Kecubung Biru

Kecubung Biru
Mundur


__ADS_3

“Ayo ikut aku.”


“Tidak.”


Aku menepisnya. Kali ini aku tak sungkan. Memang tak mau, dan langsung menjawab demikian. Tak seperti yang lalu-lalu dengan perasaan rikuh pekewuh, akibat dia usianya lebih dewasa dari kita. Tapi kali ini sudah kami rasakan kekeliruan serta kejahatannya. Yang demikian membuat sakit hati bagi paman Pulung Jiwo yang dahulu rekannya, bahkan teman masa kecil. Hingga sepanjang kehidupan mereka.


Pada saat itu. Pulung Jiwo yang masih marah melemparkan tombaknya dari belakang. Mengenai. Namun hanya gagangnya. Ujung tombak itu sedikit menyerong. Dan tak mengenainya.


Hal itu membuat Ronggo kesakitan. Meskipun bukan bagian tajam, tapi dorongan kuat rekannya dalam melempar itu tak bisa ditahan.


Makanya dia mundur. Hendak pergi. Mungkin lebih baik kali ini tak melakukan perlawanan pada orang yang tengah di atas rasa marahnya. Lain kali bakalan di rebut anak cantik itu. Dia melompat jauh, mundur dan menghilang pada suatu kelokan jalan. Lenyap dari tatapan kami semua.


Kecubung Biru mendekati ayahnya yang masih menatap kepergian musuhnya. Mau mengejar namun dirasa sia-sia. Langkah Ronggo pekik demikian kuat. Dan jarak yang semakin jauh dirasa sia-sia kalau memaksakan diri untuk menjangkaunya.


Bapak....


Kembali mereka berpelukan. Merasa sudah aman. Meskipun untuk sejenak saja.


Berikutnya, mereka melihat diri, lalu pada yang lainnya.

__ADS_1


Dan membersihkan kotor di tubuh. Juga saling berusaha mengobati luka-luka. Luka yang nampak mungkin akan segera sembuh. Namun luka di batin itu yang sulit disembuhkan Bahkan mungkin tak bisa. Bakalan selalu mengiring hingga ke liang lahat.


“Ayo kita pergi. Kita mesti menuntut balas.”


Aku hanya diam mengikutinya. Kami berjalan pelan.


Kecubung Biru sudah ditemukan. Namun itu rupanya belum usai. Masih banyak pekerjaan yang mesti dituntaskan.


Urusan ini kini bertambah pelik. Banyak musuh justru diantara kawan sendiri, Kumpeni, pasukan keraton, juga Ronggo Pekik. Dia pasti tak sendirian. Banyak temannya yang berada pada pengaruhnya.


Pulung Jiwo dirawat anaknya. Anaknya merawat bapaknya. Keduanya saling mengingatkan dan menjaga. Mencari makan, memberi obat dari dedaunan hutan. Juga mencari peristirahatan yang teduh. Agar bisa memulihkan tenaga dan kesehatannya membaik.


Aku hanya bisa membantu yang aku tahu dan bisa. Selebihnya merasa rendah diri, apalah aku yang hanya seorang remaja dengan keinginan saja yang besar tapi usaha tentu belum bisa maksimal. Bahkan aku sendiri tak sepenuhnya sehat. Perjalanan panjang sebelumnya dan perkelahian lalu juga membuatku tak enak badan. Tapi sebisa mungkin ku tahan. Mungkin sakit ini tak sebanding dengan apa yang kedua orang itu alami. Mereka yang lebih membutuhkan pengobatan. Baik di badannya maupun dalam batin. Yang sulit disembuhkan.


“Iya.”


Kami memapah paman Pulung Jiwo. Aku disebelah kanan dan Kecubung Biru sebaliknya. Kami berdua menopangnya.


Sembari jalan tertatih dan menahan luka. Setidaknya kita bisa meninggalkan tempat itu. Untuk menuju lokasi yang lebih layak.

__ADS_1


Aku sebenarnya lebih suka di tempat ini.


Asri, tenang, dan jauh dari hiruk pikuknya dunia ramai yang selalu memperebutkan segala yang berisi kemewahan diri.


Disini bumi menyediakan makanan kalau kita berusaha mengelola tanahnya ditanami dengan berbagai tanaman maka tinggal menunggu bakalan diberikan hasilnya sesuai jerih payah.


Atau sekedar menatap hijaunya pegunungan dan teduhnya tumbuhan lebat hutan di ujung pandangan ini.


Seakan tenang dan damai rasanya.


Namun karena keamanan dan keselamatan diri serta berhasilnya suatu perjuangan membuat kita mesti berpindah pindah. Untuk menuju ke suatu yang tak pasti. Bisa berhasil. Atau justru ikut terkubur bersama keinginan yang kandas.


“Sementara kita disini dulu saja paman.”


“Baiklah. Kelihatannya rumah ini kosong.”


Memang masa perjuangan ini banyak rumah yang ditinggalkan warganya. Separuh penduduk membela perjuangan Diponegoro. Sisanya membela keraton.


Semua sibuk. Paling yang ada para wanita. Itupun kalau tengah ada kepentingan menjaga anak.

__ADS_1


Jika tidak ada tanggungan. Mereka juga memilih ikut berjuang. Baik itu cuma menyediakan makanan atau mengobati yang luka.


Bahkan para srikandi yang bisa bertarung ikut maju ke medan juang, mengangkat senjata dan bertarung menunjukkan segenap kemampuan dan baktinya.


__ADS_2