Kecubung Biru

Kecubung Biru
Serangan mendadak


__ADS_3

Saat itu pasukan Diponegoro yang sudah berjajar di sepanjang tepian jalan. Tengah menyongsong datangnya musuh. Terlihat seperti selo blekithi, barisan semut yang sangat panjang. Jumlahnya banyak. Namun tertutupi oleh semak belukar dan bebatuan.


“Siap...“ Prajurit berbisik. “Kau nanti langsung menyergapnya ya? Biar aku menusuknya dengan senjata ampuhnya ini. Pasti dia langsung tewas.“


“Baiklah. Kau juga mesti melindungi ku. Kalau ada yang menyerang dari belakang.“


“Ya .... “


Orang-orang ini dari berbagai kalangan yang mengelompok menjadi satu. Satu tujuan satu keinginan. Meskipun berbeda-beda. Ada yang bangsawan, rakyat jelata, juga para siswa yang tengah belajar ilmu agama. Mereka menyatu. Dengan bersenjata lengkap. Tombak, panah, pedang, semua siap perang.


Ada juga senapan tembak hasil rampasan dari musuh.


“Lihat ini.“ Salah seorang laskar memamerkan suatu senapan yang bagus.


“Kamu punya?“


“Iya. Kudapat dari musuh yang berhasil kita singkirkan.“


“Kau merebutnya?“ tanyanya tak percaya akan kemampuan kawannya itu. Selama bersama dia tak pernah melihat kehebatannya itu.


“Iya, kami melakukan penyergapan. Lalu mengambil senjata ampuh ini.“


Dalam posisi yang sedikit terlindung, oleh gundukan tanah yang sedikit meninggi, juga semak belukar yang rapat. Namun dari arah strategis tersebut, bisa melihat musuh dengan jelasnya. Andai mereka datang dari arah yang ditunggu itu.


“Lama mereka ya?“


“Lihat pada kelokan jalan itu. Disana nanti nampak jelas kedatangannya,“ ujar rekannya.


“Iya aku juga terus mengawasinya. Sampai mataku capek. Mungkin mereka masih jauh. Kita mesti istirahat dulu ini,“ kata laskar yang jenuh dan ingin istirahat sembari merokok, atau meminum kopi dingin kental.


“Jangan ditinggal posisimu. Jangan-jangan mereka sudah dekat. Kita kesulitan sendiri, kalau mereka keburu datang. “


“Habis lama.“

__ADS_1


“Mesti sabar ya....“


Segala sesuatu sudah dipersiapkan. Guna berhasilnya pencegatan kali ini. Kalau menang pasti akan membuat semangat yang berlebih bagi anggota laskar. Tapi kalau tak berhasil, hal ini mungkin juga akan membuat ciut nyali perjuangan. Sehingga untuk kelanjutannya akan semakin sulit. Makanya mesti memenangkannya, meski harus kehilangan banyak nyawa dari para anggota laskar itu.


“Kalau ini berhasil, kita bakalan menyerbu keraton,“ laskar itu membeberkan rencana panjangnya yang sudah berada dalam angan-angan.


“Secepat itu?“


“Iya jumlah kita semakin banyak. Yang ikut bergabung meningkat tajam. Nanti kalau keraton kita kuasai Njeng Pangeran bakalan kembali menguasai Tegalrejo. Dan kita ikut mereka.“


“Kalau gagal?“


“Kita terus bergerilya sampai titik darah penghabisan. Sebab buat apa kita senang kalau tak bisa bebas melakukan apapun di tanah kita sendiri. “


Pencegatan kali ini langsung dipimpin oleh Bagus Sodewo. Yang membawa semua anak buahnya. Jumlahnya banyak. Ratusan orang. Meskipun begitu sebenarnya ini bukanlah semua anak buahnya. Masih banyak yang tersebar namun, masih berada dalam lokasi tak berjauhan. Mereka ini siap untuk menggabungkan diri kalau ada gerakan menyeluruh. Kali ini semua menyebar, untuk mencari waktu yang bagus. Mereka bergerak secara diam dalam beroperasi. Mencari dana perjuangan, juga bantuan yang terkumpul dari rakyat.


Dia diam saja dalam waktu-waktu menunggu itu. Tapi tatapannya tajam. Seakan menembus hingga dada lawannya. Sangat berkonsentrasi dia. Semua akan senang kalau kali ini berhasil.


“Ingat semua menunggu perintah!”


Pedang di pinggangnya siap di cabut. Tapi tangan kanannya tengah memegang lembing. Dengan ujung tombak yang mengerikan.


