
Para laskar mencari posisi bagus, mereka bersembunyi dulu. Seperti biasanya kalau melakukan pencegatan. Kita tidak serta merta langsung menyerang. Sebab resiko gagal besar. Juga jatuhnya korban di pihak sendiri akan lebih banyak. Bagaimanapun pengawalan mereka jelas dilengkapi senjata. Entah itu modern atau hanya parang saja. Tapi mereka jelas sudah siap dalam menghadapi resiko ini. Untuk itulah tujuan mereka melakukan pengejaran.
Pegunungan Menoreh di sebelah barat Progo ini lumayan melindungi kita. Berbukit-bukit dan batu-batuannya banyak. Sangat nyaman untuk bersembunyi. Selain itu semak belukar juga mampu menutupi diri dari pandangan lawan.
Kita juga lebih hafal tata letak daerahnya dibandingkan musuh sebab lebih lama menjelajahinya, jadi kalau menghadang akan lebih bisa diketahui keberadaan lawan.
Benar saja para Kumpeni itu sudah didepan mata, kebanyakan bersenjata senapan laras panjang dan pedang yang juga panjang, sementara orang Keraton hanya membawa senapan dan keris di pinggangnya. Keris perang dengan warangka yang pendek. Disana rupanya ada Letnan Andreas Viktor dan Letnan Hermanus tapi selain itu juga ada anjing pelacak hal ini membuat para laskar wanita ngeri. Mereka berdua inilah yang memimpin pengejaran pada kami.
Mereka tak membawa kuda. Juga meriam. Rupanya ditinggal di pos desa atau ada di Magelang kantor residen. Kelihatannya karena medan yang sulit serta kemungkinan membawanya yang repot, jadi tak dibawa alat mengerikan itu. Kalau dibawa jelas kami bakalan repot. Satu mortir saja mampu menjungkalkan kami semua.
Kalau memaksa membawa, bakalan kesulitan sendiri karena medan berat. Mendorongnya sulit, meriam itu biasanya diletakkan pada gerobak roda dua yang ara jalannya dengan ditarik mobil atau cukup didorong dari belakang. Juga mereka mungkin mengira jumlah kami tak seberapa banyak karena dianggap telah tercerai berai terutama setelah kekalahan pada akhir-akhir ini.
__ADS_1
Terutama di wilayah kesultanan Jogja yang sangat luas. Mulai dari Prambanan hingga Banyumas semua tersebar para laskar Diponegoro. Daerah luas itu membuat mereka kesulitan. Dan memerlukan banyak biaya untuk menutup semua pergerakan para gerilyawan. Mereka mesti mendirikan pos penjagaan yang hampir ada di tiap pemukiman. Agar para penduduk tak ada yang membantu dan geliat para gerilyawan dapat mereka amati. Kegiatan ini juga mesti menyediakan makan dan tambahan personil yang tentunya mesti digaji. Itu yang membuat keuangan negara semakin tersedot pada perang terbesar yang mereka hadapi sepanjang berada di bumi Mataram ini.
Mereka mulai dekat dengan posisi kami. Makanya kita bersiap menyerang. Terus bersiap-siap. Kaki kiri di depan. Dengan tombak pada tangan kanan dan arah mata tajam langsung menuju pada tubuh musuh. Panah-panah juga sudah terentang dari busur. Tinggal menanti aba-aba.
Jarak semakin dekat. Lemparan panah kami kiranya sudah bisa mengenainya. Tapi Bagus Sodewo masih diam. Seperti biasanya. Dia menunggu saat yang paling baik dalam melakukan serangan bersama ini. Dia masih menunggu semua sasaran berada pada jarak tembak. Hal ini karena berbagai alasan. Pusaka kami kebanyakan sederhana.
Senapan yang dirasa paling ampuh, jumlahnya hanya beberapa. Itupun didapat dari hasil rampasan. Walau mesiunya buatan sendiri. Yang kini tempat membuatnya sudah dikuasai musuh. Jadi yang kami pegang kini dibuat secara sembunyi sembunyi dalam hutan sisanya hanya membawa senjata klasik seperti panah tombak keris pedang. Yang bakalan sulit jika melawan senjata mereka yang canggih seperti senapan atau meriam belian itu.
Semua yang sudah siap siaga langsung bertindak. Panah-panah meluncur dengan derasnya. Senapan meledak, melepaskan amunisinya. Lembing-lembing juga meluncur dengan kecepatan tinggi.
Membuat pasukan musuh terkejut. Panik. Tak siap dan mereka berikutnya menjerit. Semua yang sedianya mau melakukan penangkapan dan pembumihangusan justru terkena getahnya. Yang jelas tak menyadari akan serangan kali ini. Banyak yang kena panah dan tombak yang kami lemparkan. Ada yang langsung tewas. Dua serdadu dan satu prajurit keraton tewas. Puluhan orang terluka.
__ADS_1
“Verdomseh! Sial.... darimana mereka tahu kalau kita bakalan kemari. Gawat kalau begini.” Mayor Andreas Viktor mencak-mencak. Apalagi melihat pasukannya pada kacau balau. Ada yang mati.
Merintih-rintih, menjerit, sembari memegangi dadanya yang tertancap panah.
“Itu ekstrimis perlu di hajar!” katanya terus marah dan mencak-mencak. Dengan bahasa yang tak kami ketahui.
Melihat musuh kocar kacir kami berloncatan keluar melakukan pengepungan. Hal ini membuat musuh semakin menciut nyalinya, mereka menyebut nyebut emaknya di Macstratt.
Kami terus mengurungnya supaya mereka tak bisa lari walau sejengkalpun. Kali ini kita tak memperebutkan harta hanya perlu kemenangan guna menambah kepercayaan diri.
Si Meneer bilang, “verdom seh koe inlander cuma bisa makan ubi dan kentut, sudah itu punya nama berani menghadang?” ujar Andreas Viktor marah.
__ADS_1