
Hari ini Zifa tak pulang bersama Reza ia memutuskan untuk pulang sendiri karena Reza sedang ada rapat OSIS. Sejujurnya ia ingin sekali menunggu Reza sampai selesai rapatnya namun ia berfikir berkali kali nanti kalau dia palah ganggu Reza saat rapat OSIS gimana.
Tin tin tin
Dari belakang ada sebuah mobil hitam yang menlakson Zifa yang tengah berjalan sendirian.
Zifa pun menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang telah menlakson nya.
"Hay mau bareng gak ? " tawar orang itu.
"Dengan memutar bola mata tanda bahwa ia tengah malas menghadapi orang seperti itu Zifa akhirnya menjawab " gak ah makasih atas tawarannya"
"tapi rumah kamu jauh loh dari sini" tawar orang itu lagi tak menyerah.
"Al aku kan dah bilang enggak kenapa masih mau maksa sih! " greget Zifa kearah orang yang ada di mobil itu.
Sedangkan Alvino yang diteriaki seperti itu hanya nyengir dan berlalu pergi.
Zifa pun menghembuskan nafas agar rasa sebalnya berkurang.
Setelah Alvino pergi Zifa melanjutkan perjalanannya tanpa disadari ternyata Alvino hanya memutar arah balik mobilnya dan kembali mengikuti Zifa dari jarak yang aman.
Sampai rumah Zifa tak menyadari bahwa ada yang mengikutinya ia masih santai saja melepas sepatu lalu menaruhnya ke rak sepatu yang berada di teras rumah.
"oh jadi ini rumah Zifa" manggut manggut Alvino dari dalam mobil. Alvino telah mengetahui rumah Zifa langsung memutar balik mobilnya untuk pulang.
**POV ALVINO******
"Hay sayang kamu dah pulang? " tanya Rina mama Alvino.
"belum mah ini lagi di kebun" jawab Alvino.
"just ada ada aja kamu nih! lah kalo kamu di kebun yang didepan mama ini siapa dong?? jangan jangan setan ya? " goda Rina cengengesan dengan wajah anaknya yang bertekuk didepannya .
Tak ada jawaban dari Alvino membuat tawa Rina berhenti"oke sorry mama salah, oh ya cepet sana siap siap gih nanti kan mau ikut mama ketemu rekan kerja"
"tapi mah Alvino gak suka acar gitu gituan. Mending Alvino ke club aja sama temen temen Al" ketus Alvino.
"no no no no and no pokoknya kamu harus ikut mama ketemu rekan mamah gak boleh bantah oke! " tekan mamanya.
__ADS_1
"oke oke lagian Al juga gak bisa kan nolak kemauan mamah? "
Alvino memutuskan untuk istirahat sebentar di kamarnya sebelum bebenah diri untuk menghadiri acara yang sangat dibencinya itu.
...****************...
... POV REZA...
"Dari mana aja kamu jam segini baru pulang? "
"Dari rapat OSIS pah, kenapa? "tanya balik Reza kepada ayahnya.
" Oh , jabatan kamu di osis apa? "
"wakil ketua" singkat Reza.
braaakkkkkk
Tiba tiba ayah Reza memukul meja yang ada di depannya.
"kenapa cuma jadi wakil hah!!! papah didik kamu itu supaya jadi yang paling bagus, ini osis aja cuma jadi wakil? cih sia sia papah selama ini anggap kamu anak! "
Reza pingin kaya temen temen Reza pah, mah walaupun mereka gak sekaya kita tapi mereka masih bisa menikmati kasih sayang dari kedua orang tua mereka" tak terasa airmata Reza ikut keluar bebarengan dengan perkataannya.
"udahlah pah, mah, Reza capek mau istirahat maaf atas perkataan Reza barusan tapi itu yang Reza umpetin dari dulu" Reza berjalan ke kamarnya yang ada dilantai dua.
Kedua orang tua Reza hanya menunduk mendengar perkataan itu dari anaknya.
Yang dikatakan oleh Reza memang benar.
Mereka membuat Reza bukan karena cinta yang tumbuh diantaranya namun mereka hanya ingin memiliki ahli waris saja.
"Pah kayanya kita emang keterlaluan deh sama Reza bagaimanapun dari dulu kita selalu sibuk sama pekerjaan, dan kita juga gak pernah perhatiin Reza mamah jadi merasa bersalah pah" ujar mamanya yang kini juga menangis ia seperti tau bagaimana perasaan Reza yang sangat hancur.
"ya papah juga merasa seperti itu" ucap papanya dengan mengusap rambutnya frustasi.
Clekk
Dari lantai dua terdengar suara membuak pintu.
__ADS_1
"Reza sayank kamu mau kemana nak? kenapa dandanan kamu kaya gini? " tanya mamanya.
"apa tadi?? sayank, nak?? hahah sejak kapan anda memanggil saya seperti itu ? urus aja semua bisnis kalian yang sangat berharga itu dari saya anak kandung kalian sendiri" ucap Reza dengan getir.
Setelah mengatakan itu Reza langsung mengambil motornya serta bersiap siap untuk pergi.
Dijalan Reza sangat kebut kebutan. Yang ada dipikiran Reza saat ini adalah kabur dari semua masalah yang sedang menimpa dirinya dengan bersenang senang di bar. Jujur sebenarnya Reza sangat enggan memasukki tempat tersebut namun karena dirinya masih dalam keadaan yang hancur maka masalah itu tak dipedulikan lagi.
Reza di dalam club sampai larut malam. Berbotol botol bir sudah ada di depan mejanya serta beberapa wanita pwnggoda yang menemaninya. Dengan wajah yang dimiliki oleh Reza maka semua wanita itu langsung tertarik padanya.
Namun sayang Reza tak tertarik sama sekali dengan wanita wanita yang ada di depannya.
"bir satu" tambah Reza lagi dalam keadaan yang sudah mabuk.
"ganteng kamu udah terlalu mabuk loh" goda wanita wanita itu sambil maju ke pangkuan Reza.
Reza yang diperingati oleh mereka tak menghiraukan itu. Ia masih tetap asik minum bir yang sudah ada di depannya serta menganggap wanita wanita dipangkuannya ini tidak ada.
Melihat reaksi Reza yang tak menghiraukan nya wanita wanita penggoda itu tersenyum miring.
"pah Reza dimana ya? dari tadi mama telfon tapi gak diangkat angkat" bagaimanapun mereka adalah orang tua Reza yang juga bisa memiliki rasa khawatir terhadap anaknya.
"papah juga gak tau mah tunggu aja mungkin nanti juga pulang sendiri" ucap papanya yang berusaha cuek namun sebenarnya juga tengah khawatir.
"Pah tapi bagaimanapun Reza gak pernah kaya gini!! ini semua salah mamah hiks, hiks, mamah yang terlalu keras didik dia mamah yang terlalu mengabaikan dia" sesal mamanya.
"udah mah nangis juga gak ada gunanya, udah ya jangan nangis" kali ini Papa Reza turun dari kursinya dan mendekap istrinya agar tenang.
Sambil mendekap istrinya ia menelfon beberapa orang kepercayaannya untuk mencari anaknya.
🗣️:"ya pak ada yang bisa saya bantu"
"ya saya perlu bantuan kamu, tolong carikan dimana keberadaan anak saya dan ini fotonya" sambil mengirim foto.
🗣️"oh baik akan saya usahakan untuk mencarinya "
"Cari sampai ketemu atau kalian yang akan menerima akibatnya"
🗣️"baik , akan saya laksanakan"
__ADS_1
Papa Reza menutup teleponnya dan kembali menenangkan istrinya.