
Brak. Suara tabrakan pun tidak terhindarkan.
Dev segera keluar dari mobilnya saat merasa menabrak sesuatu.
Betapa ia terkejut melihat seorang anak kecil tersungkur bersama sepedanya, Dev segera menghampiri dengan raut cemas.
"Hei, maafkan aku. Aku tidak sengaja sungguh, Ya Tuhan..... Mana yang sakit?" tanya Dev cemas setelah membopong anak lelaki itu ke tepi.
Anak itu mengaduh kesakitan, ia menunjuk siku serta pergelangan kakinya yang merasa sakit.
"Ini Paman, aduh... Ini sakit sekali," rengek anak itu meraba kakinya.
"Bagaimana kau bisa main sepeda di jalan raya, ini berbahaya. Maafkan Paman, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Dev yang langsung membawa anak itu masuk mobilnya.
Anak lelaki yang tampak sebaya dengan Adrian itu masih mengaduh saat mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Tenanglah, Paman akan bertanggungjawab. Mudah-mudahan kau tidak cedera berat," cetus Dev sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Iya Paman, aku juga minta maaf aku yang salah tidak melihat saat menyeberang," balas anak sambil wajahnya meringis.
"Bisa kau beritahu alamat dan nomor telepon orang tua mu? Biar ku hubungi!"
Anak itu mengangguk.
"Baiklah, siapa nama mu?"
"Rafi Paman."
"Oke, sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit terdekat. Bersabarlah Rafi."
Rafi mengangguk lagi disela rasa nyeri yang ia alami akibat kelalaiannya tadi.
Di instalasi gawat darurat, Rafi ditangani oleh dokter dan perawat yang berjaga sore itu. Beruntung tidak ada cedera parah, hanya terkilir di bagian pergelangan kaki kirinya dan lecet bagian siku saja.
Dev sudah menghubungi orangtua Rafi untuk segera datang ke rumah sakit. Dev setia mendampingi Rafi yang belum bisa keluar IGD karena menunggu proses administrasi biaya yang harus ia keluarkan.
Sesekali ia menatap wajah Rafi, ia merasa Rafi mirip seseorang yang tidak asing baginya. Wajah Adrian kemudian muncul di benaknya, anak yang seumuran dengan putranya baru saja ia tabrak meski tidak sengaja.
Bagaimana jika ini terjadi pada Adrian, sungguh Dev tidak ingin putranya terkena musibah seperti ini, anak seumuran Rafi dan Adrian memang butuh perhatian khusus disaat mereka asyik bermain, anak lelaki yang lebih aktif dari anak perempuan tentunya.
__ADS_1
Dev heran kenapa Rafi bisa main ke jalan raya, bagaimana pola pengawasan orang tuanya saat anak itu bermain keluar dari lingkungan rumah.
Entahlah Dev tidak ingin menerka-nerka, ia bersyukur Rafi tidak mengalami hal yang mengerikan daripada sekarang, ia menunggu untuk bertemu orang tua Rafi agar bisa meminta maaf atas kecelakaan ini.
"Rafi, boleh paman bertanya?"
"Boleh Paman ingin bertanya apa?" kata Rafi polos sambil terus memegangi perban di siku tangan kirinya.
"Orangtua mu tidak melarang kau bermain jauh? Kenapa kau bisa main ke jalan raya? Ketahuilah nak, itu sangat berbahaya."
"Ayahku sibuk bekerja dan mempersiapkan pernikahannya, aku setiap hari hanya dijaga pengasuh. Kebetulan pengasuh ku lagi membuatkan ku makanan, jadi aku main saja dulu," jawab Rafi polos.
Mendengar itu membuat Dev terdiam, seperti inilah jika anak bermain jauh dari pengawasan orang tua, meski pengasuh sekali pun yang dibayar belum tentu bisa menjaga anak dengan baik.
"Lain kali tidak boleh seperti ini oke? Pengasuh mu harus tahu kau ke mana, dan lagi pula tidak boleh keluar lingkungan rumah tanpa izin apalagi ke jalan raya, ingat Rafi jalan raya itu berbahaya untuk anak kecil."
Rafi mengangguk.
"Iya Paman, aku minta maaf....."
Mendengar itu Dev menjadi gemas, ia mengusap kepala Rafi.
