
Mereka bertiga tidak menyangka akan mendapatkannya dengan mudah, mereka bahkan belum mulai mengancamnya. Karena sudah ada 1,6 juta di tangan, sebagai preman kecil berintegritas, mereka tentu tidak akan peduli dengan sisa beberapa puluh ribu itu. Melihat kepergian Abraham yang seperti tidak peduli itu, mata ketiga preman ini langsung terbuka lebar.
“Sialan, orang kaya memang beda, aku ingin sekali berteman dengannya!” Kata Rambut Merah dengan sungguh-sungguh, tetapi bayangan Abraham sudah menghilang sejak tadi.
Sebenarnya, mana mungkin Abraham merelakannya karena itu adalah uang makannya selama seminggu. Tetapi sudahlah, tidak ada gunanya berkelahi dengan tiga orang preman hanya demi 1,6 juta. Dia akan lebih rugi kalau pakaian barunya robek, apalagi kalau hp barunya rusak, itu bahkan lebih parah lagi.
Lagi pula 1,6 juta juga termasuk di dalam 20 juta itu, jadi lebih baik menggunakan uang untuk menghindari bencana dan juga artinya dia sudah menghabiskan saldonya.
Abraham dengan cepat keluar dari kekecewaannya, rasa senang setelah menghabiskan hampir 20 juta dalam beberapa jam membuat dia melupakan kerugian 1,6 juta.
Yang paling penting, Abraham merasa 20 juta sudah dihabiskan semuanya, jadi tidak peduli ini kejahilan ataupun bukan, dia sudah tidak memiliki tekanan lagi. Minggu depannya dia akan punya uang lagi untuk dihabiskan, kalau tidak ada pun, dia juga sudah senang.
Sore hari, teman-teman satu asramanya kembali ke kampus. Melihat pakaian Nike baru Abraham, terutama Air Jordan generasi ke-29 itu, semuanya mengira dia mendapatkan undian berhadiah.
Abraham menikmati sorotan seperti ini, lalu dia berkata dengan sombong, “Aku sebenarnya adalah generasi kedua yang kaya, hanya saja aku bersikap sederhana seperti biasanya. Sekarang karena sudah mau lulus, keluargaku sangat puas dengan penampilanku beberapa tahun ini, jadi pakaian Nike ini tidak ada apa-apanya.”
Mendengar ucapannya, tiga teman sekamarnya langsung menyuruhnya diam. Siapa pun tidak percaya dengan ucapan Abraham. Setelah tiga tahun bersama, semua orang tahu dengan kondisi keluarga Abraham. Generasi kedua yang kaya dari mana, siapa yang pernah melihat seorang generasi kedua yang kaya bisa sesenang ini hanya karena pakaian Nike?
Satu minggu berlalu dengan cepat. Hari Jumat, ketiga temannya sudah pulang ke rumah masing-masing. Asrama yang ramai kembali menjadi sepi, hanya tersisa Abraham seorang.
Hari Sabtu, Abraham tidur seharian, demi menyiapkan semangat untuk melihat tambahan saldo 20 juta di rekeningnya setelah lewat jam 12 malam nanti.
Karena sudah tidur cukup, Abraham memeluk buku berjudul Prinsip Mekanika dan berhasil bertahan sampai pukul 00.00 kurang 1 menit.
Mendengar alarmnya berbunyi, Abraham langsung bersemangat. Dia baru sadar kalau buku di tangannya terbalik.
Melihat detik demi detik yang berlalu begitu cepat, Abraham semakin tegang.
Apakah saldonya akan bertambah? Seharusnya lelucon kejahilan ini belum berakhir, karena dia sudah menghabiskan 20 juta itu di hari pertama. Lalu enam hari berikutnya tidak ada yang mencari masalah dengannya, selain pakaian dan hp barunya, kehidupan Abraham tidak berubah.
Pukul 00.01, Abraham langsung membuka hp dan mengecek saldo rekening...
Abraham menggelengkan kepalanya, dia memuat ulang halamannya lagi untuk memastikan tidak salah lihat, tetapi angkanya juga sama seperti tiga detik yang lalu.
__ADS_1
Kenapa 40 juta?
Kenapa bukan 20 juta?
Haha, 40 juta, Abraham semakin senang. Dia mulai memikirkan bagaimana cara untuk mengatur uangnya!
Harus makan yang enak. Iya, aku akan berangkat sekarang untuk makan enak!
