Karena Dijodohkan

Karena Dijodohkan
Elo Harus Dihukum


__ADS_3

Kaivan sengaja melewati jalan belakang kampusnya, karena dia berencana menurunkan Ayana 500 meter di salah satu gang belakang menuju kampus. Dipilihnya gang yang menurutnya paling sepi.


"Elo turun di sini aja.... Gue gak mau keliatan ama orang-orang boncengin lo ke kampus, apalagi kalo sampe pacar gue tau.... Ntar pas di kampus elo juga harus pura-pura gak kenal.... Jangan sampe ada yang curiga... Awas lo ya, kalo sampe ketauan, gue gak akan maafin !!!" ancam Kaivan keras.


Ayana hanya bisa mengangguk. Hatinya seperti teriris pisau mendengarkan ucapan pedas dari Kaivan.


Setelah sepeda motor Kaivan melaju kencang meninggalkannya, dia berjalan dengan agak kebingungan. Karena selama ini belum pernah jalan lewat belakang. Apalagi jalannya hanya berbentuk gang saja. Dia tidak tahu mana arah yang tepat menuju kampus.


Setelah berjalan beberapa meter, dia berpapasan dengan sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang cowok.


"Hai anak baru juga ya," sapa cowok itu sambil memberhentikan motor di dekatnya.


"Iya," jawab Ayana sopan.


"Jalan ke arah kampus kemana ya? Saya agak bingung?


"Ke arah depan ini nih.... Kalo elo mau gue bonceng aja yuk," tawar cowok itu dengan ramah.


"Percaya deh, gue cowok baik-baik, gak bakal culik elo.... Gue juga anak angkatan baru di kampus ini."


Ayana sejenak menimbang-nimbang. Sepertinya cowok ini memang cowok baik-baik dan anak kuliahan juga seperti dia. Akhirnya dia setuju untuk naik ke boncengan. Cowok tersebut pun melajukan motornya pelan menuju kampus.


"Nama gue Ezra, gue ambil jurusan teknik sipil di kampus ini.... Kalo elo?" tanya cowok itu di sela-sela perjalananan mereka.


"Panggil aja aku Ayana, ambil jurusan desain grafis," jawab Ayana.


"Wah, masih satu fakultas kita ternyata. Koq gue gak liat elo pas masa ospek kemaren ya?"

__ADS_1


"Hehehe, kan calon mahasiswa barunya rame banget, gak mungkin juga kita pasti ketemuan, lagian waktunya juga pendek cuma 3 harian kan acaranya."


"Elo anak daerah ya? Bukan asli dari kota J kan?"


"Iya aku dari kota P, di sini tinggal sama tante."


"Ooo pantesan...." sahut Ezra bersamaan dengan waktu mereka sudah sampai di area parkiran motor di kampus.


Ayana turun dari motor dan sejenak menunggu Ezra. Tak sengaja matanya beradu pandang dengan sepasang mata yang memandangnya dengan tajam dan dingin. Ternyata Kaivan masih ada di sekitar area parkir tersebut. Dan saat ini dia memandang Ayana dengan perasaan geram.


"Bener-bener cewek ganjen ternyata dia, lagaknya aja alim dan pendiam kalo di rumah. Baru aja ditinggalin udah nempel aja sama cowok lain," dengusnya dalam hati.


Entah mengapa Kaivan merasa marah melihat Ayana turun dari boncengan motor cowok lain. Di hatinya seperti muncul rasa tidak rela. Sambil menggertakkan gigi menahan rasa kesal, dia melangkah pergi menjauh.


**************************


Ayana melambaikan tangan ke arah Ezra yang mulai melajukan motornya kembali. Tiba-tiba tangannya ditarik dengan kasar oleh seseorang.


"Aduh sakit, lepaskan tanganku," kata Ayana sambil meringis kesakitan ke arah Kaivan yang terus menyeretnya ke dalam rumah.


Kaivan tidak mempedulikan ucapan Ayana, dia tetap menarik keras tangan gadis itu sambil menaiki tangga ke lantai atas. Dibukanya pintu kamarnya sambil mendorong Ayana masuk kemudian mengunci pintu.


