
Dejavu.
Kayla merasa dejavu lagi saat bersimpuh meminta maaf pada sang ibunda untuk hari pernikahannya. Jika dulu ia mendadak menikah, namun sekarang mendadak gagal menikah.
Air mata Mama Hana terasa tidak berguna saat ini, semuanya sudah terjadi. Ia tidak pula ingin marah-marah atas apa yang telah Kayla lakukan terlebih saat putrinya menjelaskan siapa Gilang sebenarnya.
Namun satu hal mereka harus menghadapi keluarga pria itu setelah ini, entah bagaimana Mama Hana bingung sekarang.
Dev meminta maaf pada nenek putranya itu, ia mengakui telah membawa Kayla kabur dari pernikahan dengan sengaja. Perempuan paruh baya itu kehilangan kata-kata menghadapi keduanya. Baginya Dev dan Kayla sama saja, suka membuatnya jantungan.
Sampai pada suatu pagi. Dev kembali ke kota dimana Kayla dan putranya memilih menetap. Jauh-jauh ia datang bersama sebuah buket bunga yang besar dan oleh-oleh yang banyak untuk sang putra.
Kayla menatapnya malas.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Kayla ketus.
Toko sepi. Dev melihat sekeliling.
"Aku kemari tentu saja untuk mu," jawab Dev tersenyum sambil memberikan buket bunga mawar merah menyala.
Kayla menatapnya dengan tajam.
"Kau pikir aku bisa kau sogok dengan bunga sebanyak ini? Maaf aku tidak bisa menerimanya, kau terlalu berlebihan." Kata Kayla seraya berpaling.
Dev terkejut dengan penolakan itu, Kayla tidak pernah seketus itu selama ini pikirnya.
"Hei, ayolah.... Kenapa kau marah-marah? Aku jauh datang untuk mu, bisa dibilang berusaha mendekati mu lagi, kau ini kenapa?"
Dev menaruh bunga itu sembarang. Kayla masih diam, ia hanya duduk tidak bergeming.
"Kayla?"
"Kau lihat Bang Dev, karena ulahmu. Aku hancur sekarang, Gilang menghancurkan usahaku, toko ku sepi sejak hari dimana kemarahan keluarganya menyulut karena gagalnya pernikahan waktu itu," jawab Kayla menunduk.
Dev terdiam, ia mengerti sekarang. Ia melihat sekeliling, benar-benar sepi tidak ada pengunjung seperti biasanya, apa seperti itu pengaruh keluarga Gilang hingga bisa membuat semuanya tidak baik pikir Dev.
"Maafkan aku, Kayla tidakkah kau merasa betapa jahatnya mereka hingga membuat kau begini?"
__ADS_1
"Entahlah, kalian sama saja!" cetus Kayla kembali berpaling.
Lama mereka berdebat karena hal ini, yang pasti Kayla sedang dalam mood yang tidak baik, sudah satu minggu pikirannya buntu soal usahanya yang kian menurun akibat gagal menikah beberapa waktu lalu.
Gilang marah padanya, pun keluarganya. Hubungan mereka tentu menjadi buruk sebagai dampak Kayla lari dari pernikahan, kini berimbas pada usaha pribadinya.
Dev menjadi geram jika mengingat wajah lelaki itu. Tangannya mengepal seolah tidak sabar untuk adu jotos bersama pria yang bernama Gilang itu.
Beberapa hari Dev menemui Kayla namun nihil, usahanya sia-sia untuk mendekati mantan istri nya itu. Kayla bersikap dingin, perempuan itu benar-benar mengabaikan kehadirannya.
"Hai," sapa Dev kembali hadir pagi-pagi buta di depan pintu rumah Kayla.
"Apa kau sudah tidak bekerja Bang Dev? Hingga setiap hari kemari, ini sudah satu minggu!" kata Kayla saat membuka pintu wajah Dev kembali hadir pagi-pagi sekali.