Ketika berjalan keluar, Abraham mencium sebuah bau yang aneh yang familiar.
Baunya semakin kuat, Abraham tiba-tiba mengingatnya. Bukannya ini bau debu darah dari pria yang menghilang itu? Baunya sama persis.
“Ingat! Kamu harus menghabiskan semuanya! Kamu pasti tidak ingin menerima hukuman dari peraturan nomor nol!”
Suara aneh itu muncul di benak Abraham, dia teringat ucapannya. Dia juga mengingat hukuman dari peraturan nomor nol itu.
Anggota tubuhnya akan berkurang berdasarkan jumlah uang yang tersisa. Walaupun dimulai dari ujung kaki, setengah saja juga cukup mencabut nyawanya.
Abraham tiba-tiba mulai merasa takut, dia bahkan mulai gemetar. Dia terus mencium dan akhirnya sadar kalau baunya berasal dari kepalanya.
Hanya saja, kabut darah ini lebih tipis, tidak setebal pria pengendara mobil sport malam itu.
Merasakan dirinya dikontrol oleh sebuah kekuatan misterius, Abraham menyadari bahwa ini mungkin bukan kejahilan, tapi… benar-benar nyata…!
Astaga, ternyata semua ini kenyataan!
Tapi walaupun bukan kejahilan, aku sudah menghabiskan 20 juta, kenapa harus dihukum?
Abraham tidak bisa mempedulikannya lagi, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya sekarang.
Bau darah di udara sudah semakin tipis, Abraham mengangkat kepala dan melihat kabut asap di kepalanya sudah mulai menghilang.
Setelah beberapa detik, kabut darah sudah menghilang sepenuhnya. Hanya tersisa bau darah yang sangat tipis di kamarnya. Lalu setelah beberapa detik lagi, baunya juga ikut menghilang.
__ADS_1
Abraham akhirnya sadar, dia langsung membuka semua pakaiannya. Lalu mulai melihat dari ujung kakinya, untung 10 jari kaki yang jelek ini masih utuh.
Lalu dia melihat ke betis, paha, perut, lengan, sepertinya tidak ada yang kurang satupun!
Dia mengambil cermin di meja dan melihat wajahnya, sambil menepuk dada, dia berkata, “Untung, wajah tampanku masih utuh! Tetap masih tampan!”
Sambil menoleh ke belakang, dia mengarahkan cermin ke punggung. Setelah mengecek sana sini, Abraham tidak menyadari ada sesuatu yang hilang dari tubuhnya.
Tapi, ada apa dengan bau darah dan kabut darah di kepalanya barusan?
Abraham ingin memegang rambutnya…
Apa yang terjadi? Botak?!
Abraham yang kaget baru ingat ketika bercermin tadi, dia merasakan ada sesuatu yang salah dengan wajah tampannya. Tetapi mata, hidung, mulut dan telinga tidak ada masalah. Ditambah karena diselimuti rasa takut, dia juga tidak sempat memikirkannya.
Sekarang sambil memegang kepalanya yang botak dan licin ini, Abraham baru menyadari kenapa dia merasa dirinya sedikit asing di cermin tadi.
“Mana rambutku?!” Abraham berteriak dengan kencang melihat kepalanya yang botak di cermin.
Yang membuat dia jijik adalah, rambutnya tidak seperti digunduli, melainkan… seperti tidak pernah tumbuh.
Respon pertama, Abraham baru sadar kalau Bank Pembangunan Budak ini bukanlah sebuah kejahilan. Melainkan benar-benar terjadi. Kalau tidak, mana mungkin rambut hitamnya itu menghilang begitu saja? Lalu, cara rambutnya menghilang juga sama persis dengan pengendara mobil sport itu.
Respon kedua, Abraham juga tidak tahu apakah rambutnya akan tumbuh lagi atau tidak.
Respon ketiga, yaitu yang paling penting, “Aku sudah menghabiskan 20 juta rupiah. Walaupun bukan lelucon kejahilan, melainkan kekuatan misterius, kenapa aku masih dihukum?”
Abraham berjalan keluar dari kamarnya dengan kesal. Dia harus menanyakan kepada Tongkat Kuasa itu dengan jelas.
Tiupan angin malam membuat Abraham gemetar. Untung di malam hari tidak ada orang di lorong, dia tidak berani membayangkan jika bertemu dengan orang lain.
__ADS_1