
Kayla menarik napas dalam lalu mengangguk saat Dev mengajaknya masuk untuk sekian lama ke rumah yang membuatnya menjauh dari kota itu.
Beruntung Kayla bukan tipe wanita yang berlarut dalam kesedihan masa lalu, meski memori otaknya berputar untuk hal yang menyakitkan yang pernah terjadi di rumah itu tidaklah membuatnya patah dan trauma.
Ia melangkah dengan pasti bersama niat baik untuk bertemu putri kecil dari sahabatnya Nikayla.
Langkah mereka terhenti saat di ambang pintu kamar bayi yang di dalamnya ada seorang perempuan paruh baya sedang meniduri cucunya.
"Mama," panggil Dev pelan saat mereka masuk.
Nyonya Lolita menoleh, ia tersenyum pada Dev namun langsung pudar saat menyadari ada sosok lain yang ikut masuk bersama putranya itu.
Nyonya Lolita terkejut menatap Kayla, ia menaruh kembali bayi mungil yang tengah tertidur itu ke dalam box bayi.
"Dev?" sahut Nyonya Lolita seolah tidak percaya. Ia mendekati dengan sikap seperti mencari jika ada sosok lain yang berada di belakang Kayla. Sosok kecil yang Dev ceritakan kemarin. Namun ia tidak melihat siapapun selain putra dan mantan istrinya itu.
Dev mengangguk lalu tersenyum.
"Iya, ini Kayla datang untuk melihat Khanza."
Kayla menunduk hormat sambil menyapa, "Nyonya, apa kabar?" ucap Kayla sopan.
Nyonya Lolita berjalan mendekat, ia menatap lekat wajah Kayla yang segera menunduk.
"Seperti yang kau lihat, senang bertemu dengan mu kembali. Maaf untuk hal yang telah lalu, aku kira kau datang bersama cucuku," ucap Nyonya itu dengan pelan sambil menyentuh lengan Kayla, raut wajahnya yang tampak murung segera berpaling pada anaknya tanpa menunggu tanggapan Kayla.
Kayla terkejut akan hal itu, hal yang tampak sepele dan terkesan menghindar membuatnya terdiam dengan sikap Mama Dev tersebut.
"Mama akan ke dapur dulu!" ucap sang Mama yang segera pergi dari kamar cucunya Khanza.
Dev menatap raut bingung Kayla.
"Maafkan Mama, mungkin Mama masih malu padamu. Kemarin sudah ku beritahu kau akan datang ke kota ini untuk Nikayla, sepertinya Mama mengharapkan kau datang bersama Adrian."
Kayla terdiam.
"Kau memberitahu soal Adrian?"
"Tentu saja, itu adalah kabar bahagia keluarga ku."
Kayla menatap pintu kamar Khanza yang masih terbuka, dimana Mama Dev telah menghilang dari sana.
"Sikap Mama mu membuatku bingung, tapi aku senang setidaknya dia tidak menolak kedatangan ku," ucap Kayla lagi.
__ADS_1
"Maaf atas sikap Mama, mungkin dia malu padamu."
Kayla tersenyum, "Aku maklum, apa boleh aku mendekati Khanza?"
Dev mengangguk lalu tersenyum.
"Tentu saja, bukankah untuk itu kau datang kemari?"
Kayla terkekeh, ia melangkah mendekati box bayi. Matanya berbinar melihat putri mungil sahabatnya itu tengah tertidur dengan tangan di atas kepala.
"Kau manis sekali sayang, apa boleh aku menggendongnya?" tanya Kayla pada Dev yang asyik menatap wajah mantan istrinya itu sejak tadi.
Pria itu mengangguk lagi.
Kayla tampak senang, ia mengambil Khanza dari box bayi lalu menggendong dan mencium pipi gadis mungil itu dengan gemas.
"Kenapa dia cantik sekali, kau lihat hidungnya mirip hidung Adrian!" seru Kayla tertawa.
"Iya, karena mereka bersaudara," sahut Dev cepat.
Kayla menatap Dev lalu mengangguk.
"Iya, mereka bersaudara," lirih Kayla menatap wajah cantik nan mungil itu lagi.
Khanza begitu pulas hingga hanya menggeliat sebentar lalu tidur lagi meski Kayla mengganggu nya dengan gemas.
"Bagaimana dengan susunya?" tanya Kayla tiba-tiba.
"Dia tidak pernah mendapat ASI, hanya susu formula."
