
Dev menatap wajah Kayla yang terlelap di samping putrinya yang malang, Kayla tidak jadi menginap di hotel sebab Khanza hanya mau diam dan tenang ketika di tangannya saja.
Di samping Kayla juga terdapat Adrian yang baru saja tidur. Pemandangan yang indah di mata Dev, sosok Kayla mampu menjadi pemenang rewel nya Khanza yang baru saja ditinggal sang Mama untuk selamanya.
Bagaimana ia bisa menata hidupnya lagi setelah ini pikir Dev, mencintai dan menunggu wanita yang kini hadir kembali di hadapannya tetapi kenyataan lain yang akan ia hadapi nanti.
Kayla rupanya telah berpunya, perempuan itu akan menikah dalam hitungan minggu.
Bagaimana pula ia bisa punya niat jahat untuk merebut Kayla kembali jika seperti itu, Dev tidak ingin punya niat sejahat itu untuk menyakiti Kayla yang kedua kalinya jika ia menghancurkan pilihan hidup mantan istrinya itu yang sudah mantap memilih lelaki lain untuk pendamping hidup.
Nikayla telah pergi selamanya, kini Khanza harus tumbuh tanpa seorang ibu. Bagaimana Dev bisa mendapatkan ibu pengganti sebaik Kayla, yang bisa memenangkan hati Khanza padahal masih bayi.
Dev harus menyiapkan hati untuk hidupnya yang rumit, disatu sisi ia mencintai Kayla disisi lain ia juga ingin Kayla bahagia meski pilihan tidak jatuh padanya lagi.
"Bang Dev," panggil Kayla pada lelaki yang termenung itu.
Dev terkejut.
"Maaf apa aku membangunkan mu?"
Kayla menggeleng, "Seharusnya aku yang meminta maaf sudah ketiduran di ranjang Nika."
Dev tersenyum.
"Bukan masalah, aku senang Khanza sudah bisa tidur pulas seperti itu. Dia menangis seperti tadi membuat semua orang takut, kasihan dia."
Kayla melirik Khanza yang kini tertidur pulas di samping Adrian. Dalam kesedihan ada rasa bahagia saat melihat Adrian tidur dengan lucu dan menggemaskan berdampingan dengan adik perempuannya.
"Kau lihat mereka begitu mirip," cetus Kayla tersenyum lagi.
Dev menoleh ke arah dua anaknya.
"Mereka kakak adik, tentu saja mirip."
Kayla mengangguk lagi. Mereka meninggalkan kamar membiarkan Adrian dan Khanza tidur dengan nyenyak tanpa diganggu setelah memastikan posisi keduanya agar aman.
Dev dan Kayla bicara banyak hal menjelang dini hari, mereka duduk di balkon kamar Nika yang menghadap ke kolam renang rumah besar itu.
__ADS_1
Percakapan yang akur untuk pasangan mantan suami istri yang kini memilih menjaga hubungan baik demi anak mereka.
"Aku akan bahagia jika kau bahagia Kayla, sungguh maafkan aku atas kesalahan yang telah lalu."
"Aku senang kau punya hati yang lapang Bang Dev, tidak semua kehendak kita akan terwujud. Kita hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan, dulu aku kira aku akan selalu menjadi pendamping hidupmu, tapi nyatanya aku akan mendampingi pria lain dalam kehidupan perkawinan yang lain pula."
"Percayalah tidak ada yang berubah antara kau dan Adrian meski aku menikah nanti, kau boleh menjemput Adrian kapanpun kau mau jika dia libur sekolah. Soal Khanza, aku rasa cari jasa pengasuh yang berkompeten mengurus bayi akan lebih baik ketimbang merepotkan Mama mu atau Mama Nika."
"Biar kedua nenek Khanza itu mendampingi saja pertumbuhan putrimu, kasihan mereka jika mengurus bayi diusia yang sudah tidak muda lagi," sambung Kayla memberi saran.
Dev mengangguk setuju.
"Aku setuju, tapi jika boleh berandai-andai aku mau kau yang menjadi ibu Khanza, menjadi istriku lagi dan Adrian akan mendapatkan keinginannya punya orang tua kandung yang utuh."
Kayla menarik napas dalam, ia terdiam sejenak saat mengingat momen Nika memintanya untuk menggantikan posisi sahabatnya itu lagi sebagai pengganti ibu bagi Khanza jika Nika tiada, dan kini ucapan Nika itu baru terasa bermakna.
