KAYLA, Sang Pengganti

KAYLA, Sang Pengganti
Dilema


__ADS_3

"Bang Dev?" lirih Kayla seraya berjalan mendekat.


Pria itu masih tersenyum, dengan jas rapi dihiasi dasi kupu-kupu Dev yang tampan menyambut kedatangan Kayla dengan perasaan berbunga.


Kayla merasa tidak percaya, rupanya ia sedang dikerjai saat ini. Bukan ke acara resepsi pernikahan teman seperti yang Dev janjikan kemarin ternyata sebuah meja bundar yang menantinya dengan wajah mantan suami yang berdiri siap meminangnya sekarang.


Kayla tahu maksud dari pemandangan itu, makan malam romantis apalagi jika bukan untuk membujuknya kembali pada Dev. Kayla hanya bisa menggelengkan kepala merasa tidak percaya Dev melakukan semua itu untuknya.


Gaunnya cantik bak Cinderella, menyapu indah kelopak mawar yang ia lewati menuju seorang Devano.


Perempuan berumur dua puluh lima tahun itu menerima uluran tangan mantan suaminya saat sampai meja bundar.


"Aku tidak percaya kau melakukan semua ini!" ucap Kayla melihat sekeliling.


Dev terkekeh, ia menuntun Kayla untuk duduk di kursi yang telah disiapkan.


"Semua ini dikerjakan beberapa petugas hotel, aku hanya membayar mereka."


Kayla melirik Dev sambil geleng kepala.


"Aku kira kita memang menghadiri resepsi, kebetulan sekali ada yang menikah di hotel ini. Oh aku tertipu," balas Kayla tertawa kecil.


Perempuan itu tampak bersikap biasa, ia melirik semua makanan di meja.


"Kau suka kejutan ini?" tanya Dev dengan wajah berharap.


Kayla mengangguk, "Aku suka, sepertinya makanan ini enak dan mahal. Aku jadi lapar," jawab Kayla lagi.


Dev menghembus napas kasar, "Kau tidak suka pada yang membuat kejutannya?"


"Kau jadi repot hanya untuk menyenangkan ku, terimakasih Bang Dev!"


"Apapun untukmu sayang," ucap Dev seraya mengecup pipi Kayla tanpa malu.


Kayla terkejut, ia menatap Dev dengan tajam. Dev tertawa sambil mengangkat dua jarinya.


"Ayo kita makan!" ajak Kayla enggan berbasa basi.


Kayla hendak mengambil sendok namun tangannya berhenti saat tangan Dev lebih dulu menyentuh tangannya.


"Kayla."


"Iya Bang Dev?"


"Aku melakukan ini tentu ada maksud lain."

__ADS_1


Dev mulai serius. Mendengar itu seolah Kayla tidak siap, namun ia tidak bisa menghindar tatapan pria itu sekarang.


"Bisakah kita makan dulu, aku lapar!" elak Kayla seraya menjauhkan tangan Dev dari tangannya.


Devano tampak frustasi, ia tahu perempuan itu sedang menghindari perasaannya.


"Baiklah, ayo kita makan!" ajak Dev mengalah.


Beberapa saat mereka hening, Kayla yang sedang berusaha mengunyah makanan seperti biasa itu tidak bisa menyembunyikan kegugupan di dadanya saat melirik wajah Dev yang kini fokus pada piring di depan mereka.


Seleranya kini menghilang entah kemana, untuk menelan satu suapan saja Kayla sangat susah rasanya. Ia harus bersikap seperti apa nantinya jika Dev mulai bicara serius lagi.


Ia benar-benar berada dalam dilema cinta yang besar. Ia tahu maksud Dev membawanya kemari malam ini jika bukan untuk merayunya lagi, makan malam romantis yang seharusnya milik pasangan kekasih atau suami istri.


Dev menangkap raut Kayla yang tampak tidak nyaman, ia melihat piring Kayla yang masih belum dimakan padahal perempuan itu mengeluh lapar sejak tadi.


"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?" tanya Dev membuyarkan lamunan Kayla.


"Enak, hanya saja aku....." ucap Kayla menggantung.


Dev tersenyum, ia meraih tangan Kayla lagi.


"Aku tahu kau gugup."


"Kayla."


Perempuan itu tidak menjawab namun tatapan mereka tidak terputus.


"Aku tahu mungkin beribu maaf dariku tidak bisa mengobati luka hatimu yang pernah ku sakiti dulu. Tapi aku menanggung penyesalannya hingga sekarang," ucap Dev mulai bicara serius lagi.


