
Semua menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Rafi mulai mengenal siapa nenek dan kakek dari ibu kandungnya, Adrian adalah sepupunya sendiri, menjadikan keduanya semakin akrab dan akur dalam hal apapun.
Keluarga Dev sangat berterima kasih pada sosok Kayla yang dulu mereka remehkan, sebab wanita inilah kedua orang tua Dev dapat merasakan kenangan yang ditinggalkan anak perempuan mereka dalam sosok Rafi yang mereka rindukan selama ini.
Memiliki dua cucu lelaki dan satu perempuan membuat Nyonya Lolita dan Tuan Hanan sejenak melupakan harga diri mereka yang terlalu tinggi selama ini, mulai merasakan arti sebuah keluarga yang mana dulu lebih sering mengisi otak mereka dengan kehidupan sosial dan politik ketimbang kebahagiaan putra putri mereka.
Hadirnya Rafi dan Adrian membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga mantan gubernur itu.
Satu hal, Devano masih saja tidak bisa menjinakkan Kayla untuk kembali padanya. Namun perempuan itu tidak juga menolak kehadirannya.
Kayla menatap Dev yang sedang meladeni Adrian dan Rafi bermain game. Perempuan itu sesekali tertawa melihat aksi mereka yang akur bak ayah dan anak yang sudah sangat akrab. Rafi tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sejak tahu Dev adalah pamannya sendiri.
Terkadang pemandangan inilah yang membuat Kayla lemah, namun sisi lain hatinya belum siap untuk memulai lagi suatu hubungan apalagi dengan lelaki itu. Bayangan masa lalu yang membuat Kayla sulit untuk menerima Dev kembali.
Status pengganti kontrak semata, harapan berumah tangga pupus disaat status sosialnya diremehkan orangtua Dev dulu, belum lagi bayangan wajah Nikayla yang kembali pada sisi Dev waktu itu hingga lahir Khanza dari pernikahan tersebut.
Sungguh Kayla belum siap meski dari lubuk hatinya tentu belum melupakan Dev sepenuhnya. Entahlah padahal satu sisi ia sungguh bahagia putranya bisa berdekatan dengan ayah kandungnya layak anak lain.
"Hei, kau sedang melamun apa?" Tiba-tiba Dev mencolek hidung Kayla yang termenung.
Ia terkejut saat Dev sudah muncul di sampingnya.
"Aku lihat kau dan Rafi cukup mudah beradaptasi, padahal anak itu sulit didekati jika belum saling mengenal."
"Aku Pamannya, tentu saja kami punya ikatan satu sama lain yang tidak bisa dijelaskan."
Dev menjawab sambil terkekeh melihat Adrian dan Rafi bertengkar.
Kayla mengangguk setuju. "Aku pikir juga begitu, dan aku harap dia akan terus tersenyum seperti ini. Kasihan Rafi, ayahnya sungguh tidak terduga."
"Ckkkk.... Kenapa jadi bahas ayahnya!" sanggah Dev kesal.
"Memangnya kenapa?"
"Aku tidak suka!"
"Itu urusanmu, Rafi adalah putra dari Gilang, apapun buruknya Gilang dia tetap ayah Rafi. Tidak ada yang bisa mengubahnya," sela Kayla sambil menatap wajah Rafi.
Cup. Kayla membesarkan matanya saat mendapat kecupan bibir dari Dev yang tiba-tiba.
"Bang Dev!" bentak Kayla seraya menjauh.
"Ini karena kau menyebut nama pria gila itu."
Kayla berdecak kesal. Ia bahkan kehilangan kata-kata sekarang.
"Ayolah jangan marah, makanya jangan bahas dia. Aku muak dengannya!"
Dev membujuk Kayla seraya menyibak rambut perempuan itu ke belakang telinga.
"Hei, apa kau ada waktu malam minggu nanti?" tanya Dev mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya kenapa?" sahut Kayla heran.
__ADS_1
"Bisakah kau jadi pasanganku ke suatu acara?" tawar Dev dengan wajah penuh harap.
Kayla menoleh sambil mengernyitkan dahinya.
"Acara apa?"
"Pernikahan rekan dosenku!"
Kayla tampak berpikir sejenak.
"Jangan menolak aku mohon," kata Dev dengan wajah memelas.
Kayla melirik lagi dua bocah yang masih asyik sendiri.
"Apa harus pergi denganku?"
"Tentu saja, aku tidak akan pergi jika bukan denganmu Kayla, ayolah aku tahu kau tidak ada rencana apapun malam minggu nanti."
"Baiklah," jawab Kayla pelan dengan senyum tipis ia menatap Dev yang berharap atas jawaban itu.
"Yes!!! Aku tahu kau pasti mau," kekeh Dev sambil memeluk Kayla kegirangan.
Perempuan itu tersenyum, entahlah lelaki itu masih saja punya daya tarik baginya. Rumit memang mengartikan perasaan Kayla saat ini.
Malam minggu.
Kayla sedang mengangkat telepon dari Dev.
