
Kayla hanya bisa tersenyum saat pujian-pujian akan kecantikannya melayang dari mulut sang penata rias.
Di kamar sebuah hotel dimana acara prosesi pernikahannya akan dilaksanakan dalam hitungan jam, Kayla tidak banyak bicara sejak tadi. Hanya menatap wajahnya yang kini sudah siap dengan dandanan sederhana sebagai permintaan darinya untuk hari bahagianya hari ini.
Dandanan flawless dipadu dengan kebaya putih yang berkilau oleh hiasan swarovski sebagai busana pernikahan hari ini.
Kayla mengabaikan pujian demi pujian yang ia dapatkan, ia hanya fokus pada cermin yang menampilkan wajah yang membuatnya dejavu akan satu hari dimana hidupnya berubah hampir tujuh tahun lalu.
Kini ia kembali akan menikah tapi tanpa paksaan, menikah dengan rencana yang baik dan matang sejak lama bukan mendadak mempelai seperti waktu itu.
Tapi kenapa hatinya merasa lain saat ini, gugup dan tidak tenang. Kenapa rasanya tidak beda dari dulu, tetap saja takut. Beberapa kali Kayla menetralisir perasaannya dengan mengambil napas dalam serta meremas tangannya yang berkeringat.
Mama Hana tersenyum menghampiri putrinya, ia menyentuh pundak Kayla dengan lembut.
"Sayang, kau gugup?"
Kayla menatap ibunya dari cermin.
"Entahlah," jawab Kayla ambigu.
"Atau sudah tidak sabar?" goda Mama Hana tersenyum.
Akhirnya Kayla tersenyum juga.
"Mama membuatku malu, mana Adrian?"
"Sepertinya dia masih di kamar, Rafi juga mencarinya sejak tadi. Mama akan lihat dia di kamar, jangan-jangan dia tertidur, Adrian begadang semalam karena menelepon Papanya. Entah apa yang mereka bicarakan hingga begitu larut untuk tidur."
Kayla mengenyit heran, kenapa Adrian dan Dev saling menelepon lama seperti itu, biasanya juga tidak.
"Apa yang mereka bicarakan? Apa Bang Dev menjelekkan Gilang pada Adrian di telepon?" gumam Kayla dalam hati, ia mulai berpikir ke arah sana.
Pantas saja ia merasa putranya tidak nampak sejak tadi.
"Benarkah? Apa Adrian mengatakan sesuatu pada Mama?" tanya Kayla.
Mama Hana menggeleng.
"Tidak, dia tidak mengatakan apapun. Hanya mengatakan jika adiknya sedang sakit, itu saja."
Kayla terdiam, ia teringat Khanza sekarang. "Khanza sakit?" ucap Kayla bertanya sendiri.
"Hei tenanglah, jangan dipikirkan oke? Ini hari besarmu, Mama akan cari Adrian. Pengantin tidak boleh keluar kamar, biar Mama yang cari putramu."
Kayla mengangguk mengerti, setelah Mama Hana keluar kamar ia mendadak sedih jika teringat wajah mungil putri sahabatnya itu. Khanza sakit? Berulang kali Kayla bergumam akan hal itu, ia menjadi kasihan jika memang anak itu sakit lagi, ia tidak tega jika harus melihat Khanza rewel sepanjang malam jika memang sedang sakit.
Belum juga lama Mama Hana meninggalkannya, Adrian muncul dibalik pintu.
"Sayang, kau kemana saja?" tanya Kayla mendapati putranya yang baru datang padanya sambil berpelukan.
__ADS_1
Ponsel yang ia pegang kini ia taruh di meja rias, ponsel yang terus menerima pesan dari sang calon suami yang akan tiba sebentar lagi ke gedung pernikahan mereka bersama keluarga besarnya.
"Mama boleh aku minta tolong?" tanya Adrian.
"Minta tolong apa sayang? Memang kau mau apa?" balas Kayla terkekeh sambil mencubit pipi putranya dengan gemas.
"Bisakah Mama ikut aku sebentar?"
Kayla mengerutkan dahi.
"Adrian? Kau mau apa?"
"Ayolah, hanya sebentar. Lagi pula belum mulai juga acaranya. Aku butuh Mama melakukan sesuatu!" sahut anak itu lagi.
Adrian terus membujuk Mamanya untuk ikut keluar. Karena tidak tega akhirnya Kayla menuruti kemauan sang putra yang terus menarik tangannya keluar kamar hingga menuruni lift.