Kayla terdiam, ia mengerti bagaimana Khanza bisa mendapat ASI dari ibunya yang sedang sakit parah. Berbeda dengan Adrian dulu yang ASI full hingga umur dia tahun.
Kayla mengelus lembut pipi bayi berumur 4 bulan itu.
"Semua sudah takdir Nya. Meski Khanza di sini dan Nika di rumah sakit, aku yakin mereka akan sama baik-baik saja. Aku berharap Nika akan sembuh dan merawat Khanza seperti ibu lainnya."
Dev hanya diam.
"Bang Dev aku turut sedih apa yang menimpa keluarga mu, aku bahagia bisa bertemu Khanza dan Nika hari ini. Percayalah semua akan baik-baik saja, nanti jika Adrian libur sekolah akan ku ajak kemari bersilaturahmi dengan orangtua mu dan saudaranya yang cantik ini. Aku tidak akan melarang jika itu kebaikan."
"Adrian adalah milikmu juga, dia berhak tahu siapa keluarga ayahnya. Maaf untuk sekian lama, aku benar-benar menyesal soal Adrian, dan kita bisa memperbaiki hubungan ini agar semuanya menjadi baik, aku ingin pula putraku tumbuh seperti anak lainnya dengan dekat dengan mu dan keluarga mu."
"Bagaimana pun, Adrian sudah besar dia akan mencontoh apa yang kita lakukan. Dia putramu, Khanza putrimu juga. Nanti kita pertemukan mereka jika ada waktu."
__ADS_1
Dev mengangguk lalu tersenyum.
"Aku semakin kagum padamu," balas lelaki itu menyentuh lengan Kayla.
"Sudah seharusnya seperti itu, aku bukan tipe wanita yang berlarut dalam masa lalu. Aku berpikir realita masa sekarang, dan aku tidak akan melarang Adrian untuk dekat dengan keluarga mu, hubungan baik akan menghasilkan generasi yang baik pula bukan?"
Dev mengangguk tanpa menjawab.
"Aku kehilangan kata-kata menghadapi mu yang sekarang, dulu bukankah kau perempuan yang ceroboh dan berpikir singkat!" seru Dev terkekeh.
Kayla tertawa pelan.
"Lain dulu lain sekarang."
Mereka larut dalam percakapan, tanpa mereka sadari Nyonya Lolita menyaksikan itu dari luar kamar cucunya.
Niatnya yang ingin masuk menjadi urung, ia menyuruh pelayan saja yang membawa minuman untuk Kayla, ia segera pergi sambil menghapus sudut matanya yang sudah basah.
Kayla tersenyum mendapat tawaran minuman dari sang pelayan, ia bertanya banyak hal pada Dev.
"Kenapa tidak meneruskan kuliah mu?" tanya Dev.
Kayla menggeleng, "Belum ada pikiran untuk itu, aku hanya takut jika aku kuliah lagi di tempat mu bukankah kita akan sering bertemu, aku sudah move on. Bagaimana jika aku tergoda lagi pada dosen yang merupakan mantan suamiku?" goda Kayla dengan nada bercanda.
Dev berbinar, wajahnya menjadi terang mendengar candaan itu.
"Aku akan sangat bahagia jika itu terjadi."
"Dan aku akan kembali jadi perempuan jahat yang menikung suami sahabat ku sendiri," balas Kayla tertawa lagi.
Dev terdiam.
"Bang Dev, Nika akan sembuh, teruslah mendampingi nya sebagai suami yang baik. Lupakan tentang cinta kita, cinta yang mungkin hanya ada di kehidupan yang lalu. Kini kita hidup untuk masa depan yang lebih baik, kita sudah sama-sama dewasa. Prioritas ku adalah Adrian, bukan lagi soal lelaki."
"Meski aku masih muda dan tentu membutuhkan seorang pendamping hidup. Tapi aku sudah bertunangan, kami akan menikah tidak lama lagi, aku harap hubungan kita akan tetap baik setelah pertemuan ini."
"Adrian bisa tumbuh jika kedua orangtuanya kompak mengajar bahwa tidak semua anak broken home itu bisa tumbuh tertinggal dari yang lain, justru karena kita berpisah Adrian harus lebih pintar dari yang dia bisa."
Dev tertunduk.
"Bang Dev."
"Hal yang paling ku sesali adalah telah membiarkan celah kau bisa dimiliki orang lain. Kayla, kau tidak tergantikan dari hidup ku," balas Dev menatap Kayla dengan terdalam.
__ADS_1