"Apa-apaan sih ini? Aku mau keluar.... Kenapa kamu membawaku ke sini? Tanganku juga sakit karena kamu tarik-tarik."


"Gak usah berkedok cewek alim dan pendiam elo ya... Ternyata aslinya elo ganjen dan gampangan ama cowok-cowok."


"Eh, koq kamu nuduhnya gitu... Aku bukan cewek gampangan," nada suara Ayana bergetar menahan tangis.

__ADS_1


Dia tidak terima tuduhan semena-mena dari Kaivan. Apalagi diperlakukan kasar seperti tadi. Pergelangan tangannya nyeri karena ditarik dan diseret dengan paksa. Ayana berusaha bangkit tapi tubuhnya malah didorong dengan kasar ke arah tempat tidur.


Kaivan merangkak ke atas tubuh Ayana, kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Ayana. Gadis itu berusaha meronta-ronta melepaskan diri.


"Gak ada gunanya elo teriak, kamar ini didisain kedap suara. Lagian di rumah juga gak ada siapa-siapa selain para ART yang ada di belakang rumah, mereka tidak akan bisa mendengarkan teriakan elo," desis Kaivan dengan kejam.


"Gue mau kasi peringatan buat elo, jangan pernah berani macam-macam ya.... Posisi elo sekarang adalah calon tunangan gue, bersikaplah sesuai etika orang yang udah terikat hubungan."


"Aku gak macam-macam, hanya berteman aja dengannya, kebetulan tadi ketemu saat aku bingung cari jalan arah ke kampus setelah kamu tinggalkan. Lagian koq kamu nyuruh aku bersikap sebagai tunangan sedangkan kamu aja tetap bebas pacaran," sahut Ayana dengan airmata yang mulai bercucuran di kedua pipinya.


"Eh, berani membantah kata gue lo ya.... Peraturan itu berlaku hanya buat elo, kalo buat gue mah bebas karena pihak yang dirugikan di sini adalah gue.... Elo sih menang banyak, udah dapat tempat tinggal gratis, biaya hidup gak perlu mikir eh masih dikasi bonus calon suami kayak gue," ucap Kaivan seenaknya dengan mata menatap lekat kepada Ayana yang posisinya sudah menempel erat ke tubuhnya.


Matanya bebas menelusuri wajah Ayana secara dekat. Melihat pipi mulus semburat merah merona yang sudah penuh dengan air mata. Kemudian beralih ke bibir ranum yang setengah terbuka terlihat sangat menggoda.


Spontan saja dirinya terdorong untuk mencium bibir itu, merasakan manisnya yang terasa sangat memabukkan. Ciuman yang awalnya hanya menempel berubah semakin menuntut lebih untuk masuk lebih dalam.


Ayana sangat kaget, dirinya semakin keras meronta untuk melepaskan ciuman paksaan tersebut. Tapi Kaivan jauh lebih kuat, dia sama sekali tidak berhenti malah makin ganas ******* bibir mungil Ayana.


Setelah sekian detik yang terasa begitu lama, akhirnya Kaivan melepaskan ciumannya. Dan beranjak melepaskan tubuh Ayana yang tadi berada dalam kungkungannya.


"Itu hukuman buat elo..... Ingat tiap kali elo bikin kesalahan gue akan menghukum dan jangan salahkan gue kalo hukumannya bisa lebih berat daripada yang tadi," ancam Kaivan sambil menudingkan telunjuknya ke arah Ayana.


Gadis itu bergegas bangkit dan berlari membuka kunci lalu keluar kamar Kaivan sambil tetap menangis tanpa suara. Dia secepatnya masuk ke kamarnya sendiri di sebelah dan langsung mengunci pintunya.


Dihempaskan badannya menelungkup ke kasur. Dilepaskannya sedu sedannya yang tadi tertahan ke arah bantal yang dipeluknya erat-erat. Yang tadi adalah ciuman pertamanya yang telah dirampas paksa begitu saja.


Padahal dulu dia selalu berkhayal suatu saat nanti akan pertama kali berciuman dengan orang yang saling cinta dengannya. Bukan dengan cara kasar dan terpaksa seperti tadi. Sakit bukan hanya dirasakan oleh hatinya tapi juga sakit secara fisik.

__ADS_1


__ADS_2