
"Bang Dev? Apa-apaan ini? Adrian!" teriak Kayla yang menoleh Adrian melambai tangan padanya.
Dev tidak menggubris, ia tetap melajukan mobilnya keluar dari gedung. Bahkan kecepatannya mulai meningkat.
"Bang Dev berhenti! Ini tidak lucu!"
Dev tidak bergeming, ia hanya fokus pada kemudi.
Kayla mulai cemas, ia berusaha membuka pintu mobil namun nihil. Ia meronta dan memukul lengan mantan suaminya itu dengan marah namun sia-sia, Devano sudah berhasil membawanya keluar dari gedung hotel.
"Kau gila Bang Dev, kau gila! Ini pernikahan bukan hal yang main-main, ayolah turunkan aku."
Dev masih tidak menjawab.
"Bang Dev!" teriak Kayla mulai jengah.
"Sudah ku katakan kau tidak akan menikah dengan lelaki itu."
Dev menjawab dengan tajam.
"Ck, aku tidak menyangka kau sejahat ini padaku! Kau tega Bang Dev, orang-orang akan mencariku, jangan seperti ini aku mohon, Gilang akan sampai sebentar lagi," rengek Kayla mulai menangis.
"Tidak akan," jawab Dev yakin.
"Ini konyol, ini prosesi pernikahan bukan lelucon Bang Dev, semuanya sudah siap. Jangan mempermalukan keluarga ku, ayolah jika kau dendam padaku bukan seperti ini caranya."
"Ini bukan dendam sayang, ini cinta!"
"Apa? Bang Dev, jika kau mencintaiku kau tentu tidak akan menghancurkan hidupku!"
"Itulah yang sedang ku lakukan. Jika sebelumnya aku menerima dan mencoba ikhlas kau akan dimiliki pria lain, namun sekarang tidak. Jawabannya tidak sama sekali, kau tidak boleh menikah Kayla, apalagi dengan pria bajingan itu!"
__ADS_1
Jawaban Devano membuat Kayla frustasi. Betapa ia meronta namun terasa sia-sia sekarang. Mereka perlahan menjauh dari hotel.
"Kau gila Bang Dev."
"Anggap saja seperti itu."
"Turun kan aku!" teriak Kayla lagi.
"Tidak."
"Oh ya Tuhan.... Bagaimana ini?" ratap Kayla yang semakin menangis.
Dev menoleh sekilas, tangannya meraih jemari perempuan itu.
"Jangan sentuh aku! Aku tidak mengira kau bisa sejahat ini padaku Bang Dev!" ucap Kayla geleng kepala.
Dev tidak menjawab.
Dev menjawab lewat gelengan kepala. Kayla benar-benar frustasi dibuat lelaki itu. Ia terus mendesak namun semua sia-sia saja.
Sampai pada mereka berhenti di lampu merah, Kayla melihat mobil rombongan calon suaminya dengan arah yang berbeda dari mereka, Kayla berteriak sambil memukul kaca mobil berharap ada yang menolongnya.
Sia-sia, lampu telah berganti hijau. Mobil Dev melesat jauh meninggalkan rombongan mempelai pria yang akan menikahi Kayla sore itu. Mulus tanpa hambatan, tidak ada yang tahu Kayla telah melewati calon suaminya yang akan kehilangan mempelai wanitanya sebentar lagi.
Kayla hanya bisa menangis sepanjang perjalanan Dev membawanya pergi entah kemana.
Dev menyodorkan kotak tisu pada Kayla yang mulai merusak dandanan wajahnya karena tangisan. Perempuan itu mengambil tisu dengan gerakan marah, Dev terkekeh, tingkah Kayla sungguh menggemaskan menurutnya.
"Iya sebaiknya, kau lepas saja bulu mata itu," goda Dev.
Kayla melirik dengan tatapan tajam. Dev tertawa.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kau berubah gila sekarang!" lirih Kayla putus asa.
Dev hanya terkekeh, mereka mulai keluar dari jalanan kota.
"Kau mau membawaku kemana?" lirih Kayla dengan suara parau.
"Sejauh mungkin."
"Pikirkan Adrian Bang Dev, ayolah jangan seperti ini. Mama ku akan menanggung semuanya, keluarga Gilang bukan orang sembarangan. Aku mohon, ayo turunkan aku!"
Kayla mulai lemas, ia benar-benar seperti kehilangan tenaga.
"Putra kita genius, tentu dia tidak akan takut pada siapapun!"
Kayla kehilangan kata-kata sekarang.
Di hotel.
Semua merasakan ketegangan itu, disaat semua berkumpul menunggu mempelai perempuan datang dari kamar menuju Ballroom tempat prosesi pernikahan.
Namun nihil, Kayla tidak pernah datang. Semua menjadi heboh, bagaimana bisa mempelai wanita hilang dalam hitungan jam sebelum pernikahan.
"Mama pergi bersama Papa. Sepertinya Mama kabur dari pernikahan ini."
Kalimat dari mulut Adrian membuat semua terdiam, terkejut bukan main. Terutama Mama Hana.
"Adrian jangan bercanda!" sela sang nenek tidak percaya.
"Aku tidak berbohong, aku sendiri yang mengantar Mama ke mobil Papa. Dan mereka pergi satu jam yang lalu. Mama telah membuat keputusan, dia pergi. Kembali pada Papaku!"
"Devano!!!" gumam Gilang menggeram.
__ADS_1