
"Kopi?"
Kayla mengangguk lalu menerima sebuah gelas kopi instan dari tangan seorang pria yang baru saja mendudukkan diri di sampingnya.
"Terimakasih," sahut Kayla, ia mencium aroma kopi itu sambil tersenyum tipis.
"Siapa yang menelepon?" tanya Kayla pada pria itu.
"Rekan bisnis, biasa."
"Tapi kau tampak menghindari ku saat bicara, biasanya tidak," kata Kayla sambil menyeruput kopinya.
"Hanya perasaan mu saja, bukan siapa-siapa. Oke baiklah ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin, Adrian sudah mengatakan semuanya pada Rafi, aku ingin mendengarnya dari mu."
Kayla menatap Gilang, ia mengangguk lalu mulai menceritakan tentang pertemuan dengan Dev kemarin pada tunangannya itu.
Gilang tampak terdiam. Ia meraih tangan Kayla lalu menggenggam nya.
"Jika aku melarangmu bertemu pria itu, apa kau keberatan? Aku cemburu!" cetus Gilang menatap Kayla serius.
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Aku mengerti, tapi jangan kekanakan juga. Tidak mungkin aku tidak bertemu jika sudah menyangkut putra ku yang mungkin akan bertemu untuk waktu selanjutnya pada ayah kandungnya, aku tidak bisa melarang Adrian untuk dekat dengan siapapun apalagi itu adalah Papanya yang dia rindukan selama ini."
"Aku tidak suka caramu menceritakan tentang mantan suami mu yang brengsek itu. Aku benar-benar cemburu."
"Asal kau tahu, ayah putraku bukan pria brengsek!" jawab Kayla sambil menarik tangannya dari Gilang.
"Kau membelanya?"
"Ayolah Mas Gilang, aku tidak suka dengan sikapmu yang ini. Kau cukup posesif selama kita bertunangan dan kau tidak seperti sebelumnya, seolah kau tidak percaya padaku, bukankah aku sudah memilih mu?" ucap Kayla dengan malas.
Gilang gelagapan, ia segera menarik lagi tangan Kayla lalu meminta maaf dengan wajah memelas.
"Jika begitu, majukan saja tanggal pernikahan kita. Bukankah aku tidak pernah menolak untuk menikah cepat, hanya kau saja yang sibuk keluar kota. Kita sudah bertunangan hampir lima bulan tapi belum ada kepastian kapan kau akan menikahi ku. Kita bukan anak remaja lagi yang harus pacaran lama."
__ADS_1
Pada kenyataan nya pengusaha Batubara itu memang sedang sibuk keluar kota mengurus bisnis dan usahanya yang berada di pulau yang berbeda.
Gilang terdiam, entah apa yang menyebabkan ia menjadi seperti ini dari sebelumnya yang mendesak Kayla untuk menikah dengannya, namun setelah bertunangan ada saja alasan untuk menunda pernikahan mereka, semua hal itu membuat Kayla tidak nyaman.
Belum lagi sikap posesif Gilang yang mengekang Kayla untuk dekat dengan lelaki manapun jika pria itu sedang keluar kota. Dan sekarang mendengar cerita tentang mantan suami Kayla, Gilang seperti sedang kesal luar biasa.
"Aku mengerti kau cemburu, tapi aku bukan wanita remaja yang bisa dekat dengan siapapun. Lagi pula ini urusan hati dan rencana masa depan, aku menunggu mu Mas Gilang. Aku menunggu kau pulang dan menujukkan kepastian kapan kita menikah, tapi kenapa kau diam?"
"Apa ada masalah dengan pekerjaan mu?" tanya Kayla lagi.
Gilang tersenyum, "Kita akan menikah secepatnya, tunggulah aku menyelesaikan suatu urusan terlebih dahulu."
*****
Berselang dua hari, Gilang kembali pergi keluar kota. Entah apa urusannya Kayla pun sudah malas, ia merasa tunangannya itu bersikap tidak biasa dari sebelumnya jarang sekali keluar kota, namun satu bulan terakhir pria itu bahkan jarang sekali menetap.
