Kecubung Biru

Kecubung Biru
Dibalik Murkanya Pulung Jiwo


__ADS_3

“Paman istirahat dulu saja,” ujar ku merasa sudah jauh meninggalkan tempat semula. Dan melihat kondisi Pulung Jiwo yang nampaknya sudah lelah sekali akibat luka yang belum sembuh benar.


Dia tak mau. Namun kemudian berhenti dan masih aku pegangin tubuhnya.


“Paman?” kata ku lagi.


“Heh...”


Dia hanya gumam tanpa perlu menoleh.


“Mau aku carikan daun obat lagi?” aku menawarkan.


“Tak usah.”


“Atau kucari air buat membersihkan luka?”


“Bawa saja aku ke sungai.”


“Baik.”


Aku memapahnya, berusaha mencari sungai, dan mendapatkan air.


Tak jauh dari situ kami temukan sungai kecil dengan aliran yang cukup deras.

__ADS_1


Di sungai, dia tak mau dibantu. Lalu minum sampai puas dan membersihkan lukanya. Menutup lagi dengan kain. Kemudian duduk ditepian sungai.


Kelihatannya dia tengah merenung. Mungkin mengingat perjalanan semula yang begitu mengejutkan. Untuk hatinya. Untuk kepedihannya. Dan mungkin untuk selaksa duka yang mungkin tak sanggup di tahan.


Hanya saja waktu begitu cepat berubah. Ingin mengurai segala kekurangan yang mesti dilengkapi. Membantu alam dalam menyelaraskan polanya. Antara benar dan salah. Demikian membuat imbang. Dan alam hanya akan diam. Menyaksikan segala yang berada di atasnya saling berupaya mempertahankan diri.


Tak lama kemudian, “Ayo kita pergi mencari Kecubung Biru.”


“Tapi...”


“Kenapa?”


“Luka paman masih parah.”


Aku khawatir dengan keadaannya. Dia sakit. Orang sehat saja akan berpikir seribu kali untuk menjelajah daerah yang penuh dengan musuh. Dimana tantangan dan rintangan pasti akan banyak ditemui sebagai perintang langkah.


“Baik paman.”


Kita berjalan pelan, sembari mencari makanan yang ada, serta obat alami buat lukanya.


Ada umbi kita makan. Ada burung kita tangkap. Pokoknya asal ditemui itu yang mengisi perut kita. Hingga nanti mungkin ada orang yang bersedia membuka kiosnya dan kita boleh sekedar menyesap apa yang dijualnya. Untuk berbagi antar kita.


Tiap ketemu orang, kita tanyai. Siapa tahu melihat Ronggo Pekik atau Kecubung Biru. Tapi tak satupun mau bicara. Tak ada yang tahu. Atau tak mau tahu.

__ADS_1


Entah dimana mereka bersembunyi. Sangat pelik. Dia mudah bergerak. Pengalamannya selama ini yang membuat kita ketar-ketir. Pada kesulitan mencari. Juga akan nasib Kecubung Biru yang tak kita pahami.


Beberapa hari kita berjalan. Sejauh ini tak menemukan yang dicari.


Berhari-hari itu pula hati kami dilanda kecemasan. Ketidak pastian, serta penuh sakwa sangka juga praduga yang hati sendiripun tak mengerti jawabnya.


Luka Paman Pulung Jiwo membaik, bahkan bisa dibilang sembuh. Pengobatan yang rutin, meskipun dengan bahan seadanya namun keinginan kuat untuk lebih baik, membuat yang diharapkan berjalan lancar.


Kita mampir ke warung. Pemiliknya baik. Dia bahkan menolak dibayar. Tahu kalau kita lagi berjuang menjadi Laskar Diponegoro.


“Ini bu.“


“Sudahlah tak perlu.“


“Kenapa?“


“Dipakai saja dulu untuk bekal berjuang.“


“Saya berterima kasih sekali kalau begitu. Tapi ini mungkin lebih berguna buat warung ini, sebagai tambahan modal. Siapa tahu perjuangan kami nanti berhasil, jadi kami bisa memberikan yang lebih untuk bantuan yang diberikan kali ini.“


Paman Pulung Jiwo menolak dan berusaha meyakinkan penjualnya. Dia merasa tak enak dengan pemilik warung itu. Kalau mesti merepotkan beruang kali. Dapat makanannya saja sudah untung. Karena banyak para rakyat yang saling curiga, apalagi pada orang yang tengah berjuang.


Tapi diluar terjadi kengerian. Ada musuh.

__ADS_1


Empat orang prajurit dengan senjata tombak dan pisau dipinggangnya.


__ADS_2