
Kayla berhenti di depan pintu kamar rawat di sebuah rumah sakit.
Ia mengatur napasnya saat hendak masuk. Ia merasa berbagai perasaan yang muncul setelah sekian lama tidak berjumpa dengan sang sahabat.
Dev ikut berhenti, ia menatap Kayla lalu bertanya.
"Apa kau berubah pikiran?"
Kayla menggeleng, "Aku hanya takut Bang Dev, takut semuanya menjadi lebih buruk jika kami bertemu. Bagaimana jika Nika takut jika aku kemari hanya menambah sakitnya?"
"Tidak ada hal seperti itu, justru dia menunggu mu sejak lama. Katanya ada banyak hal yang perlu kalian bicarakan, jangan sampai tidak jadi, kasihan dia sudah menunggu dan senang mendengar kau akan datang," sahut Dev dengan wajah memohon.
Mendengar itu membuat Kayla kembali mengangguk, ia menarik napas dalam lalu mulai melangkah lagi ke arah pintu.
"Baiklah, aku kemari untuk Nikayla sahabat ku!" ucap Kayla tersenyum.
Dev mengangguk, lalu membuka pintu kamar rawat VIP dimana istrinya sedang terbaring lemah di sana.
"Hei, kau tahu siapa yang datang?" kata Dev pada Nika yang sedang bicara dengan Mamanya.
Nyonya Anita menoleh, begitupun dengan Nikayla pada sumber suara. Mereka melihat Dev mendekat, namun perlahan muncul sosok yang Nikayla cari selama ini.
"Kayla datang untuk mu!" cetus Dev di tengah keterkejutan istrinya.
"Kayla?" lirih Nika lemah.
Kayla mengangguk, air matanya sudah menggenang sejak tadi. Betapa tidak, pertemuan itu sama sekali tidak menyenangkan baginya.
Matanya menangkap sosok sahabat yang dulu sangat baik padanya, sahabat yang lari dari pernikahan hingga ia yang harus menggantikan di pelaminan.
Sosok yang memberi ruang hidup dan hatinya terisi oleh seorang lelaki tampan, mapan dan pintar yang kini memberinya keturunan anak yang tampan dan pintar pula.
Tapi pertemuan ini sungguh lah membuat Kayla miris hatinya. Tubuh yang dulu cantik kini tampak sangat kurus dan sakit.
Terdapat selang infus di kedua tangannya, wajah yang pucat dan tirus dengan penutup kepala sebagai pelindung rambutnya yang kian habis karena rontok.
Kayla perlahan mendekat pada perempuan yang kini hanya bisa berbaring lemah tidak berdaya di tangah sakitnya yang kian terminal.
Wajahnya tersenyum melambai tangan pada Kayla, namun Kayla yang tampak tidak baik-baik saja saat ini. Hidungnya memerah, butiran bening matanya yang indah kini sudah jatuh pula.
Kayla memeluk Nika lalu menangis tersedu.
"Kenapa kau seperti ini teman?" lirih Kayla terbata oleh suara tangisnya.
Melihat itu Nyonya Anita mengerti, ia mengajak Dev untuk meninggalkan dua orang sahabat lama itu untuk leluasa bertemu, Dev mengangguk lalu mengikuti langkah mertuanya untuk keluar ruangan.
"Kenapa kau menangis, kau tidak senang bertemu denganku?" tanya Nika menghapus air mata Kayla dengan tangannya yang lemah.
Kayla menatap dan membelai pipi pucat itu seraya menggeleng.
"Aku kemari untuk mu Nika, ayolah jangan seperti ini. Kau pasti akan sembuh, semangatlah!"
"Aku tidak akan pernah sembuh Kayla, sakit ini membuat ku lelah."
__ADS_1
"Kenapa kau jadi pesimis, semua orang akan mendapatkan ujian hidup mungkin sakitmu adalah ujian untukmu, dan kau harus lulus ujian sakit ini, bersemangat lah Nika aku sayang padamu, aku tidak mau kau seperti ini."
Kayla tidak bisa berhenti menangis.
"Kau memberiku semangat tapi kau saja menangis, aku tahu kau hanya kasihan padaku," jawab Nika terkekeh.
Kayla menggeleng, ia memeluk sahabatnya lagi.
"Aku menangis karena bahagia kita bisa bertemu hari ini, maaf menghilang lama."
"Iya, kau pindah dan entah kemana. Kau lupa bahwa ada hati yang kau tinggalkan di kota ini, dan hati itu masih milikmu hingga sekarang. Aku cantik saja tidak bisa merebut hati itu lagi, apalagi sudah sakit seperti ini."
Kayla menatap Nika lagi.
"Jangan berkata seperti itu Nika, kau membuatku merasa bersalah. Aku telah menghianati persahabatan kita dengan mencintai Bang Dev, maafkan aku sungguh."
"Akulah yang meninggalkan Bang Dev dan memberikannya padamu, kau tidak salah Kayla. Kau salah karena main pindah saja tanpa memberitahu yang sebenarnya hingga aku dan Bang Dev yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta."
"Jika kau tidak pindah mungkin kalian sudah bersama dan bahagia sekarang."
Kayla menggenggam tangan Nika dengan erat.
"Tapi setidaknya Bang Dev tidak meninggalkan ku dan mendampingi wanita sakit ini yang akan menemui ajalnya. Aku memaksanya untuk memiliki keturunan dariku, agar aku punya kenangan yang harus ku tinggalkan jika aku tiada nanti."
