
Kayla kembali ke kota tempatnya tinggal saat ini, menjalani rutinitas seperti biasa sebagai owner sebuah toko kue yang cukup terkenal di sana.
Sejak pertemuan dengan Dev waktu itu membuatnya lebih lega serta bahagia melihat Adrian lebih bersemangat sekolah dan melakukan apapun karena Dev mengajarinya banyak hal meski jarak memisahkan mereka.
Adrian kian intens berhubungan dengan ayah kandungnya lewat video call jika Dev tidak sempat menjenguknya. Melihat kedekatan itu membuat Kayla lemah kembali hatinya.
Hati yang sebenarnya menginginkan apa yang diinginkan semua anak lain seusia Adrian yaitu memiliki keluarga yang utuh, bermanja dengan orangtua yang lengkap namun mungkin tidak akan pernah terwujud pikir Kayla.
Sebab mendengar Adrian sudah bertemu ayah kandungnya membuat Gilang lebih peka dan segera mengurus percepatan rencana pernikahannya dengan Kayla.
Persiapan pernikahan yang hampir rampung dimulai gedung dan gaun serta keperluan lainnya, Gilang dan Kayla siap menikah dua minggu ke depan, kedua keluarga sudah bertemu dan mengatur tanggalnya.
Kayla gugup serta bahagia melihat Adrian dan Rafi antusias menyambut hari baik pasangan itu. Adrian yang kini bakal memiliki dua ayah dalam masa pertumbuhannya, dan Rafi akan mendapatkan sosok ibu pengganti sebaik Kayla.
Devano yang hanya bisa ikhlas atas pilihan hidup sang mantan istri, ia menerima semua takdir yang menyapanya dengan baik seperti Kayla ia juga ingin melakukan hal terbaik dalam hidupnya, mendampingi Nika yang kini semakin membaik sejak sering bertemu dan bicara dengan sahabatnya Kayla meski lewat panggilan video.
Melihat Adrian yang menerima dan sayang pada Khanza, membuat Dev mengubah prioritas hidupnya yang harus menjadi ayah yang baik bagi dua saudara beda ibu itu.
Bahagia mulai menyapanya sejak orangtuanya menerima dan menyayangi Adrian dengan antusias sebagai cucu lelaki yang baru mereka ketahui itu. Setiap akhir pekan Adrian diperbolehkan menginap di rumah nenek dan kakeknya.
Semua terasa ringan setelah sama-sama mengikhlaskan satu sama lain, Dev berharap sosok Gilang mampu menjadi suami dan pilihan yang tepat untuk Kayla yang ia cintai, meski ia belum pernah bertemu dengan Gilang.
Cinta memang tidak harus memliki, melihat Kayla bahagia dengan pilihan hidupnya tentu Devano harus pula bahagia dan melanjutkan hidup demi putra putrinya tercinta.
Sampai pada suatu pagi, Kayla yang sibuk mengurus pesanan toko kuenya baru menyadari bahwa ponselnya berdering sejak tadi.
"Bang Dev? Kenapa memanggilku sebanyak ini?" gumam Kayla terkejut melihat panggilan tak terjawab puluhan kali dari mantan suaminya itu.
Kayla melepas apron, ia menyerahkan semua urusan dapur toko kue itu ke karyawannya. Lalu ia melakukan panggilan pada Dev dengan segera.
Panggilan langsung terhubung.
"Hallo Bang Dev, maaf aku baru melihat ponselku. Aku sedang sibuk di toko, ada apa?" tanya Kayla heran.
Dev menjawab.
"Apa???"
Dan jawaban itu membuat Kayla terhenyak, matanya berkaca-kaca. Lalu ponselnya terjatuh begitu saja.
__ADS_1
Kayla gelagapan, ia memungut lagi ponselnya yang terjatuh ke lantai, beruntung panggilan itu masih terhubung.
"Bang Dev jangan bercanda, bukankah Nika sudah membaik beberapa hari ini? Bagaimana bisa?" ucap Kayla yang kini menangis tergugu.
Kabar duka yang baru saja ia dapatkan dari Devano. Nikayla meninggal dunia beberapa saat lalu setelah sekian lama melawan penyakit yang memang menggerogoti seluruh tubuhnya.
Kayla luruh ke lantai. Ia seperti kehilangan pijakan saat ini, bagaimana wajah cerah Nika yang baru saja kemarin sore melakukan panggilan video dengannya, wajah yang kian tersenyum sejak mereka bertemu beberapa waktu lalu.
Kini seolah tidak percaya, sahabat yang ia kira akan semakin membaik dalam pengobatan itu kini telah menemui titik akhir perjuangan hidupnya. Menemui ajalnya disaat semuanya telah membaik.
Hubungan mereka yang membaik, tidak ada dendam diantara keduanya, saling mendoakan untuk hidup dan cinta yang mereka pilih, kini semuanya sudah berakhir. Berakhir dengan baik.
Nikayla pergi dalam kelegaan setelah bertemu sahabat yang ia cari selama ini, sosok yang memberinya semangat sudah dua minggu terakhir hingga ia bisa menikmati sisa hidupnya dengan bahagia.
Selera makan yang perlahan muncul sejak bertemu Kayla, tenaga yang perlahan ada disaat mereka bertemu, kondisi badan yang ia rasa semakin baik dan bersemangat sejak Kayla terus menghubunginya.
Kini Kayla menangis sesenggukan, baru menyadari bahwa semua itu adalah nikmat Tuhan yang terakhir untuk sahabatnya sebelum beristirahat dengan tenang.
