Kartu Hitam Misterius

Kartu Hitam Misterius
Rasa Coklat


__ADS_3

Jessica tidak kabur jauh, dia duduk di samping taman bunga di bawah. Dia menundukkan kepala dan badannya terlihat gemetar.


  Abraham mendekat dan menatapnya. Dia ingin menghiburnya, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.


  “Setelah mendengar percakapan orang tuamu, aku jadi mengerti kondisinya. Ayahmu sedikit malas dan bahkan punya sikap yang buruk. Keluarga ini hanya mengandalkan ibumu. Sebelum bercerai, walaupun sering bertengkar, tetapi saat itu, keluarga ini masih utuh. Lalu ketika ayahmu selingkuh dan membawa wanita lain pergi jalan-jalan dan terjadi sesuatu. Aku tebak pasti kecelakan mobil… Ayahmu baik-baik saja, tetapi tidak dengan wanita itu. Karena ayahmu mengendarai dalam kondisi mabuk, maka dia harus menjalani proses hukum. Karena marah, ibumu mengajukan perceraian. Pengadilan memutuskan kamu mengikuti ibumu, lalu memberikan satu-satunya harta bersama waktu itu, yaitu rumah ini kepada ibumu. Tapi setelah keluar dari ,  merasa tidak rela, dia sering datang mengacau. Kamu juga berubah menjadi seperti ini mulai setahun terakhir, betul? Mungkin kamu juga sama seperti ibumu, sangat membenci ayah seperti itu.”


  Jessica bengong, dia tidak menyangka pertengkaran yang singkat tadi bisa membuat Abraham mengerti ceritanya dengan utuh.


  Dia mengangkat kepalanya, di wajahnya masih ada air mata berwarna hitam. Abraham lalu memberikan tisu kepadanya.


  “Sebenarnya tidak susah ditebak, hanya saja tutor sebelumnya tidak ingin ikut campur, sehingga tidak memberitahumu. Begini, kamu memang membenci ayah seperti itu, tetapi ibumu juga tidak salah. Mungkin kamu tidak mau menerima kenyataan bahwa dialah yang mengajukan perceraian, tetapi semua wanita normal tidak akan bisa menahan diri jika suaminya melakukan hal seperti itu. Tentu aku hanyalah orang asing, tidak bermaksud menasihatimu. Aku hanya ingin bilang, pemberontakanmu dan semua yang kamu lakukan ini tidak akan berefek kepada ayahmu. Dia hanya peduli apakah bisa mendapatkan uang dari ibumu atau tidak hanya sekali. Jika dia bisa mendapatkan uangnya sekali, dia pasti akan menganggap ibumu sebagai ATM. Kamu hanya bisa membalas ibumu, tapi apakah ibumu harus menerima pembalasan dendammu ini?”


  “Kenapa kamu bilang dia tidak peduli denganku?” Jessica akhirnya berbicara, suaranya terdengar serak.


  Abraham duduk di samping Jessica dan berkata, “Kalau dia mempedulikanmu, seharusnya ketika datang, dia menanyakan kabarmu terlebih dahulu. Tetapi, dia bahkan tidak berpura-pura melakukannya, itu artinya pria itu tidak peduli dengan hal lain selain dirinya.”


  Jessica terdiam lagi, dia menggunakan tisu yang diberikan Abraham untuk menyeka wajahnya.


  Setelah membuang tisunya, Abraham melihat wajah Jessica yang cantik, hanya saja tertutup oleh riasan yang tebal tadi.


  “Kamu mungkin merasa dirimu tidak bahagia, dan merasa kalau ketidakbahagiaanmu berasal dari orang tuamu. Sehingga kamu ingin menggunakan cara ini untuk membalas mereka…,”


  “Kamu jangan asal bicara! Kamu kira dirimu siapa? Kamu kira kamu tahu semuanya?! Kita baru kenal berapa menit? Dan kamu sudah membicarakan prinsip  hidup denganku! Aku paling benci orang sepertimu. Kamu tidak tahu apa pun, jadi jangan berpura-pura seperti kamu mengerti sesuatu! Pergi dari sini! Aku tidak butuh tutor sepertimu!”


  Seketika, Jessica yang sudah membaik langsung berteriak lagi karena tersinggung sesuatu.

__ADS_1


  Abraham terkejut, tetapi dia langsung mengerti.