"Aku sedang mengurus pindah mengajar ke kota ini, aku ingin dekat denganmu juga Adrian," jawab Dev enteng.
"Pantas saja. Adrian sedang bersiap ke sekolah. Tunggulah sebentar."
Kayla berpaling lalu meninggalkan Dev tanpa basa basi. Pria itu ternganga, ini sudah satu minggu pula Kayla begitu sulit untuk didekati, wanita itu cukup mengerikan sekarang.
"Nak Dev kau kemari lagi? Ayo duduklah, Adrian sebentar lagi juga siap," basa basi Mama Hana saat mendapati Dev hadir pagi ini. Perempuan paruh baya itu tidak berubah sedikit pun masih saja peduli dan ramah padanya meski Kayla tidak.
"Aku mengerti Ma, tidak mudah bagi Kayla dengan kondisi seperti ini. Aku pindah kemari juga untuk Kayla dan Adrian, aku benar-benar serius ingin kembali padanya, aku mohon restu Mama."
Mama Hana tersenyum, "Semua tergantung Kayla, Mama ingin yang terbaik untuk semuanya, yang pasti bukan pria yang menyakiti putriku seperti nak Gilang, Mama tidak pernah memilih dengan siapa Kayla akan berlabuh, jika bisa Mama ingin yang terbaik untuk nya dan Adrian. Dan kalian punya Adrian, kalian punya alasan untuk kembali, hanya saja semua tergantung Kayla."
Dev senang bukan main, ia berkali-kali memeluk Mama Hana kegirangan, ia tahu mertuanya itu selalu menjadi yang terbaik dalam menyikapi segala sesuatu.
"Papa aku sudah siap!" cetus Adrian tiba-tiba muncul.
Dev mengangguk, ia mengedipkan mata pada Kayla yang mengantar Adrian ke mobil Dev.
Kayla memutar bola mata malas. Entahlah untuk saat ini Kayla sedang tidak mood pada siapapun.
Di sekolah, Dev mematung saat menatap putranya masuk kelas bersama Rafi. Benarkah Rafi adalah keponakannya? Dev harus memastikannya pada Gilang, Dev tidak ingin kehilangan kesempatan untuk itu. Rafi dan Adrian tetap berteman di sekolah meski ayah dan ibunya tidak jadi menikah.
Setelah urusan kepindahan Dev di kampus baru selesai, ia kembali menemui Kayla di toko.
__ADS_1
Dev bergegas turun mobil saat melihat Kayla menutup toko itu dan membaca tulisan bahwa ruko tersebut dijual.
"Kayla?"
Perempuan itu terkejut saat Dev sudah di belakang nya.
"Bang Dev."
"Apa maksudnya ini? Toko mu?"
Kayla menatap ruko berlantai dua itu sambil tersenyum getir.
"Aku sudah tidak bisa membayar gaji karyawan, jadi ku tutup saja. Sepertinya aku harus mencari pekerjaan sekarang," ucap Kayla.
Dev meraih tangan Kayla.
"Dan aku ada pekerjaan yang cocok untukmu," tawar Dev tersenyum.
"Apa itu?"
"Menjadi istriku!"
Kayla tidak heran, kata itu sudah satu minggu Dev gunakan untuk merayunya.
"Dan aku trauma mengatakan iya pada pernikahan." Jawab Kayla sambil berlalu ke mobilnya berada.
Dev menghembuskan napas kasar. Perempuan itu berubah banyak sekarang.
"Kayla."
"Apa lagi?" tanya Kayla saat hendak masuk mobil.
"Maafkan aku."
"Sudahlah, aku mau pulang!" Dev menahan tangan perempuan itu.
Ponsel Dev berdering.
__ADS_1
"Khanza sakit lagi," ucap Dev setelah menerima panggilan.
"Bang Dev, Khanza kenapa?" Kayla cemas.