"Apa maksud mu Bang Dev?" tanya Kayla heran, ia baru saja pulang dari luar bersama Mama Hana.
'..........'
Belum juga Dev membalas, lebih dulu Adrian datang dengan kotak besar di tangannya.
"Mama ini ada paket untuk Mama," ucap Adrian.
Kayla menoleh pada putranya. Ia mengernyit seraya mendekat setelah Dev memastikan bahwa itu paket yang dimaksud.
"Oke baiklah, aku sudah menerimanya," jawab Kayla pada sambungan telepon.
Kayla tertegun saat membuka paket itu. Sebuah gaun di sana. Berbeda dengan Adrian sepertinya anak itu sudah tahu rencana ayahnya.
"Bang Dev, ini gaun!"
Dev menjawab bahwa gaun itu untuk Kayla kenakan malam ini.
"Bang Dev yang benar saja, nanti orang-orang pada bingung yang mana mempelainya," canda Kayla setelah melihat keseluruhan gaun tersebut.
Ia tidak bisa menyembunyikan kkekagumannya pada gaun itu, sungguh cantik yang mana membuatnya merasa suka.
Lama Dev menjelaskan maksudnya memberikan gaun itu malam ini. Kayla mengangguk saja tanpa membantah.
"Baiklah aku mengerti, aku akan siap di jam 8!" ucap Kayla sambil melirik jam di dinding.
Mereka saling mengakhiri percakapan telepon, Kayla melirik Adrian yang masih setia bersamanya.
__ADS_1
"Apa tidak terlalu berlebihan pergi ke pesta pernikahan dengan gaun ini? Mama hanya takut mempelainya iri pada Mama nantinya," kekeh Kayla dengan nada bercanda.
"Aku rasa Papa memang berselera pada wanita cantik," sahut Adrian tersenyum.
Kayla mandi dan bersiap, lalu berputar-putar di depan cermin setelah memakai gaun pemberian mantan suaminya itu.
Jiwanya bergejolak teringat pada masa kuliah dulu, ia suka menjadi cantik dan mencari perhatian Dev saat itu, Kayla tertawa sendiri jika mengingatnya.
"Mama sudah siap?" tanya Adrian yang muncul dari pintu.
Kayla mengangguk.
Perempuan itu bingung saat mobil yang menjemputnya bukanlah dikemudikan oleh Dev, melainkan seorang sopir yang dibayar untuk menjemput.
"Oh, kenapa jadi seperti ini. Memangnya apa rencanamu Bang Dev? Ah aku mulai curiga," rutuk Kayla saat masuk mobil setelah pamit pada Mama Hana.
Kayla juga terkejut saat Adrian menyusul masuk mobil yang sama.
"Sayang kau?"
"Tentu saja aku ikut Ma, Papa sendiri yang bilang begitu."
Kayla kehilangan kata-kata sekarang, ia semakin curiga pada Dev malam ini.
Sampai pada mereka tiba pada sebuah gedung hotel mewah berbintang yang berdiri megah di kota itu.
Banyak papan ucapan selamat pernikahan di sana, barulah Kayla merasa lega bahwa benar Dev mengajaknya ke acara resepsi pernikahan.
Namun bukan ke ballroom acara, ternyata ia dituntun seorang pegawai hotel menuju sebuah aula yang lain.
Kayla merasa heran, namun Adrian tampak biasa saja. Sampai pada ia berhenti saat bertemu seseorang.
Kayla terkejut bukan main, ia bertemu Nyonya Lolita saat ini. Bukan sendiri Nyonya itu tersenyum padanya sambil menggandeng Rafi. Adrian segera berlari ke arah neneknya.
Kayla semakin bingung.
"Nyonya," sapa Kayla dengan hormat.
"Kau sudah datang Kayla, Dev menunggumu di sana," tunjuk Nyonya Lolita pada pintu aula yang masih tertutup. Kayla menatap sekeliling, sepi tidak ada orang lain selain mereka.
"Apa di sini pestanya? Di sini sepi?" tanya Kayla polos, ia mengira Nyonya Lolita turut hadir pada pesta itu.
Rafi dan Adrian terkekeh.
"Mama tidak akan bingung lagi jika masuk ke dalam," sahut Rafi sambil tos dengan Adrian.
Nyonya Lolita mendekati Kayla sambil tersenyum tipis.
"Masuklah, Adrian dan Rafi akan bersamaku."
Kayla menatap pintu ruangan itu dengan rasa penasaran yang luar biasa, ada rasa kesal sekaligus curiga pada Dev malam ini.
Perempuan itu mengangguk sopan, ia melangkah mendekati pintu setelah Nyonya Lolita pergi bersama kedua adik beradik sepupu itu.
Dan saat Kayla membuka pintu, benar saja Dev tersenyum padanya dari kejauhan.
__ADS_1
Kayla tertegun dengan pemandangan di hadapannya saat pertama kali kakinya menginjak taburan ribuan kelopak mawar yang seolah menjadi jalan menuju Dev yang mengulurkan tangan padanya.
"Bang Dev???"