Kayla segera berdiri, ia menyerahkan semua urusan toko pada Ibunya. Segera pula ia menjemput Adrian dari sekolah guna membawa serta anaknya untuk ikut dengannya ke kota Dev tinggal saat ini.
Karena hanya jalur darat yang bisa ia tempuh, Kayla harus bersabar dalam bus yang kini membawanya pergi menemui jasad sahabatnya untuk terakhir kali.
Tanah yang kuning bertabur ribuan kelopak bunga, membuat Kayla tersungkur meminta maaf karena terlambat datang.
Suasana pemakaman telah sepi, hanya tersisa Devano yang berdiri bersama putranya Adrian menemani Kayla menumpahkan tangis di sana.
"Karena pihak keluarga tidak ingin menunda lagi karena takut kesorean dan tadi cuaca mendung hingga pemakaman dipercepat," ucap Dev sambil menyentuh pundak Kayla yang belum juga berhenti menangis.
Kayla tidak mampu berkata-kata lagi, ia hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Lama ia menetralisir perasaannya yang terasa jungkir balik saat ini, wajah Nika masih saja terngiang di ingatan.
"Kau harus tahu, dia pergi dengan tenang. Wajahnya menggambarkan keikhlasan, sudah seharusnya pula kita ikhlas atas perginya Nika hari ini, sudah menjadi waktunya, dia pergi dengan mengakhiri rasa sakit yang dia derita sekian lama Kayla, dia sudah tidak merasakan sakit lagi."
Kayla mengangguk lagi.
"Aku ikhlas Bang Dev, hanya saja aku menyesali tidak mendampinginya meski ke pemakaman karena tadi bus kami mengalami kendala di perjalanan. Maaf aku terlambat."
"Aku mengerti, kau sudah selesai? Kita pulang?" ajak Dev.
Kayla mengangguk lagi, lalu dengan berat hati ia meninggalkan pemakaman menuju rumah orangtua Nika yang sedang berduka saat ini.
__ADS_1
Adrian terus menyemangati Mamanya di perjalanan.
Sampai pada malam harinya, Khanza menangis tidak mau berhenti hingga semua keluarga panik dan hendak membawanya ke rumah sakit.
Kayla yang baru saja usai bicara dengan dua sahabat lamanya Rania dan Susan yang datang melayat, ia mengantarkan mereka ke mobil dan melambaikan tangan. Di tengah kesedihan seperti ini ada pula tersemat hikmah bagi Kayla yang bisa bertemu kedua sahabat lamanya itu kembali.
Lama mereka bicara di teras rumah orang tua Nikayla, melepas rindu dan saling bertukar kabar. Susan yang sudah menikah dan memiliki satu orang anak perempuan yang baru berumur dua tahun, Rania yang kini akan menjadi dosen karena baru lulus S2nya, dan tidak lama lagi ia akan menikah.
Kayla kembali masuk hendak berpamitan akan menginap di hotel bersama putranya, ia mendekati Mama Anita yang sedang menggendong Khanza yang menangis kencang.
"Bibi, ada apa ini?" tanya Kayla cemas.
"Entahlah Kayla, Khanza tidak bisa diam sejak tadi. Semua serba salah, menyusu tidak mau digendong juga tidak mau, Dev sudah kewalahan sejak tadi, Oma Lolita juga tidak bisa membujuknya. Kasihan dia, mungkin dia merasakan sakit atau apapun, Bibi ingin ke dokter saja, mana tahu Khanza ada yang sakit bagian tubuhnya."
Mama Anita menggendong cucunya dengan cemas sambil ia ikut menangis.
Kemudian Dev muncul dengan kunci mobilnya bersama sang Mama yang juga ikut tergesa-gesa.
"Ayo, aku sudah dapatkan kunci mobil ku!" seru Dev dengan raut cemas.
"Mama, adik Khanza kenapa?" tanya Adrian dengan raut cemas. Kayla menoleh putranya, lalu ia menoleh semua keluarga yang panik serta sedih melihat Khanza yang baru saja ditinggal mati ibunya diusia yang masih bayi.
"Bibi, kemari.... Coba ku gendong," pinta Kayla yang langsung mengambil Khanza dari Mama sahabatnya itu.
Perlahan Kayla mengusap lembut punggung bayi itu dengan sayang, meski masih menangis namun Khanza sudah lebih tenang dari sebelumnya, tidak sekencang tadi.
"Kemari, berikan botol susunya padaku Bi!" pinta Kayla pada Mama Anita.
Nenek bayi itu segera menurut, semuanya tercengang. Benar saja Khanza mau menyusu dan perlahan berhenti menangis dalam gendongan seorang Kayla.
"Kayla?" lirih Dev heran.
Kayla tersenyum.
"Jika kita panik, bayi bukannya berhenti menangis malah semakin menangis. Bawa tenang, cari ruangan yang luas dan tidak pengap, Khanza hanya haus, mungkin karena terlambat memberi susu jadi dia merajuk," jawab Kayla tersenyum lagi, ia mengelus pipi Khanza yang merah karena tangis.
Dalam senyum sungguh Kayla ingin menangis melihat Khanza yang begitu tenang dalam dekapannya saat ini. Perlahan pula mata bayi itu terpejam dan tertidur setelah menghabiskan sebotol susu.
Mama Lolita terdiam, ia tidak menyangka Khanza begitu mudah ditaklukkan oleh Kayla, sedang ia dan besannya tadi saja kewalahan menghadapi masalah itu.
__ADS_1
Terlebih Dev, kekaguman mana lagi yang tidak ia sematkan untuk mantan istrinya itu. Kayla pandai menaklukkan siapapun.