maaf.
"Halah, pasti elo disibukkan sama mama elo kan, supaya elo gak bisa ketemuan sama gue. Dari awal mama elo emang udah gak suka sama gue.... Makanya gue bilang kita putus aja deh, gue udah gak tahan lagi kalo kayak gini," sergah Jessica kesal.
"Jangan gitu Jess, ini gak ada hubungan sama mama, ini murni kelalaian gue aja. Cuma perasaan elo aja koq, mama suka koq sama elo Jess...." ucap Kaivan lagi.
"Gak usah berusaha nutup-nutupin deh elo Kai, gue lihat sendiri reaksi mama elo pas ketemuan dulu. Keliatan banget kalo mama elo gak suka punya calon mantu model preman kayak gue gini.... Udahlah gak usah dipaksain lagi.... Apalagi akhir-akhir ini gue liat elo juga semakin sering gak tepat janji kalo ketemuan sama gue..... Kalo udah gak cinta, terus terang aja Kai, gue juga gak mau sakit hati terus-terusan gini...." geram Jessica dengan marah.
"Sumpah mati gue cinta banget sama elo Jess, apapun kata mama gue, gue akan tetap pilih elo.... Gak mungkin gue meninggalkan elo Jess, elo cinta pertama gue.... Udah 4 tahun kita bersama dari SMA, tolong jangan berpikiran seperti itu.... Jangan pernah berpikiran untuk putus."
Kaivan berlutut di depan Jessica, tangannya meraih tangan gadis itu untuk digenggamnya erat. Matanya memandang penuh permohonan maaf.
Jessica akhirnya luruh juga. Walau bagaimanapun dia memang sangat mencintai Kaivan, walau hatinya selalu terusik dengan pikiran soal mama Kaivan yang tidak suka padanya.
"Udahlah jangan seperti ini, gue akan selalu memaafkan elo karena gue emang cinta, maafin gue juga karena tadi emosi," pinta Jessica sambil menarik tangan Kaivan supaya bangun dari berlututnya.
Kaivan berdiri dan merengkuh tubuh gadis yang dia cintai itu dengan erat. Diciumnya kening Jessica.
"Makasih ya sayang, selalu mau memaafkan gue yang suka bikin elo marah,"
__ADS_1
Mereka berpelukan erat, sama-sama mencari rasa nyaman dari interaksi fisik yang mereka lakukan. Melupakan segala pertengkaran yang tadi terjadi.