Kayla mengutarakan pada Mama Hana untuk niatnya ingin bertemu Nikayla sebagai seorang sahabat. Perempuan paruh baya itu mengangguk setuju, Mama Hana tidak pernah melarang Kayla untuk berbuat kebaikan apalagi untuk mendukung kesembuhan orang lain pikirnya.
"Apa kau sudah izin pada Nak Gilang?" tanya Mama Hana.
"Aku belum menjadi istrinya, jadi aku tidak perlu izin untuk ini," sahut Kayla kesal.
"Tidak, hanya saja perdebatan kecil saja."
"Ujian orang yang akan menikah memang ada saja Kayla, jangan anggap suatu hal yang besar, mengertilah mungkin Nak Gilang memang sedang banyak pekerjaan."
Kayla tersenyum mendengar nasehat ibunya itu.
"Iya Ma, aku tidak menuntut apalagi mempersulit dirinya hanya saja dia tidak punya alasan pasti kenapa pernikahan kami selalu ditunda. Dan hal yang membuatku tidak nyaman, dia posesif sekali tapi diajak menikah cepat dia seperti belum siap. Entahlah!"
Kayla menatap ke samping sambil memajukan bibirnya.
"Dia posesif karena takut kehilangan mu," kekeh Mama Hana.
"Memang siapa yang akan menghilangkan ku? Mama terlalu berlebihan," canda Kayla sambil tertawa pelan, mereka mengobrol sambil sarapan sebelum mengantarkan Adrian ke sekolah lalu ke toko.
__ADS_1
Keesokan harinya, Kayla menghubungi Dev bahwa ia siap menjenguk Ni Kayla di rumah sakit, jarak yang ditempuh Kayla lumayan jauh dari kota tempatnya tinggal sekarang yakni hampir 7 jam perjalanan darat.
Karena tidak kuat menyetir sendiri, Kayla memutuskan untuk naik bis umum antar kota, ia datang seorang diri sebab Adrian tidak bisa ikut karena jadwal sekolahnya yang sedang padat.
Kayla menapaki kakinya setelah sekian tahun tidak kembali ke kota ia lahir itu, ada perasaan berbeda saat ia turun dari bus.
Hatinya merasa waktu sangat cepat berlalu, dulu ia sering melewati jalan kota dengan sepeda motornya untuk kuliah.
Kayla tersenyum, nostalgia pemandangan ibukota provinsi yang kini tampak lebih maju dan modern dari dulu membuat matanya memandang ke segala arah.
"Sudah lama sekali aku meninggalkan kota ini, Nikayla....... Aku datang untukmu!" ucap Kayla tersenyum sambil memesan taksi menuju rumah sakit.
Namun belum juga taksi datang lebih dulu sebuah mobil berhenti di hadapannya.
Kayla menoleh. Mobil itu rupanya tidak berganti setelah sekian tahun.
"Bang Dev?"
Dev tampak keluar dari mobilnya, ia menghampiri Kayla dengan semangat dan wajah yang tersenyum ramah.
"Ayo, aku menjemput mu kemari."
"Darimana kau tahu aku naik bus yang ini?"
"Aku sudah menunggu mu sejak tadi, aku melihat kau turun bus ini jadi aku kemari," sahut Dev polos.
Kayla masih diam.
"Ayolah, kau tamu ku jadi tidak boleh menolak, " ucap Dev menarik tangan Kayla untuk masuk ke mobilnya.
Kayla tersenyum tipis dan benar saja ia tidak bisa menolak.
"Kau masih pakai mobil lama?" tanya Kayla heran setelah mereka dalam perjalanan.
"Mana mungkin aku mengganti mobil yang di dalamnya banyak kenangan bersama mu," sahut Dev menggoda.
__ADS_1
"Ckkkk.... Basi," Kayla berpaling ke luar jendela, namun senyum nya terbit saat merasa geli mendengar kalimat Dev itu.
Dev terkekeh, ia tersenyum bahagia melihat Kayla benar-benar nyata duduk di samping kemudi saat ini.