
Kayla memeluk Rafi dengan sayang, sore ini ia bertemu Gilang dan Rafi. Anak itu merindukan sosok Kayla sudah sejak hubungan Kayla dan Gilang tidak membaik beberapa waktu terakhir.
Pertemuan yang cukup canggung, Dev turut hadir di sana. Lelaki pencemburu itu menatap Gilang dengan tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup namun karena Kayla ia terpaksa hanya diam dan melihat saja bagaimana Gilang tidak tahu malu menemui Kayla demi Rafi.
"Aku merindukan Mama," lirih Rafi menahan tangis, ia memeluk erat pinggang Kayla yang berdiri lebih tinggi darinya.
"Oh sayang, Mama juga merindukan mu Rafi. Ayo anak lelaki tidak boleh cengeng, Mama tidak pernah melarang kau kemari, jadi jangan sungkan oke? Kau masih kecil jadi jangan terlalu dimasukkan ke hati urusan Mama dan Ayahmu oke?" ucap Kayla sambil mengusap pipi Rafi setelah mereka puas berpelukan.
Rafi melirik Adrian yang menatapnya dengan senyum di samping Dev saat ini.
"Sekarang bermainlah dengan Adrian, Mama ingin bicara dengan Ayahmu boleh?"
Rafi mengangguk. Kayla tersenyum melepas anak itu untuk menyapa putranya yang segera menyambut Rafi seperti biasa.
Dev menahan tangan Kayla saat hendak mendekati Gilang.
"Aku ingin bicara dengannya," kata Kayla sambil melirik tangan Dev yang menahan lengannya saat ini.
"Tidak boleh!" bantah Dev.
"Apa aku harus izin padamu?"
Dev diam.
"Jangan konyol Bang Dev, aku hanya ingin bicara dengan Gilang lagi pula bukan urusanmu!"
"Kau dengar itu? Kayla tidak butuh izin siapapun untuk bicara denganku!" cetus Gilang tajam pada Dev, lelaki itu melangkah maju saat melihat Dev menahan lengan mantan calon istrinya itu.
Dev berdecak, ia ingin menjawab namun Kayla lebih dulu menguasai keadaan.
"Hentikan! Rumahku bukan tempat untuk bertengkar. Aku ingin bicara dengan mu Mas Gilang, berdua saja!" tegas Kayla.
Dev menatap Kayla tidak percaya. "Apa itu artinya aku diusir?" sanggah Dev tidak menerima.
"Mengertilah Bang Dev, aku ingin bicara dengannya. Kau boleh bergabung dengan Adrian dan Rafi bukan? Atau kau boleh pulang, aku tidak memaksa," ucap Kayla pelan.
Dev menghembus napas dalam, ia tahu ia tidak bisa berkutik jika Kayla sudah memasang wajah kesal seperti ini.
"Baiklah, aku akan memantau mu jadi jangan macam-macam!" ucap Dev yang kesal setengah mati pada wajah Gilang yang menatapnya dengan senyum remeh.
Dev menyenggol bahu Gilang seraya berlalu, lelaki itu juga tidak bisa melawan saat menatap wajah Kayla yang menggelengkan kepalanya saat ini agar ia tidak meladeni Dev.
"Apa kau akan kembali padanya?" sindir Gilang setelah Dev menjauh.
"Itu bukan urusanmu, ayo kita bicara di kursi teras!" sanggah Kayla seraya mempersilakan Gilang untuk berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Cukup hening saat mereka duduk bersama di sana setelah apa yang terjadi diantara keduanya.
"Kayla," lirih Gilang memulai percakapan.
"Urusan kita sudah berakhir bukan berarti Rafi tidak boleh bertemu denganku. Aku sudah mulai melupakan semuanya, mari kita berdamai. Jangan larang Rafi untuk bertemu denganku, aku mohon jangan lakukan itu pada anak-anak, mereka tidak ada hubungannya dengan rumitnya urusan kita," ucap Kayla langsung pada intinya.
Gilang tertegun, ia mengira Kayla masih marah padanya.
"Justru aku yang takut jika kau tidak mau bertemu Rafi, sungguh Kayla......" Gilang berhenti sejenak sambil menarik napas.
"Rafi menyayangimu dengan tulus, aku menyesal atas semuanya. Aku sadar aku bukan pria yang pantas untukmu," sesal Gilang sambil meraih tangan Kayla.
Kayla tersenyum getir, hubungannya dengan Gilang cukup lama terjadi. Ia tahu pria ini tidak pernah menyakitinya.
"Aku sudah mencoba untuk mengikhlaskan apa yang terjadi diantara kita, dan aku lebih baik sekarang! Aku pun minta maaf pada keluarga mu, karena ulah ku kalian menerima rasa malu."
Lama mereka bicara dari hati ke hati atas apa yang terjadi sejak memutuskan hubungan beberapa waktu lalu, sepertinya Gilang maupun Kayla sudah saling memaafkan.
