
brum brum brum
"makasih ya udah anterin aku dan udah bikin aku nyaman gak kepikiran terus"senyum Zifa.
"iya"
jam menunjukkan pukul 17.00.
"nanti malem sibuk gak??"tanya Reza
"enggak emang ada apa tumben nanya??"balas Zifa.
"gak papa cuma tanya ,ya udah gw pulang dulu jangan pikirin Sinta lagi dia pasti sembuh kok oh ya dan sahabat Sahabat Sinta itu cuma nuduh lu jadi Lo gak perlu takut" tenang Reza .
Setelah berujar seperti itu Reza langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Zifa tak menjawab perkataan Reza tadi hanya memperhatikan punggung Reza yang mulai menjauh dari dirinya.
hembusan napas Zifa menghembus diudara lebih tepatnya hembusan nafas keputus asaan.
"eh anak mama udah pulang ,dari mana aja kok tadi mama kaya liat kamu ma Reza??"tanya mama
"gak dari mana mana aja mah cuma cari angin segar aja suntuk dirumah"senyum Zifa.
"kamu ada masalah nak??"
"e-enggak kok mah ya udah Zifa ke atas dulu capek hahah"bohong Zifa. Jujur saja sebenarnya ia ingin sekali bercerita kepada mama namun Zifa tak mau membebani pikiran mamanya dan akhirnya tak bercerita.
Sesampainya dikamar Zifa langsung menuju meja belajar meraih kunci yang selalu dia bawa lalu membuka laci yang ada didalam meja.
Zifa mengambil buku diary yang selalu ia simpan selama ini tanpa ada yang mengetahui.
*DEAR DIARY 1**5* DESEMBER 2017
hari ini sangat lah berat awalnya aku hanya ingin berjalan jalan mencari angin segar
namun.....
mengapa ada saja yang membuatku terjatuh dalam masalah??? kenapa harus aku?? kenapa selalu aku??
apakah aku harus melewati ini semua??
demi apapun aku tak mencelakai Sinta apalagi berencana untuk membunuhnya.
Ak-aku hanya tak sengaja melihatnya tertabrak oleh mobil!!!! apa aku salah menolong Sinta toh walaupun Sinta sering jahatin aku dia tetep teman aku (walau aku gak dianggap:( yah gak apa apa deh)
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat tengah asik asiknya Zifa menulis diary tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya dengan sigap Zifa langsung memasukkan buku diary nya kelaci dan membukakan pintu.
"eh mama tumben main ke kamar Zifa gak biasa loh heheh" ujar Zifa dengan cengengesan. Namun berbeda dengan mamanya ia malah menghembuskan napas dan masuk kekamar Zifa.
"nak mama boleh tanya gak" ucap mama yang sudah duduk manis diranjang Zifa.
"boleh ma mau tanya apa siap deh Zifa jawab udah kaya detektif aja mama nih"
"kamu ada masalah kan?? mama tau dari raut muka kamu walau kami gak cerita mama pun bisa tau"
"enggk lah ma Zifa gak ada masalah kok"jawab Zifa yang berjalan menuju mamanya dan ikut duduk ranjang kesayangannya.
"coba deh sini kepala kamu tidurin depaha mamah" senyum mama.
Tanpa banyak tanya Zifa langsung meletakkan kepala nya dipaha mama sesuai dengan instruksi.
"nak mama tau kamu lagi punya masalah mungkin kamu gak mau cerita sama mama biar mama gak kepikiran namun harus kamu ketahui nak inget nasihat mama gak semuanya akan berjalan dengan lancar saat kita hidup di dunia ini tapi kita bisa lewatin ini semua kalo kita tuh pakek ini"mama ZIFA menunjuk dadanya ya yang dimaksud adalh hati mau seberat apapun cobaan itu namun bila kita melalui cobaan itu dengan hati yang ikhlas dan tabah pasti cobaan itu akan berlalu ingatlah kehidupan ini seperti roda berputar tak mungkin yang dibawah akan selalu dibawah dan diatas tidak akan selalu diatas ada kalanya kita berada dibawah dan ada kalanya kita berada diatas.
Zifa yang mendengar nasihat mamanya langsung tersadar bahwa ia tak boleh mengeluh sebesar apapun cobaan itu ia akan melewatinya dengan hati yang tabah
"makasih ya mah nasihatnya mama ter the best deh"peluk Zifa.
ia merasa tenang karena anaknya tak seperti tadi yang terus murung.
