Karena Dijodohkan

Karena Dijodohkan
Ternyata Itu Penyebabnya


__ADS_3

Tadi siang tante Hana memberitahu Ayana bahwa nanti malam jam 8 ada pertemuan keluarga dan Ayana juga harus hadir. Jadi setelah mandi dan berpakaian, Ayana turun ke lantai bawah.


"Ayuk kita makan malam dulu ya nak," ajak tante Hana begitu melihat Ayana.


"Iya tante"


Ternyata semua sudah hadir lengkap di meja makan. Ada om Gibran, kak Raihan dan Kaivan duduk di situ. Sepertinya mereka hanya menunggu Ayana saja. Ayana merasa tidak enak dan bergegas duduk.


Mereka makan dalam diam, entah mengapa suasananya terasa begitu serius. Ayana sampai tidak berani membuat suara apapun selama makan.


Setelah selesai makan, tante Hana mengajak mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Kemudian mempersilakan om Gibran untuk memulai pembicaraan.


"Ehem malam ini kita sekeluarga semua berkumpul di sini untuk membicarakan hal penting yang sudah pernah kita bahas sebelumnya. Mungkin di sini cuma Ayana yang belum tau," ujar om Gibran.


"Kita kilas balik dulu sedikit supaya Ayana juga tau kondisinya. Jadi begitu kami, dalam hal ini saya dan Hana, mengetahui bahwa sahabat akrab Hana telah berpulang dan meninggalkan seorang anak perempuan sebatang kara, kami memutuskan untuk menjadikan Ayana bagian dari keluarga kita," jelas om Gibran.


"Tapi bukan sebagai anak angkat, melainkan sebagai calon menantu atau lebih tepatnya calon istri dari anak kami."


Ayana terkesiap, dia tidak menyangka situasinya akan seperti ini. Siapakah yang akan dijodohkan dengannya? Kalau boleh memilih dia tentu lebih condong kepada Raihan daripada Kaivan yang jelas-jelas membencinya.


"Berhubung Raihan sudah bertunangan dan akan segera menikah setelah Monica menyelesaikan kuliah S2 nya di Inggris, maka tentu Ayana kita jodohkan dengan Kaivan," lanjut om Gibran.


Jadi aku justru akan dijodohkan dengan Kaivan, gumam Ayana dalam hati. Dia sungguh kaget dan tidak siap dengan keputusan itu. Tapi apalah dayanya, dia sekarang sebatang kara dan betul-betul tergantung akan kebaikan tante Hana sekeluarga. Tidak mungkin rasanya dia menolak keputusan ini.


Tanpa sadar dia mencuri pandang ke arah Kaivan. Ternyata cowok itu juga tengah memandangnya dengan tajam. Sorot matanya sangat penuh kebencian dan kemarahan. Apakah ini penyebab kebencian Kaivan padanya? Padahal dia juga tidak tahu menahu soal keputusan ini.

__ADS_1


Ayana buru-buru mengalihkan pandangan, tidak sanggup menatap mata Kaivan yang setajam pisau seakan-akan bisa membunuhnya.


"Sekarang kita akan mulai diskusi menentukan tanggal kapan pertunangan Kaivan dan Ayana bisa dilaksanakan, mumpung masih dalam masa libur kuliah," ujar om Gibran lebih lanjut.


"Kalau mama maunya kita laksanakan sabtu depan aja, bagaimana menurut papa?" usul tante Hana bersemangat.


"Boleh ma, jadi kita tetapkan harinya adalah sabtu minggu depan. Mulai besok mama udah bisa menghubungi pihak EO untuk mematangkan rencana kita ini ya ma," sahut om Gibran.


"Kalau begitu kita tutup pertemuan malam ini sampai di sini dulu. Biar besok mama yang atur semuanya dan kapan Kaivan dan Ayana bisa fitting baju pertunangan mereka," kata om Gibran.


Mereka pun semua beranjak ke kamar masing-masing. Ayana yang masih bingung berjalan pelan menaiki tangga ke kamarnya. Begitu sampai di lantai atas, dia merasa tangannya ditarik seseorang yang ternyata adalah Kaivan.