Kayla hanya diam menatap Dev tidak berkedip.


"Aku mencintaimu, seperti dulu.... Tidak ada yang berubah dari perasaan ku meski kita lama terpisah, aku tahu tidak guna mengungkapkan penyesalan yang mungkin kau muak mendengarnya. Tapi kini, aku disini kau juga disini dalam takdir kita yang semakin membaik."


Perempuan itu tampak berkaca-kaca.


"Aku benar-benar ingin kau kembali padaku, apalagi kita punya putra yang seharusnya merasakan kasih sayang dari orangtua yang tidak tinggal terpisah. Bukan hanya itu Kayla, bukan hanya Adrian tapi aku benar-benar membutuhkan mu, kau membuatku jatuh cinta berkali-kali. Tapi kau benar-benar sulit dimiliki, kau semakin dewasa semakin memegang prinsip, tidak mudah dirayu meski dulu kau yang pertama menginginkan ku."


"Aku bahkan kehilangan akal untuk menarik perhatian mu lagi, ayolah Kayla..... Kita bisa memperbaiki semuanya bersama, aku mencintaimu Kayla sungguh," ucap Dev dengan raut penuh harap.


Kayla diam, ia menunduk sekarang. Bukan kata-kata Dev melainkan bayangan wajah Nikayla dan Khanza saat ini membuatnya bertambah sukar menerima perasaan Dev lagi.


Entahlah, Kayla tidak bisa mengungkapkan semua itu dengan kata-kata.


Dev mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah cincin ia sematkan di jari manis tangan cantik Kayla yang ia pegang saat ini. Kayla masih diam, ia tidak menolak namun tidak juga menjawab.

__ADS_1


Ia memperhatikan wajah Dev yang tampak berharap padanya.


"Aku melamar mu dengan segenap perasaan dan cintaku, jika dulu kita diikatkan oleh takdir yang dibuat-buat, namun kini aku ingin mengikat mu seumur hidupku. Aku serius Kayla Khanzaniah, menikahlah denganku!!"


Kayla masih diam.


"Bukan menikah kontrak atau bermain-main seperti dulu, menikahlah denganku.... Mendampingi ku di sisa kehidupan kita bersama anak-anak, aku tidak menjanjikan apa-apa selain menegaskan bahwa yang pernah terjadi dulu tidak akan ku ulangi."


Dev mengecup tangan Kayla yang sudah bertahta cincin berlian yang sudah ia siapkan.


Namun siapa yang menyangka, Kayla tidak menjawab apa-apa selain wajahnya yang tampak murung dengan pikiran yang menerawang entah kemana.


Dev meraih wajah Kayla yang menunduk tanpa kata-kata.


Tatapan mereka kembali menyatu, hening. Cukup lama saling menatap dalam perasaan masing-masing.


Sampai pada Dev mendekatkan bibirnya pada wajah Kayla, seketika pria itu ingin mencium bibir perempuan itu yang tidak bisa ia tahan sejak tadi.


Namun Kayla dengan cepat menghindar, ia berpaling ke lain arah hingga ciuman itu tidak sempat berlabuh.


Dev tampak kecewa. Ia tidak mengira mendapat penolakan padahal Kayla tidak menolak sejauh perasaan dan kata-katanya tadi.


"Maafkan aku," lirih Kayla pelan.


Dev tidak ingin membuat suasana jadi canggung, ia memaklumi jika saja Kayla sedang malu padanya.


Kayla tampak meremas tangannya yang berkeringat, entah apa yang membuatnya seperti ini. Sungguh Kayla tidak nyaman sekarang.


"Ayolah sayang, maafkan aku jika kau merasa tidak nyaman," ucap Dev tidak enak hati.


"Maaf Bang Dev, bisakah kau mengantar ku pulang? Aku merasa pusing sekarang."


Dev terkejut mendapat jawaban itu dari mulut Kayla yang ia harapkan menjawab seperti yang ia impikan.


"Kayla?"


Perempuan itu berdiri, Dev segera menyusul.


"Maafkan aku Bang Dev, aku benar-benar pusing. Aku ingin pulang!"


Devano tampak frustasi. Namun ia tidak bisa memaksa untuk saat ini.


"Baiklah, ayo kita pulang."


Dev tampak lesu, ia segera meraih tangan Kayla, setidaknya hatinya menghangat saat perempuan itu tidak menepis tangannya. Mereka berjalan bergandengan tangan dalam keheningan melewati kelopak mawar menuju pintu keluar.

__ADS_1


__ADS_2