
Bapak...
Kecubung Biru mendapati ayahnya. Dia terluka. Pedang Ronggo Pekik merobek tubuh Paman Pulung Jiwo. Gadis itu ingin membantu bapaknya. Tapi Ronggo Pekik menangkapnya hingga dia hanya bisa menjerit-jerit. Ronggo Pekik terlalu kuat untuk dilawan oleh anak gadis itu.
“Lepaskan anakku!”
Pulung Jiwo mencoba melawan. Tapi karena Ronggo Pekik memegang pedang, dia tak bisa berbuat banyak. Pedang itu kembali tepat menusuk tubuhnya. Membuat Pulung Jiwo jatuh. Tak berdaya.
“Paman Tolong lepas kan dia!”
Aku mencoba membebaskan si gadis yang kini terus menjerit-jerit, antara ketakutan pada musuh dan khawatir pada ayahnya yang terkapar, berlumuran darah.
“Kamu jangan ikut campur!”
Dia menendang tepat mengenai dadaku. Membuat aku terpental. Sakit sekali rasanya. Dia kemudian menyeret Kecubung Biru
“Paman..”
__ADS_1
Aku kebingungan antara menolong paman Pulung Jiwo, atau menolong Kecubung Biru.
Akhirnya...
Aku berusaha melepaskan si gadis. Terus mengejar keduanya. Harus dibebaskan. Aku tak mau gadis itu kenapa-napa. Apalagi perselisihan keluarga itu sudah terlalu dalam. Terlalu lama. Dendam mereka teramat kuat. Akan menimbulkan masalah besar kalau tak segera dibebaskan Hanya saja kekuatan Ronggo Pekik demikian hebat. Semua orang tahu. Aku demikian juga. Makanya tak mudah untuk merampungkan rencana. Membuat Kecubung Biru lepas. Meski sekuat daya akan aku lawan. Tak urung kalah juga. Dia masih terlalu tangguh untuk aku yang tak memiliki apa-apa.
Paman Ronggo Pekik terus membawa Si Kecubung Biru yang menangis menjerit-jerit. Tapi tenaga kuat si paman tak kuasa dielakkannya. Aku terus mengikutinya.
“Paman, tolong lepaskan dia!“
“Diam kau!“
Kami sampai di pedukuhan lain, yang sebenarnya letaknya tak jauh dari dukuh tempat tinggal kami semula. Sampai di rumahnya, si Kecubung Biru di lemparkan begitu saja di teras depan.
“Diam kamu cengeng. Jangan menangis terus!” katanya sembari memukul si Kecubung Biru
Aku terus berusaha mendekat. Tapi tenagaku hampir habis. Selain perjalanannya memang jauh tendangan kuat berkali-kali paman Ronggo Pekik, membuatku bertambah lemah.
__ADS_1
Paman Ronggo Pekik begitu saja meletakkan si Kecubung Biru.
“Paman jangan!” kataku berteriak, tapi selebihnya tak melihat secara jelas dan aku ambruk didepan rumahnya.
Saat tersadar, aku sudah ada di kamarnya. Dia rupanya membawaku ke dalam. Meletakkan di kamar tersebut. Kamar yang tak seberapa luas. Hanya dari bilik bambu. Anyamannya rapat. Terbuat dari bambu yang diambil sisi luarnya saja. Membuat terlihat mengkilap.
Perlahan aku bangkit mencari Kecubung Biru. Dimana gadis itu dibawa Ronggo Pekik.
Aku mencoba terus melangkah. Meski tenagaku masih lemas. Sakit ini bertambah parah rasanya tapi mesti melakukan satu hal agar rasa penasaran tak berkepanjangan.
Dikamar sebelah, aku melihat Kecubung Biru tengah terisak. Dengan tangan terikat. Aku berusaha mendekat dan mau melepaskannya
“Jangan macam-macam kamu!” kata paman Ronggo Pekik yang melihat aku sudah sadar.
Dia mengancam. Tatapannya nanar. Antara amarah dan keseraman. Dia tak mau aku mengusiknya. Hingga terus menakut-nakutiku. Sedangkan aku semakin tak tega. Dengan apa yang dirasa si gadis.
Nampak sekali penderitaannya. Yang mungkin belum kuat dia rasakan. Untuk usianya yang belum matang.
__ADS_1
Makanya aku terus berusaha. Agar dia terbebas dari nestapa.
“Tapi, kasihan paman.”