Tidak ada yang mencegah sebab kamar pengantin tidak ada siapa pun di sana kecuali mereka berdua hingga Adrian leluasa membawa Mamanya pergi tanpa tahu siapapun kecuali cctv.
Kayla menjadi heran saat Adrian malah membawanya ke tempat parkir mobil.
"Adrian jangan bercanda, kau mau membawa Mama kemana? Mama tidak boleh keluar dari hotel?" cegah Kayla saat mereka menuju sebuah mobil.
"Hanya sebuah kejutan pernikahan untuk Mama, hanya sebentar aku janji!" jawab anak itu yang terus menarik tangan Kayla.
Kayla hanya menggeleng seraya tersenyum, putranya memang suka membuatnya bertanya-tanya.
Sampai pada langkah Kayla berhenti mendadak saat berhadapan dengan seorang pria yang ternyata sudah menunggunya sejak tadi.
"Ck, apa untuk ini kau membawa Mama kemari?" tanya Kayla kesal pada putranya.
Adrian tersenyum, "Jika aku jujur, Mama tidak akan mau menemui Papa. Karena Papa tidak diundang dan tidak bisa masuk, jadi Mama saja yang kemari."
Kayla menghembuskan napas kasar. Kini ia beralih menatap Dev dengan mata tajamnya.
"Kenapa kau kemari Bang Dev? Sudah ku katakan kita tidak ada urusan apapun lagi."
"Baiklah apapun tanggapan mu aku mohon beri aku sedikit waktu, aku ingin kita bicara sebentar."
Kayla berdecak.
"Kau tidak lihat? Aku sudah mau menikah, sebentar lagi Gilang dan keluarganya sampai kemari. Memangnya kau mau bicara apa kenapa tidak di telepon saja?" tanya Kayla kesal.
"Itu salah mu kenapa nomor ku kau blokir?"
Kayla terdiam, ia membenarkan dalam hati sebab nomor Dev telah ia blokir dari ponselnya.
"Jika menyangkut Adrian, kau boleh bicara sekarang!"
"Aku ingin bicara berdua."
__ADS_1
"Bang Dev jangan bercanda! Aku tidak punya waktu."
"Ayolah sebentar saja, Papa sudah menunggu Mama sejak tadi," sela Adrian.
Kayla menoleh putranya dengan heran.
"Kau dengar?" ucap Dev tersenyum puas.
"Bicara sekarang! Memang kau mau bicara dimana?"
"Di mobil sebentar, Adrian akan menunggu iya kan nak? Lagi pula kau pasti tidak ingin dilihat orang lain jika sedang bicara denganku."
Adrian mengangguk.
"Bang Dev?"
"Ayolah, ini terakhir kali kita bicara berdua sebelum kau menikah. Percaya padaku, aku tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak di depan putra kita? Hanya beberapa kalimat sebagai ucapan pernikahan mu."
Kayla menatap Dev curiga. Lagi Adrian mendorong Mamanya masuk mobil.
Dengan malas akhirnya Kayla menurut karena enggan berdebat di depan sang putra, Dev mengedipkan mata dengan bangga pada putranya yang pintar.
"Hanya lima menit, segera bicara aku tidak punya banyak waktu! Aku tidak bilang siapapun jika keluar kamar. Nanti aku dicari!" ucap Kayla mendesak Dev untuk segera bicara setelah Dev ikut masuk mobil.
Adrian menunggu di luar.
Dev menarik napas dalam. Kayla melirik tajam.
"Kayla sebenarnya aku....."
"Aku apa?"
"Oke jangan marah."
"Bang Dev, kasihan Adrian menunggu. Segera bicara!"
"Kayla sebenarnya aku..."
"Apa?"
"Aku kemari hanya ingin......!"
Kayla mulai kesal, ia mencoba membuka pintu mobil ingin keluar namun tidak bisa.
"Kenapa tidak bisa dibuka? Bang Dev jangan bercanda! Aku harus kembali sekarang, ini sudah lebih dari lima menit tapi kau tidak bicara apa-apa. Jika ingin bergurau bukan waktunya!" bentak Kayla mulai jengah saat tangannya tidak bisa membuka pintu mobil itu.
"Dan untuk itulah aku kemari, aku hanya ingin menculikmu dari pernikahan ini!" jawab Dev enteng seraya menghidupkan mobilnya. Perlahan ia melajukan mobil itu meninggalkan Adrian yang tampak melambai tangan dengan senyuman geli.
"Bang Dev!!"
__ADS_1
###
Maaf pemirsah, otor lagi ga enak body jadi lama ga up. Lanjut yaaa besti!