Alasan Adrian juga menjadi sebuah dilema, biar bagaimana pun tentu Adrian punya keinginan agar orangtuanya utuh seperti temannya yang lain. Namun semua tidaklah mudah, yang berlalu sudah berlalu.
Kayla telah memilih Gilang untuk mengarungi biduk rumah tangga yang lebih baik dari sebelumnya.
"Maafkan aku Bang Dev, aku akan menikah. Dan itu bukan keputusan yang mudah, lagi pula kau masih muda, masa depan kita masih panjang, jangan larut dalam cinta masa lalu ku, mana tahu nanti ada Kayla lain yang akan mendampingi mu kelak. Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu, untuk Khanza dan kita semua!"
****
Semua waktu yang menyakitkan tidak terasa telah berlalu, duka perlahan berganti rutinitas yang kembali seperti biasa. Bukankah hidup harus tetap berlanjut?
Adrian menghampiri Kayla yang sedang bercermin dengan kebaya putih yang akan ia pakai saat akad beberapa hari lagi.
Sang Mama berbalik badan melihat anaknya datang.
"Sayang, kau sudah pulang? Kenapa tidak memberitahu?" tanya Kayla yang langsung memeluk putranya.
"Papa ada seminar lagi di kota ini besok, jadi aku pulang lebih cepat. Lagi pula aku ingin terlibat pada persiapan pernikahan Mama, aku dan Rafi sudah berjanji akan ikut andil dalam hal ini."
Kayla berdecak, putranya memang pandai berkata-kata.
"Semuanya sudah siap, lagi pula kita tinggal menunggu hari, dimana Papa mu?"
__ADS_1
"Ada di depan sedang bicara dengan nenek," jawab Adrian polos.
Kayla mengangguk, ia segera berganti pakaian dan menemui Dev dan Mama Hana.
"Hai," sapa Dev canggung, pria itu sedang menetralisir perasaannya saat Mama Hana memberitahu ibu dari putranya itu akan menikah beberapa hari lagi karena dipercepat, padahal pernikahan itu sudah ditunda bulan depan.
"Bang Dev, kata Adrian kau ada seminar lagi besok?" basa basi Kayla.
Dev mengangguk perlahan, "Iya, aku akan di disini untuk beberapa hari. Hmmmm... Sepertinya aku tidak diundang," sindir Dev mencoba tersenyum seperti biasa.
"Maafkan aku, benar.... Pernikahan kami dimajukan, entahlah aku hanya menurut saja. Dan kau boleh datang, tentu saja!" jawab Kayla sambil mengusap lengannya.
Pernikahan yang dimaju mundurkan oleh Gilang, entah apa alasannya jika sebelumnya dimundurkan untuk bulan depan, namun sekarang harus maju beberapa hari lagi.
"Bagaimana kabar Khanza?"
"Seperti biasa, dia masih rewel. Susah sekali mencari pengasuh yang tepat, sudah dua kali pengasuh minta berhenti karena tidak bisa menghadapi Khanza. Untuk sementara diasuh Mama dan pelayan di rumah saja."
Jawaban Dev membuat Kayla terdiam, ia sungguh kasihan pada bayi malang itu, hingga satu bulan kepergian ibunya Khanza masih suka rewel dan sakit-sakitan dan mengalami penurunan berat baran sebab tidak mau menyusu.
"Aku turut sedih untuk putri mu."
"Sudah takdirnya, aku hanya bisa pasrah."
Dev dan Kayla saling memandang untuk waktu yang lama dengan perasaan dan pikiran yang mengganggu keduanya. Beruntung Adrian datang, suasana menjadi hangat oleh tingkah lucu anak tampan itu.
Mereka duduk bertiga di teras rumah, berbicara soal sekolah Adrian dan banyak hal yang Adrian lakukan selama menginap di rumah nenek kakeknya.
Tanpa mereka sadari sebuah mobil berhenti tidak jadi masuk halaman pagar rumah Kayla, Gilang menghentikan mobilnya mendadak saat melihat siapa yang tengah bertamu di rumah calon istrinya saat ini.
Ia mempertajam penglihatannya saat menoleh pada pria yang sedang memeluk Adrian penuh sayang.
Ia mengerutkan dahi, setelah beberapa saat baru ia yakin bahwa pria itu adalah pria yang tidak asing baginya.
"Devano?" gumam Gilang yang masih berusaha meyakinkan diri atas penglihatannya, karena memang sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan mantan suami dari Kayla.
Beberapa saat kemudian, Gilang tampak memukul stir mobil dengan kesal dan geram.
__ADS_1
"Sial, ternyata dunia memang sempit."