Insting seorang ibu tak pernah salah mau sepandai apapun anak itu menutupi masalah namun masih akan kalah dengan insting seorang ibu.
"nah kalo gini kan enak ya udah yuk turun kebawah bantuin mama masak"senyum mama.
"ah mama kirain Zifa bakal dibebasin dari tugas hari ini" keluh Zifa.
Mamanya bukannya menjawab palah terkekeh kecil sambil berjalan keluar kamar untuk menuju kedapur.
"ayo nak cepet bantuin mama didapur papa dah mau pulang loh"
"iya iya bentar aku ganti baju dulu nanti aku susul 5 menit lagi ya"jawab Zifa yang masih tiduran dikasur.
Setelah mamanya hilang dari pintu Zifa menuju lemari dan mengambil baju untuk memasak lebih tepatny kaos sih.
"ma mana yang harus Zifa bantuin Zifa dah siap nih tinggal masak" teriak Zifa karena masih menuruni tangga.
"ya ampun nak kamu bisa kan gak teriak teriak gitu aduh kuping mama rasanya kaya mau pecah" bukanya menjawab mamanya palah mengomel tidak jelas.
Zifa yang mendengar ocehan mamanya hanya nyengir lebar dan tak ada rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
"ya udah tuh potong potong bawang merah sama bawang putihnya inget dicuci dulu oh ya sekalian cabe nya juga dicuci terus dipotong potong oke??"
"iya mah" jawab Zifa.
Ia mulai menggulung rambut indahnya kebelakang dan mulai melakukan perintah mamanya. Bawang cabai semua sudah terpotong potong menjadi kecil.
Zifa mengambil wajan yang menggantung lalu menuangkan minyak sedikit. Sambil menunggu minyaknya panas ZIFA mengambil sayur kangkung yang sudah dipotong potong oleh mamanya lalu mencuci sayur tersebut.
Minyak sudah panas lanjut memasukkan bumbu bumbu yang tadi sudah ia potong aroma bawang yang digoreng sungguhlah wangi setelah itu Zifa lanjut memasukkan sayur kangkung yang berada disebelahnya dan menuangkannya kewajan dengan hati hati tangan Zifa lihai mengambil ini itu untuk memasak. Tak heran juga sih dulu di SMP Zifa memenangkan lomba memasak tingkat kabupaten dan rasanya tak diragukan lagi walau saat disuruh masak Zifa terlihat malas namun saat memasak Zifa langsung bersemangat.
"emmmm baunya enak nih sayank mama mau icip-icip dulu donk dah laper nih heheh"canda mamanya.
"eh gak boleh tunggu papah, eh iya Zifa batu inget si adik tengil mana mah kok gak keliatan batang idungnya ?" tanya Zifa.
"dorrr"ada yang mengejutkan nya dari belakang .
Ternyata yang mengagetkanya adalh adiknya sendiri."ya ampun Yaya kalo Kaka jantungan gimana hah untung jantung Kaka Masih muda awas ya kamu"ancam Zifa.
"gak takut bwekkkkk"ledek Zifa.
mamanya yang melihat kedua tingkah putriny itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya dan tertawa.
"udah udah Yaya jangan godain kakak kamu terus dong kan kasian mendingan bantuin mama bawa ini kemeja makan"lerai mamanya.
Yaya yang mendengar perintah mamanya langsung menghentikan aksinya dan membantu mamanya tapi sebelum itu ia sempat mengejek Zifa.
"Untung adik aku kalo enggak udah kamu pukul deh"ujar Zifa mengelus dadanya dan mengikuti Yaya dari belakang menuju meja makan.
Tak lama setelah itu papa pun pulang.
"good evening my family gimana kangen gak ma papa" sapa papanya.
Zifa dan Yaya langsung menuju papanya dan memeluknya "papa kok lama sih kan Yaya udah laper dari tadi"keluh Yaya
"iya pah kok lama banget kan jadinya kita gak bisa makan duluan"tambah Zifa.
"OOO jadi kalian peluk papa neh bukan karena kangen tapi karena laper ya"ucap papanya yang pura pura marah.
"aduh kalian ini mulai lagi udah Ayuk makam "ajak mamanya.
mereka makan dengan tenang sesekali ada candaan ditengah makan malam mereka.
"kalian berdua langsung tidur ya udah malem besok sekolah kan??"tanya mama
"iya ma"jawab Zifa dan Yaya secara serentak.
__ADS_1