
Abraham mencari tempat duduknya sendiri dan meletakkan headset Jessica di sampingnya. Dia malas meladeni keluhan Jessica.
Jessica yang melihatnya langsung ingin merebut headsetnya kembali, tetapi dihalau oleh Abraham.
“Aku tidak peduli kamu anti mainstream atau apa. Kamu seharusnya sudah tahu siapa aku. Karena ibumu sudah mengeluarkan uang, maka aku harus mengerjakan tanggung jawabku.”
Jessica menatap Abraham dengan kesal, dia berkata, “Kamu hanyalah seorang tutor? Dalam setahun ini aku sudah mengganti puluhan tutor. Setiap orang yang datang sama sepertimu, aku ingin melihat sampai mana kamu akan bertahan!”
Abraham tersenyum. Dia tahu cara terbaik berhadapan dengan bocah kecil seperti ini adalah dengan tidak meladeni sikap dan ucapannya. Kalau bisa menariknya ke dalam aturan main kita, maka sudah dianggap berhasil.
“Ayo mulai belajar,” kata Abraham sambil mengambil buku sastra dari meja.
Bukunya masih terlihat baru, selama lebih dari sebulan di sekolah, gadis ini sepertinya tidak pernah membuka buku.
“Aku pertama kali menjadi tutormu, jadi tidak tahu bagaimana kondisimu. Aku akan memberikan dua soal untuk kamu kerjakan terlebih dahulu.”
Tidak peduli bagaimana sikap Jessica, Abraham akan memperlakukannya dengan caranya sendiri, dan juga mengabaikan ocehannya.
Lalu, Abraham menyadari bahwa walaupun Jessica sangat membangkang, api kemarahannya bisa membakar rumah ini, tetapi dari awal sampai sekarang, Jessica tidak pernah berkata kasar sedikitpun. Itu berarti ajaran di keluarga ini termasuk cukup baik. Jessica yang membangkang, sebenarnya dia hanya menggunakan sikapnya untuk memberontak kepada orang tuanya.
Abraham bukan kakak yang baik hati, dia juga tidak tertarik untuk mempedulikan urusan keluarga Jessica. Tapi karena menerima uang dari ibunya, dia harus melakukan pekerjaan tutor dengan baik.
Dia mencari buku kosong, kemudian menuliskan dua soal dari buku sastra tadi. Dua soal yang tidak memiliki jawaban pasti, tetapi bisa menilai standar kemampuan seorang siswa.
Dia memberikan buku itu kepada Jessica dan berkata, “Kerjakan dua soal ini.”
“Bagaimana kalau aku tidak mau?” kata Jessica dengan kesal.
__ADS_1
Abraham tersenyum, paling tidak Jessica sudah mengikuti cara mainnya. Ini adalah langkah pertama keberhasilannya.
“Kalau kamu tidak mau, aku tentu tidak bisa melakukan apa pun. Jujur, pekerjaan tutor kali ini adalah yang paling gampang bagiku. Ibumu juga tidak berharap nilaimu naik, dia hanya berharap ada yang menjagamu ketika dia tidak di rumah. Aku juga tidak tertarik dengan urusan keluargamu. Kalau kamu terus mengeluh, aku juga tidak masalah. Tetapi aku akan tetap berada di sini, selain berhadapan dengan buku-buku itu, kamu tidak bisa melakukan hal lainnya. Kamu bisa memilih mengerjakan soal, juga bisa tidak. Bahkan kalau kamu meletakkan buku di depanmu, mau dibaca ataupun tidak, aku juga tidak peduli. Aku sangat senang menemanimu di sini sampai waktu 2 jam habis.” Selesai bicara, Abraham bersandar ke kursi dengan santai.
“Tidak tahu malu!” umpat Jessica kepadanya. Dia tentu tidak akan mengambil pena di meja dan mengerjakan soalnya. Dia terus menatap Abraham.
Sebenarnya dengan gen dari ibunya, jika Jessica menghapus riasan di wajahnya, dia seharusnya juga seorang gadis yangn cantik. Kenapa dia harus merias dirinya seperti itu?
Mereka berdua tidak berbicara dan hanya saling bertatapan. Abraham juga tidak peduli dengan tatapan kesal Jessica.
Dari luar, terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru, diikuti suara makian seorang pria. Ibu Jessica yang tidak berdaya terpaksa membuka pintunya.