Pemandangan yang sejuk sejak terakhir mereka berada dalam panasnya kekacauan hubungan yang hampir menikah itu. Memang saling memaafkan adalah jalan terbaik dari setiap masalah. Keduanya lega saat bertemu saat ini apalagi melihat Rafi dan Adrian akur seperti sebelumnya.
"Mas Gilang."
"Iya!"
"Bisakah kau jujur padaku?"
"Apa benar, Rafi adalah putra dari Kakaknya Bang Dev?"
Gilang terdiam, ia melirik Dev yang menatapnya tajam dari kejauhan. Rupanya lelaki itu memantau Kayla dan Gilang tanpa berpaling sejak tadi. Ia berusaha menahan cemburu sekaligus kesal dengan wajah Gilang sejak tadi, namun tidak bisa berkutik jika Kayla tidak mengizinkan ia ikut campur dalam percakapan itu.
Gilang mengangguk perlahan, Kayla tahu ada penyesalan dalam setiap anggukan itu.
"Apa itu artinya Rafi adalah sepupunya Adrian?"
Gilang mengangguk saja tanpa bersuara, entah kenapa ia tidak bisa membantah jika sudah bicara dengan Kayla.
Kayla menarik napas dalam, lalu menghembuskan dengan kasar. Ia tidak menyangka Adrian berteman dengan sepupunya sendiri selama ini.
Kayla ingin mengeluarkan kata-kata kasar rasanya, namun urung saat melihat wajah Gilang yang mulai mau diajak berdamai dengan masa lalu.
"Bisakah aku minta satu hal padamu?"
Gilang mengangkat wajahnya.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Apa perasaan mu berdamai denganku?"
"Lega, aku sungguh merasa malu padamu Kayla. Aku tidak bisa melihat putraku bersedih karena merindukan mu dan Adrian."
Kayla tersenyum.
"Lakukan itu sekali lagi, berdamailah dengan keluarga Bang Dev. Bawa Rafi bertemu keluarga ibu kandungnya, kau tidak boleh menyembunyikan identitas keluarga ibunya Mas Gilang, Rafi akan kecewa jika dia tahu saat dewasa nanti, dan kau harus adil padanya, jangan didik dia menjadi pengecut, cukup kau saja!"
Gilang terdiam.
Entah apa yang Kayla katakan hingga Gilang terhenyak, ia tidak bisa membantah sama sekali apa yang perempuan itu katakan. Gilang hanya bisa terdiam merenungi atas apa yang telah ia lakukan pada putranya selama ini.
"Aku mohon Mas Gilang, Rafi harus tahu semuanya termasuk dua saudara perempuannya dari istri simpanan mu yang sampai sekarang masih kau sembunyikan dari keluarga mu, mari kita menjadi lebih baik sebelum semuanya terlambat. Penyesalan itu selalu datang belakangan."
Lagi, Gilang hanya bisa terdiam.
Cukup lama Kayla membujuk, hingga pada akhirnya Gilang mengangguk juga. Entahlah ia menjadi lebih lemah saat berhadapan dengan Kayla yang sekarang. Ia tidak bisa membantah untuk saat ini.
Gilang meraih tangan Kayla. "Maafkan aku Kayla, aku menyesal menyakiti mu!" ucap Gilang dalam.
Kayla tersenyum, "Aku senang mendengarnya Mas Gilang. Sungguh aku bahagia melihat mu seperti ini, kau masih pria baik yang ku kenal."
Dev berjalan mendekat, ia tidak bisa menahan lagi saat melihat Gilang berpegangan tangan dengan perempuan yang ia dambakan itu.
"Lepaskan dia!" ucap Dev menepis tangan Gilang dari Kayla.
"Ini bukan urusan mu!" sanggah Gilang kesal.
"Ini urusanku, Kayla akan kembali padaku jadi jangan berani menyentuhnya sedikit pun!" cetus Dev mulai emosi sambil meraih kerah kemeja Gilang.
"Bang Dev, hentikan!" Kayla melerai dan menjauhkan keduanya.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa main pegang-pegang tangan?" tanya Dev kesal.
Kayla ingin tersenyum, wajah itu wajah cemburu yang membuat Kayla de javu masa kuliahnya dulu yang mana Dev menampilkan paras merah yang menggemaskan saat cemburu pada Zian dulu.
Wajah Dev yang membuatnya semakin tergila-gila saat masih menjadi pengganti saat itu.
"Kau lihat Kayla saja tidak menjawabmu, aku ragu dia menerima mu untuk kembali. Jangan bermimpi Dev, Kayla bukan perempuan yang mudah ditaklukkan. Kita kemari sama-sama urusan anak, jadi tidak perlu bertengkar bukan? Apa yang kami bicarakan bukan urusanmu!" ucap Gilang tersenyum mengejek.
Dev terpancing emosi lagi, ia tampak menggeram saat Gilang meremehkan nya.
Kayla menahan lengannya seraya menggelenh.
"Aku lelah pada pertengkaran, malu dilihat anak-anak. Aku mohon jangan membuat moodku memburuk, atau kalian ku usir dari sini!" tegas Kayla.
__ADS_1
Dev hanya bisa menghembuskan napas kasar, lagi ia tidak bisa berkutik.