"Gue mau ngomong sama elo," katanya sambil menarik keras tangan Ayana masuk ke dalam kamarnya.



"Sekarang elo tau kan alasan gue benci sama elo," ujar Kaivan menatap tajam mata Ayana.


"Kehadiran elo udah merusak kebahagiaan gue. Kalo mama udah bikin keputusan, gue gak bisa lagi membantahnya. Padahal gue udah punya pacar. Tapi karena sepertinya mama kurang suka dengan pacar gue yang menurutnya bergaya preman, dia menjodohkan gue sama elo dan menyuruh gue untuk putus," jelas Kaivan dengan nada diliputi kemarahan dan kebencian.


"Tapi kan aku juga gak tau soal itu, aku juga baru tau malam ini. Seandainya bisa, aku juga akan menolaknya, " Ayana berusaha menjelaskan.


"Tapi elo gak bisa nolak kan," sergah Kaivan sinis.


Ayana menggeleng pelan. Sekali lagi dia merasa pelupuk matanya memanas. Dia berusaha keras tidak menangis di depan Kaivan karena dia tahu tangisnya hanya akan memperburuk keadaan. Kaivan pasti akan makin membencinya.

__ADS_1


"Karena ini semua tidak bisa dibatalkan lagi, gue mau ajuin syarat yang harus elo sepakati," ujar Kaivan dengan tegas.


"Kita tetap akan bertunangan, tapi gue juga tetap menjalin hubungan dengan Jessica pacar gue dan elo tidak boleh keberatan," ucap Kaivan tajam kepada Ayana.


Ayana menggigit bibir bawahnya, dia tidak boleh meneteskan airmata di hadapan Kaivan. Pertunangan seperti apa yang akan dia jalani sementara Kaivan tidak mau berpisah dengan kekasihnya. Tapi dia hanya bisa setuju dengan syarat itu.


"Oke terserah kamu aja. Kalo gak ada lagi, aku mau balik ke kamarku," sahut Ayana tanpa menatap mata Kaivan dan beranjak membuka pintu.


Kaivan mengusap wajahnya dengan kasar sesaat setelah Ayana berlalu. Dihempaskan tubuhnya ke kasur. Sambil menatap langit-langit kamarnya dia berkata dalam hati apakah dia tidak terlalu kasar dengan Ayana. Karena gadis itu juga tidak tahu menahu soal ini semua.


Tapi gara-gara dia masuk ke keluarga ini makanya semua ini terjadi, gumamnya.


Sesaat wajah Jessica masuk ke dalam lamunannya. Mereka sudah 3 tahun berpacaran dan dia sudah memperkenalkan Jessica kepada keluarganya.


Tapi karena gaya Jessica yang tomboy dan cuek, sepertinya mamanya tidak suka dengan pacarnya. Dan kebetulan Ayana akhirnya datang ke dalam keluarga mereka, momen ini dimanfaatkan mamanya untuk memisahkan dia dengan Jessica.


Makanya Kaivan sangat marah dan benci kepada Ayana setelah mendengar keputusan orangtuanya. Apalagi setelah berkenalan dengan Ayana, dia makin yakin kalau hatinya tidak bakal tertarik dengan gadis itu.


Dari dulu dia menyukai tipe gadis yang tomboy, mandiri dan cuek. Bukan seperti Ayana yang kayaknya cengeng, manja dan masih kekanak-kanakan. Mana mungkin dia bisa hidup bersama apabila karakter mereka tidak cocok dan saling bertolak belakang.


Tidak mungkin rasanya menjalani hidup rumah tangga dengan orang yang kita tidak suka bahkan benci. Bukankah seharusnya suatu ikatan pernikahan itu harus diawali dengan kasih sayang antara keduanya?


Kaivan benci membayangkan seumur hidup harus berhadapan dengan gadis yang cengeng seperti Ayana. Dia pasti akan gampang emosi terhadap gadis itu kalau akhirnya pernikahan mereka tetap dipaksakan.


Oleh karena itu sebelum semuanya terjadi, Kaivan bertekad menggagalkan rencana mamanya dan akan sekuat tenaga membatalkan kembali perjodohan mereka. Dan akhirnya bisa menikah dengan Jessica pujaan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2