  “Baiklah, sepertinya aku salah menebaknya. Kamu bukan ingin membalas ibumu, juga bukan ayahmu. Di dalam hatimu, kamu sudah tidak menganggap dia sebagai ayahmu? Aku tahu kamu mendambakan kasih sayang, kamu merasa dirimu sudah tidak punya ayah, tetapi ibumu sibuk bekerja dan tidak memperhatikanmu. Jadi kamu memperlakukan dirimu seperti ini, supaya dia bisa lebih memperhatikanmu.”


  “Omong kosong! Bukan seperti itu! Aku tidak butuh perhatian siapa pun, aku memang suka seperti ini! Pergi kamu! Kamu sudah mendapatkan uangnya, urusanku tidak ada hubungannya denganmu! Pergi!”


  Melihat Jessica yang berteriak kencang, Abraham tahu dia sudah menebak pemikirannya.


  Setelah memikirkannya sebentar, Abraham lalu berdiri dan memberikan kunci rumah kepadanya.


  “Aku akan menghubungi ibumu. Tenangkanlah dirimu.” Selesai bicara, Abraham berjalan pergi.


  Di belakangnya, Jessica menatapnya dengan kedua mata yang terbuka lebar, dia tidak mengerti jalan pikiran Abraham.


  Baru berjalan dua langkah, Abraham kembali lagi. Dia mengeluarkan beberapa coklat dari sakunya dan memberikannya kepada Jessica, “Ketika perasaanmu sedang tidak baik, makanlah satu coklat. Itu bisa membantumu menenangkan diri.”


  Melihat coklat di tangannya, Jessica malah semakin marah, “Siapa juga yang mau coklatmu?!” Dia melemparkan coklat ke arah Abraham yang sudah berjalan jauh itu.


  Abraham tidak menoleh ke belakang lagi. Dia tahu di saat seperti ini, apa pun yang dikatakannya kepada Jessica, hanya akan mendapatkan pemberontakan yang semakin menjadi.


  Melihat Abraham yang pergi begitu saja, air mata Jessica mulai keluar lagi. Dia menatap gerbang pintu keluar dan terus bergumam, tetapi tidak tahu apa yang sedang dia katakan.


  Setelah sekian lama, akhirnya air matanya mengering. Kedua matanya menjadi buram, dunia menjadi tidak sejernih biasanya.


  Jessica seperti bisa mendengar suara Abraham lagi.

__ADS_1


  “Ketika perasaanmu sedang tidak baik, makanlah satu coklat. Itu bisa membantumu menenangkan diri.”


  Jessica menghapus air matanya dan melihat coklat yang sudah hancur karena dilempar olehnya. Setelah merasa ragu sejenak, dia berjalan ke sana dan mengambil coklatnya. Dengan hati-hati membersihkan debu di atas coklat itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


  Terasa manis, lalu juga ada rasa pahit yang spesial. Kedua rasa itu saling bertabrakan, mengundang selera makan Jessica.


  Ada sebuah perasaan tidak kasat mata yang mendorongnya, Jessica mulai memungut satu per satu coklat di lantai dan menghabiskan semuanya.


  Tidak tahu kenapa, Jessica benar-benar merasakan perubahaan moodnya menjadi lebih baik. Mungkin karena coklat-coklat itu, mungkin juga karena air mata yang membawa keluar semua emosi negatifnya.


  Dia memegang kunci yang diberikan Abraham, telapak tangan Jessica seperti masih bisa merasakan kehangatan yang ditinggalkan oleh Abraham.


  Tiba-tiba, Jessica berlari seperti orang gila ke dalam rumah. Dia mengambil hp dan menelepon Olivia.


  Olivia sedang rapat, tetapi ketika melihat telepon dari anaknya, dia memilih untuk mengangkatnya.


  “Berapa nomor guru tutor?”


  Olivia sedikit kaget, dia bertanya, “Guru Abraham sudah pergi?”


  “Cepat berikan nomornya kepadaku!” kata Jessica yang tetap tidak sopan, dia selalu menggunakan cara ini untuk berkomunikasi dengan ibunya. Tetapi Olivia bisa merasakan perbedaannya, Jessica tidak pernah meminta kontak tutor-tutor sebelumnya.


  Lalu walaupun kaget, Olivia tetap memberikan nomor Abraham kepadanya.


  Awalnya dia ingin menelepon Abraham dan menanyakan apa yang terjadi. Tetapi di dalam ruangan masih ada orang-orang yang menunggunya untuk melanjutkan rapat. Olivia kemudian menyimpan ponselnya dan kembali ke ruangan. Dia kembali berperan sebagai seorang atasan yang mengatur pekerjaan dengan baik.

__ADS_1


 


 


__ADS_2