Beliau kali ini siap tempur. Dari sekian banyak pertarungan yang dia jalani sebelum ini. Sejumlah itu juga kemenangan sering diraihnya. Membuat anak buahnya demikian percaya pada kepemimpinan orang berwibawa itu.


Waktu yang ditunggu hampir datang. Saatnya penyerangan. Tinggal menunggu perintah.


Orang-orang beriringan itu terus melaju. Tanpa curiga. Kereta-kereta demikian santai melewatinya. Yang tiap-tiap dikawal oleh para prajurit.


Saat ekor pasukan tepat dihadapan, Bagus Sodewo memberi perintah untuk menyerang.


Serang!


Dia sendiri langsung melemparkan lembing yang dipegangnya. Tombak itu meluncur deras. Dan tepat mengenai pasukan bule Kumpeni yang tengah mengendarai kuda. Dia langsung jatuh. Tak tahu apa yang menembus tubuhnya dan siapa pelempar. Tahu-tahu sudah terlentang di jalanan luar kota itu.

__ADS_1


Kudanya meringkik tajam. Ia juga tampak terkejut. Dan berlari meninggalkan penunggangnya yang langsung terkapar dan diam tak bergerak.


Orang-orangpun berlompatan dari atas tebing sembari berteriak-teriak. Tak ingin musuh melakukan perlawanan. Tersadar lalu balas menyerang. Atau bahkan lari menjauh. Kali inilah saatnya.


“Ayo terus serang!“


“Jangan diberi kesempatan mereka.“


“Ini pedang terimalah! “


Mereka langsung menyerang rombongan para penyuplai persenjataan dan bahan pokok. Yang bakal menuju kota untuk membantu memadamkan pemberontakan musuh.


Pedangnya ganas membabat musuh. Dan tombak juga meluncur tajam. Terus memburu keberadaan pasukan Kumpeni. Jika terkena maka senjata genggam bakalan langsung menyambutnya. Membuat prajurit terluka itu semakin parah lukanya bahkan tewas di tempat.


Pasukan kumpeni panik. Banyak yang langsung tumbang dengan tubuh terluka. Mereka tak menyangka, bakal dihadang oleh orang sedemikian banyaknya. Apalagi tanggungjawab besar demi sampainya paket yang mereka antar.


“Gawat... gawat!“


“Ayo siap kalian. Balas serangan musuh. Jangan sampai mereka terus membantai kita.“


Mereka sadar dan mengumpulkan yang tersisa. Untuk melakukan perlawanan. Dan menjaga barang agar tetap sampai ke tangan penerimanya.


Melihat serangan mendadak itu, mereka mencoba membalas. Sesekali menembak pada musuh yang datang dengan cepat. Tembakan yang mengena bisa membuat jatuh beberapa anggota laskar.


“Sial. Rasakan ini! “ dengan marah ditembaknya orang yang melompat ke arahnya dari atas tebing.


“Awas datang lagi! “


Namun karena dalam mengisi amunisi juga memerlukan waktu, membuat kesempatan untuk terus menembak menurun. Tak bisa cepat. Pedangnya segera disiapkan. Pasukan laskar terlebih dulu menjangkau posisinya. Dan pedangnya langsung menembus dada sebelum dia sempat menangkis dengan pedang.


Pulung Jiwo juga langsung mengamuk. Dia menjatuhkan dua orang Kumpeni sekaligus. Terutama setelah dia melompat dari balik semak-semak. Sedikit mendekati musuh untuk kemudian membidiknya dengan arah yang semakin pasti menuju jantungnya. Lalu dipegangnya busur dengan kuat menggunakan tangan kirinya. Dari sana anak panah melesat berkali-kali. Satu anak panah diambil dari tempatnya yang ditaruh pada punggung. Belum juga mengenai lawan, langsung diambil satu lagi untuk mengikuti lesatannya.


Begitu terus sampai musuh yang datang bertubi-tubi menjangkau di hadapannya. Barulah dia beralih menggunakan senjata tebas, pedang. Yang sangat cocok dipakai untuk jangka pendek.

__ADS_1


Dia menggunakan pedang tersebut sembari menaruh busurnya melintang di punggung. Dan menjuntai pada punggungnya menyatu dengan tempat anak panah.


Tangannya demikian tangkas dan kekuatannya demikian hebat. Langsung bisa menjatuhkan paling tidak dua atau tiga musuh. Dalam sekali tebas. Terutama yang ada dijangkau tangannya, dan pada kibasan senjata tajamnya.


__ADS_2