"Kenapa Ibu dan Ayahmu lama sekali?" tanya Dev sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Dev terdiam, ia tahu sekarang bahwa Rafi tidak bersama kedua orangtuanya secara utuh. Teringat lagi ia akan Adrian, beginikah pola asuh anak yang orang tuanya bercerai berai.
Dimana ayah yang sibuk bekerja, seperti halnya Rafi ia hanya diasuh oleh pelayan yang dibayar. Bukan seorang ibu yang seharusnya menjaga dan mengawasi sang putra bermain.
Dev jadi bertanya-tanya dalam hati, bagaimana Adrian bermain selama ini, siapa yang mengawasinya jika Kayla sibuk di toko, ia bersyukur saat teringat Mama Hana, Dev yakin putranya tidak seperti Rafi yang lepas kontrol orangtua saat bermain.
"Baiklah sayang, Paman dipanggil pihak administrasi. Kau boleh tidur saja dulu menjelang orangtua mu datang kemari."
Rafi mengangguk dan tersenyum pada Dev yang menjauh.
Administrasi sudah selesai, hanya menunggu resep obat yang sedang disiapkan untuk pengobatan di rumah.
Di depan apotek rumah sakit yang kebetulan berada di depan ruangan IGD. Dev melihat Kayla berjalan tergesa ke arahnya, pria ini heran kenapa mantan istrinya itu kini berada di rumah sakit.
"Kayla?" gumam Dev bingung.
__ADS_1
Lelaki ini langsung teringat Adrian, jangan-jangan Kayla ke rumah sakit karena Adrian pikir Dev.
Segera Dev menghampiri Kayla namun ternyata Kayla malah mengarah pada sosok Rafi yang ikut menunggu resep di kursi tunggu.
Dev menghentikan langkahnya, ia melihat Kayla memeluk Rafi dengan wajah cemas. Perlahan ia mendekat.
"Sayang kau tidak apa-apa? Bagaimana bisa kau tertabrak Rafi, kau membuat Mama cemas!"
"Kayla?" panggil Dev penasaran.
Kayla menoleh.
"Bang Dev? Apa kau yang menabrak Rafi?"
Dev tidak langsung menjawab, dalam hati pria ini langsung teringat perkataan Rafi yang mengatakan calon Mama barunya juga akan kemari untuk anak itu. Apa Rafi calon anak sambung dari Kayla?
"Bang Dev?"
"Kayla aku......" Dev tergagap sendiri.
Rafi menjelaskan bahwa bukan kesalahan Dev yang menabraknya, melainkan ia yang telah ceroboh dan tidak memberitahu pengasuh nya jika bermain jauh.
Kayla lega ternyata Rafi tidak cedera serius akan kecelakaan itu.
"Maafkan aku Bang Dev, terimakasih sudah mau bertanggung jawab dan membawa Rafi ke rumah sakit. Ayahnya akan datang sebentar lagi," ucap Kayla pada Dev yang terdiam sejak tadi.
"Iya, aku juga minta maaf...."
Dev menarik napas lalu kembali bertanya, "Apa Rafi adalah?"
Kayla mengangguk, "Dia sudah seperti putraku, teman dekat Adrian sejak kecil. Ayahnya calon suamiku."
Jawaban Kayla membuat Dev semakin terdiam, bagaimana bisa ia menabrak anak yang akan menjadi saudara sambung putranya tidak lama lagi.
Kayla sibuk memberi perhatian pada Rafi, Dev melihatnya, kedekatan Kayla dan anak itu layak ibu dan anak. Sungguh Kayla punya aura keibuan yang kuat, semua hati bisa ia kuasai, bahkan Khanza yang masih bayi saja bisa jatuh hati pada perempuan itu.
Dev mengambil obat dari loket apotek setelah dipanggil oleh petugas. Namun saat ia menoleh lagi pada Kayla dan Rafi yang menunggu, sungguh ia dibuat terkejut saat sosok pria mendekati keduanya dengan tergesa.
Dev menajamkan penglihatannya pada sang lelaki yang kini memeluk Rafi dan memegang tangan Kayla.
__ADS_1
Benar saja, wajah itu. Dev masih sangat hafal wajahnya. Wajah yang ingin sekali ia lenyapkan dari muka bumi ini.
Dev mulai melangkah mendekat dengan wajah memerah.