"Dan kau tahu Kayla, Tuhan memberiku kesempatan untuk itu. Aku memiliki seorang putri yang ku harap mirip dengan mu, namanya Khanzaniah ku ambil dari nama mu. Kau bisa memanggilnya Khanza, kasihan dia. Aku harap kau mau menjadi ibunya Kayla, Bang Dev mengatakan semuanya kemarin, dan aku lega serta bahagia bahwa Khanza punya kakak lelaki dari ibu idaman seperti mu."
"Mereka bersaudara, aku mohon biarkan putri ku mengenal kakaknya Kayla. Mereka bisa tumbuh bersama seperti harapanku, aku akan tenang jika pergi setelah tahu kau masih sendiri apalagi punya anak dari Bang Dev."
"Aku tidak memaksa untuk kalian kembali, tapi setidaknya aku tahu kalian punya alasan untuk itu."
"Ah, Nika kau ini bicara apa! Sudahlah kau akan sembuh sayang, jangan bicara sembarangan," bantah Kayla.
"Tidak Kayla, aku tahu aku tidak akan sembuh. Sakit ini membuatku benar-benar lelah, aku lelah berobat, aku lelah terbaring di sini. Tapi hari ini pertama kalinya aku senang karena pertemuan kita."
Begitu banyak hal yang mereka bicarakan, tangis Kayla tidak pernah hilang bahkan sampai matanya bengkak.
Namun tidak Nika, perempuan itu bicara dengan tenang dan enteng mengutarakan semua isi hati dan pikirannya pada sang pengganti yang berhasil menggantikan posisinya secara permanen di hati Devano.
Sampai pada pertemuan itu harus berakhir karena jam besuk pasien habis, Kayla membiarkan sahabatnya beristirahat setelah menyuapi Kayla bubur yang hanya bisa ditelan beberapa sendok saja.
Kayla keluar kamar rawat lalu menyapa Nyonya Anita di luar bersama Dev.
Mama dari Nika itu sungguh mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantar mereka bertiga, perempuan paruh baya itu berterima kasih pada Kayla yang mau datang menjenguk.
Ia juga meminta Kayla untuk sering datang memberi dukungan di sisa perjuangan anaknya yang kata dokter akan sulit mencapai kesembuhan apalagi kini kabar terbaru bahwa kanker yang di derita Nika sudah menyebar ke orang vital lainnya.
"Bang Dev," lirih Kayla saat mereka di mobil.
Dev menoleh, mereka cukup lama hening satu sama lain sejak dari rumah sakit.
"Iya."
Dev menoleh.
__ADS_1
"Bisakah sebelum aku pulang, boleh tidak aku bertemu Khanza."
Dev menghentikan mobilnya.
"Kau serius?"
Kayla mengangguk.
"Baiklah, itu artinya kau harus ikut aku pulang ke rumah."
"Rumah mana? Apa rumah orang tua mu?" tanya Kayla cemas.
Dev mengangguk.
"Kenapa memangnya? Kau takut bertemu Mama? Jangan kira Mama tidak mencarimu, semua orang di sini mencari mu Kayla, makanya jangan main pergi begitu saja," jawab Dev enteng seraya berbelok arah.
"Bang Dev jangan bercanda, aku hanya ingin menemui putri mu."
"Iya, kami tinggal di rumah Mama sejak Nika masuk rumah sakit. Karena Mama Anita harus mengurus Nika di rumah sakit bergantian dengan ku. Jadi Khanza diurus Mama di rumah."
Kayla terdiam, ada rasa takut untuk bertemu dengan mantan mertuanya itu. Terakhir mereka terlibat masalah yang menjadi alasan perpisahannya dengan Dev.
"Kau tidak boleh mundur lagi, kita sudah dekat," ucap Dev terkekeh melihat raut wajah Kayla yang murung.
Kayla hanya diam.
"Jangan takut, aku ada bersama mu. Lagi pula Mama tidak sejahat yang kau kira, tidak selamanya sifat arogan akan bertahan. Mama sudah jauh berubah sejak kau pergi, percayalah beliau menjadi lebih baik sekarang."
Mendengar itu Kayla menjadi lega, ia tidak mau pertemuan itu menjadi tidak baik karena kenangan masa lalu.
Dev berhenti di halaman rumah utama milik orang tuanya. Kayla merasakan dejavu pada pemandangan halaman itu.
Hatinya bergetar, ingatannya berputar memanggil memori saat-saat pertama ia menginjakkan kaki di sana hampir tujuh tahun lalu.
Seperti waktu pertama mereka menikah, Kayla melirik Dev yang tersenyum padanya. Hatinya menjadi lebih lemah sekarang, wajah Dev masih sama.
"Kau ingat sesuatu?" goda Dev.
Kayla memandangnya tanpa menjawab.
"Jika mengingat sesuatu, aku harap itu bukan hal buruk yang terakhir terjadi diantara kita. Percayalah aku sungguh menyesal akan hari itu. Kau boleh membenci ku karena hari itu aku marah tanpa menimbang semuanya. Aku membayarnya dengan penyesalan yang luar biasa telah melepaskan istri sebaik dirimu."
"Membayar semuanya dengan terpenjara pada pernikahan yang hambar, mendampingi wanita lain sedang hatiku masih padamu. Maafkan aku Kayla."
Dev menggenggam tangan Kayla yang asyik diam sejak tadi.
"Maaf belum menjadi suami yang baik untukmu di masa lalu. Aku sungguh menyesal."
"Terkadang penyesalan tidak berarti apa-apa Bang Dev, aku baik-baik saja!" sahut Kayla tersenyum.
"Dan kau tahu jawaban mu itu seolah menghancurkan hatiku."
Kayla menarik tangannya dari Dev.
__ADS_1
"Kau tidak mengajak ku masuk? Aku kemari untuk Khanza!"