
Mereka rupanya sudah mengintai keberadaan kami. Yang tahu saat kami masuk ke warung.
“Pulung Jiwo,“ ujar musuh yang sudah bersiap dengan senjata di tangannya. Nampaknya mereka sudah yakin kalau kami akan melakukan perlawanan.
“Ya.“
Paman bersikap tenang. Meskipun belum tentu mereka orang hebat, tapi daerah yang kurang aman ini, bisa jadi rekan-rekan mereka sudah mengepung. Makanya konflik terbuka ini sebisa mungkin dihindari. Andai ada celah, kita akan mundur dan mencari jalan tenang dahulu.
“Lebih baik kalau kalian menyerah.“
“Kami belum mau, kalau perjuangan belum membuahkan hasil.“
“Kalau begitu kalian akan kami tangkap dan kemungkinan bakal dijadikan bekakak di alun-alun nantinya.“
“Kau sendiri yang mungkin akan kerepotan kalau ingin menangkap kami. “
Tak ada celah sama sekali untuk menghindar. Kalau kami membalik, pasti akan dikejar. Makanya mau tak mau kami mesti melawan. Meskipun di keroyok empat musuh. Dan tak menutup kemungkinan masih banyak rekan mereka yang belum kita lihat keberadaannya.
Untung kali ini tak ada Kumpeni dengan senapan mengerikannya. Jika mereka disini sudah pasti urusan bertambah runyam.
__ADS_1
Aku melawan satu orang. Pedangku berusaha menangkis tiap serangan musuh. Dia sangat cepat. Demikian terlatih dan cocok sebagai prajurit istana yang memang bukan orang sembarangan.
Paman Pulung Jiwo lebih parah keadaanya dia dikeroyok tiga orang. Ketiganya langsung mengurung dan menyerang silih berganti. Pulung Jiwo bergerak cepat. Dia balas menyerang musuhnya.
Satu orang berhasil dikejar lalu dipijak kaki kanan musuhnya itu. Pedangnya langsung dibabat kan dan berhasil menggorok lehernya. Terjungkal Lah prajurit itu.
Belum lagi istirahat dua rekan lainnya menyerang. untung Pulung Jiwo tahu, dia segera membalikkan badannya dan menusuk musuh tadi.
Tak menunggu lama. Tangannya langsung mencabut senjatanya untuk menangkis serangan lawan satunya. Dia mencecar musuh. Yang membuatnya terdesak hebat dengan tusukan tusukan mematikan yang mengarah pada tubuh musuh itu dan akhirnya lawan bisa dikuasai. Tusukan kuat berhasil menghentikan perlawanan musuh.
Aku yang kali ini kerepotan. Musuhku rupanya bukan tandinganku. Dia demikian perkasa.
Untung Pulung Jiwo membantuku. Dia yang sudah berhasil mengatasi semua lawannya, kali ini tak membiarkanku berada dalam kesulitan.
“Sudahlah, kamu mundur saja,“ dia memberi kesempatan.
“Kalian tak akan lepas dari kejaran kami ya!“
Akhirnya Paman Pulung Jiwo melumpuhkan musuh yang tak kuasa melawan ketangguhannya. Terakhir dia hanya menggetok kepala musuh. Biar tidak bicara pada yang lain, hingga merepotkan kami nantinya.
__ADS_1
Musuh langsung pingsan dan dibiarkan begitu saja.
Sebentar lagi mungkin teman-temannya pada datang. Membantunya untuk siuman. Bertanya. Dan memberi informasi tentang kami. Yang pastinya akan segera mencari dan kami bakal semakin repot dibuatnya.
“Ayo pergi,” katanya.
Aku mengikutinya. Menyingkir dari tempat itu dan menghindari dulu kalau bertemu musuh yang jumlahnya tak sedikit.
Kita sampai di tepi hutan. Lalu beristirahat dibawah pohon.
Kita semakin kesulitan, apalagi musuh membuat benteng dimana-mana. Hampir tiap kampung ada pos jaga. Mereka mencoba memperkecil arah gerak kami.
Pada pos-pos itu banyak prajurit yang berjaga. Mereka saling komunikasi. Ada yang hanya dengan alat sederhana. Seperti kentongan dan bende. Atau dengan senapan yang suaranya keras. Untuk mempringatkan rekan mereka yang jaraknya lumayan jauh. Dengan alat-alat bantu tersebut mereka dengan mudah dalam komunikasinya. Dan segera mengirim bantuan yang membuat kami semakin kereotan.
Tiap keramaian sudah tak bisa kami lewati. Makanya kami di hutan terus. Yang bakalan menurunkan kesehatan kita.
Setelah lelah usai, kita kembali jalan. Terus mencari Kecubung Biru. Kami tak tahu dimana. Kasihan anak itu kalau semakin lama tak ditemukan. Dia bakalan bertambah sengsara.
Hampir seminggu kita berjalan.
__ADS_1