“Aku peringatkan, kalau kamu begini lagi, aku akan lapor polisi! Kalau bukan karena Jessica, aku sudah pasti menggugatmu dan memenjarakanmu karena sikapmu itu!”
Pria itu berkata, “Olivia! Kamu tidak perlu menggunakan gaya pengacara untuk berbicara denganku! Aku tidak takut! Aku juga lulusan hukum, jadi kamu tidak bisa mengancamku! Ketika kita bercerai, kamu merebut semua harta kekayaanku. Sekarang, aku hanya ingin mengambil kembali milikku!”
“Tidak usah banyak omong, aku mendaftarkan harta bersama. Jadi tidak peduli siapa yang menghasilkannya, semua penghasilan setelah menikah seharusnya dibagi dua. Kamu memanfaatkan kesempatan ketika aku ditahan dan mengajukan perceraian. Kamu merebut semua hartaku. Kalau hari ini kamu tidak membagi setengahnya kepadaku, aku tidak akan pergi kemanapun!”
“Baiklah, kamu tidak mau pergi kan? Aku akan menyuruh polisi untuk membawamu pergi! Sekarang kamu masih dalam masa percobaan, kamu pikirkan saja sendiri!”
“Kamu berani?!” kata pria itu dengan kesal.
Olivia mendengus, setelah itu terdengar dia berbicara di telepon, “Halo, dengan 110? Ada seorang pria masuk tanpa izin ke rumahku. Hmm..., iya, betul, aku dengan Olivia. Kalian cepat datang ke sini. Alamat rumahku di…”
“Olivia, kamu sangat kejam! Aku tahu, sekarang kamu punya pacar baru, kamu ingin membawa semua harta kita dan menikah dengannya…,”
Olivia langsung memotong ucapan pria itu dan berkata, “Aku punya pacar atau tidak, tidak ada hubungannya denganmu. Kita sudah cerai setahun lebih. Kamu selingkuh ketika kita masih menikah, perceraian kita juga hasil keputusan sidang. Waktu itu keluarga kita punya harta apa? Selain rumah ini, semua uangnya sudah kamu berikan kepada wanita selingkuhanmu itu. Aku bahkan tidak meminta nafkah biaya kepadamu, atas dasar apa kamu berbicara tentang harta denganku? Polisi akan segera datang, kalau kamu tidak mau terjadi sesuatu dalam masa percobaanmu, cepat pergi dari sini!”
__ADS_1
Pria itu terus memakinya. Tapi tentu dia juga ragu, setelah memakinya, dia langsung kabur dari sini. Kalau terjadi kesalahan di masa percobaannya, dia akan dikembalikan ke penjara.
Mendengar suara pintu anti maling tertutup, Abraham baru melihat kembali ke Jessica.
Hanya saja gadis yang marah tadi sepertinya sudah mengalah, dia terdiam dan menutupi wajahnya.
Dilihat dengan seksama, di wajahnya penuh dengan air mata. Riasan smokey eyes-nya sudah menghilang, hanya tersisa garis-garis hitam di wajahnya.
Walaupun hanya sebentar, Abraham sudah mengerti kondisi keluarga ini. Dia menghela nafas dan merasa kasihan dengan anak perempuan ini.
Ketika ingin mengatakan sesuatu, dia mendengar suara ketukan pintu. Kemudian Olivia muncul dari sela pintu dengan sopan.
“Guru Abraham, aku masih ada urusan dan harus pergi. Hari ini aku mohon bantuanmu, sebelum kamu pergi nanti tolong kirim pesan kepadaku.”
Abraham mengangguk. Olivia lalu menutup pintu. Kemudian tidak lama terdengar suara pintu anti maling tertutup, Olivia sudah pergi.
“Jadi karena ayahmu itu, kamu sengaja membuat ibumu marah?” tanya Abraham dengan pelan.
Jessica langsung mengangkat kepalanya, suaranya terdengar sangat serak, “Apa hubungannya denganmu? Kamu tidak perlu peduli! Dia bukan ayahku, ayahku sudah mati! Aku tidak punya ayah!” sambil mengatakannya, Jessica berlari keluar kamar.
Abraham kaget, dia tidak menyangkanya. Dia ingin menahan gadis itu, tapi sudah terlambat.
Ketika dia keluar kamar, Jessica sudah keluar dari rumah ini. Abraham melihat ada kunci di atas lemari, dia mengambilnya dan langsung berlari keluar.
__ADS_1