Kecubung Biru

Kecubung Biru
Menuju Pesisir


__ADS_3

Hanya dua kereta yang berhasil melewati jembatan sungai Progo.


Itupun dengan kehilangan banyak pasukannya yang jatuh ke sungai. Atau terdiam di jembatan. Menggelantung. Dengan nyawa melayang. Akibat lemparan tombak para gerilyawan. Atau tertembak oleh peluru rampasan yang dikenakan pada si pemilik sebelumnya.


“Sial. Kita rugi besar,” umpat mereka.


“Mereka yang untung besar.”


“Kita selamatkan diri dulu. Lalu melapor,” ujar serdadu yang lain. Karena bertahan juga bakalan sia-sia. Apalagi melawan yang kini tinggal beberapa gelintir saja. Banyak seperti awal juga tak menang. “Menceritakan apa yang kita rasakan. Biar atasan menyuruh orang untuk menghukum mereka nantinya.”


“Ayo kalau begitu. Kita terus ke kota saja.”


Para laskar bergembira mendapatkan hasil kali ini. Mereka merasa sedikit mendapatkan kemenangan. Meskipun kehilangan beberapa teman juga akibat tembakan Kumpeni dan senjata para prajurit.


Tapi yang mengherankan Pulung Jiwo terlihat menyerang Ronggo Pekik.


“Mati kamu!“


“Kamu yang bakalan mati!“


“Ini saatnya kamu membayar semua yang telah kamu lakukan.“


Keduanya terlibat duel dendam yang sengit. Pedang langsung tertusuk tajam. Namun ditangkis dengan pedang di tangan Ronggo. Yang berikutnya segera menusukkan tombak ke arah Pulung Jiwo.


Para teman yang lain terkejut. Dan hanya diam menyaksikan semua itu. Antara bingung atau tak berani. Sebab keduanya terkenal hebat.


Rasa amarah itu. Rupanya masih di rasa di hati Pulung Jiwo. Dia melakukan kesempatan itu untuk menuntaskannya. Terutama setelah merasa kalau dalam melakukan perampasan senjata telah berhasil.


Melihat pertikaian itu Ki Bagus Singlon Sodewo Mencoba melerai. Dengan wibawanya sebagai putra Diponegoro membuat dua orang yang sama-sama mendukung perjuangan ayahnya itu mampu dihentikan.


“Berhenti... Kalian jangan berkelahi sendiri. Aku tak mau tahu urusan pribadi kalian. Tapi demi perjuangan, kita harus kompak. Kalian jangan memulai perpecahan.”


Keduanya berhenti. Namun diam, seakan dendam masih menggumpal dan tak akan mencair, jika belum terselesaikan. Tatapan keduanya juga masih tajam, mengancam. Sekali waktu bakalan terlampiaskan.


Mereka lalu pisah, dalam dua kelompok yang masing masing membawa harta jarahan. Hal ini untuk melerai mereka. Juga untuk memudahkan dalam membawa hasil rampasan tadi.


“Ini kamu bawa yang banyak,“ ujar Laskar yang enggan membawa banyak-banyak.


“Lalu kamu?“


“Aku cukup membawa senapan saja. Bagus ini kalau sudah tidak terpakai, bisa buat menembak burung hantu di atas dahan. “


“Sembarangan saja. Kalau perang selesai ya dikembalikan lagi ke negara.“


“Sayang kan?“

__ADS_1


Kereta ditinggal, tapi kuda dan senjata dibawa. Kereta-kereta tersebut dianggap justru menyulitkan perjalanan mereka. Karena jalanan yang dilalui, tak selamanya bagus. Bahkan mesti melewati jalur-jalur tikus dan jalan setapak.


“Nanti kereta itu akan kuambil lagi.“


“Lalu?“


“Aku copot siapa tahu masih laku besi tuanya,“ ujarnya sembari berpikiran kira-kira buat apa kereta yang hancur itu kalau tak dimanfaatkan nantinya. Itu juga kalau tak mati tertusuk musuh saat perang.


Semuanya barang yang didapat akan dipikul dengan tenaga sendiri. Dengan berat yang mampu dibawa saja. Jumlah orang yang banyak itu semua pasti kesulitan bisa teratasi.


Serta berkarung-karung bahan makanan serta kebutuhan sehari-hari diangkut dengan punggung masing-masing. Yang sedianya mau dipakai untuk menyuplai pasukan serta kebutuhan kota, kini beralih tangan dan bakalan dipakai oleh para laskar itu sendiri atau untuk membantu para penduduk miskin.


“Lumayan beras.“


“Masih mentah jangan dimakan.“


“Menunggu masak lama. Perut keburu keroncongan,“ terus saja dia memakan beras mentah agar bisa masuk dalam perut kosongnya. Sedari tadi pagi belum terisi selain angin yang menemani selama berlindung di semak.


Pada rencana berikutnya, mereka berkumpul di tepi Progo. Pada bagian hilirnya. Di dekat pesisir para pasukan tengah siap. Bakalan menyerang istana dan mengusir Kumpeni. Disini hendak terjadi perang frontal. Perang terbuka.


Makanya Pangeran Diponegoro mengumpulkan semua pasukan untuk menjemput pasukan keraton dan kumpeni. Sembari menunjukkan kalau pasukan gerilya itu masih ada. Agar lawan juga segan padanya.


“Aduh capek,” Kecubung Biru mengeluh.


“Istirahat sebentar.”


“Lalu bagaimana?”


“Gendong....”


“Hus... bisa dimarahi paman nanti,” ujarnya. Apalagi banyak prajurit lain yang nanti bakalan tak enak di omong orang. Dikira hanya main-main dalam situasi yang demikian penting. Membuat kekacauan. Serta posisi yang kurang layak dilakukan antar sesama rekan seperjuangan dimana yang lain juga tengah menghadapi rasa tak nyaman, antara lelah, letih lesu, beban berat. Menyedihkan pokoknya.


“Atau kau dorong saja pakai kereta itu.”


“Tak ada kuda.”


“Makanya di dorong.”


“Kan keretanya rusak sudah kita hancurkan kemarin.”


“Jadi bagaimana ini?”


“Ya sudah, minum yang banyak saja.”


“Kembung nanti kalau tak makan apapun.”

__ADS_1


“Bertahan sajalah. Barangkali di jalanan nanti ada yang memberi kita makan.”


“Mana ada, kita berjalan juga lewat kesunyian. Kalau ada rame-rame nanti akan meyingkir. Biar tidak kepergok Kumpeni.”


Mereka berjalan terus menyusuri sungai Progo. Menuju hilirnya. Mendapati pesisir untuk menggabungkan diri dengan pasukan inti.


Sepanjang sungai itu demikian indah. Gambaran nyata dari bumi yang demikian asri. Pemandangannya, juga suasananya. Namun terkoyak oleh ambisi besar yang tengah terjadi.


Diantara dua kelompok besar. Yang mengakibatkan kacaunya suasana dan yang semula indah, kini semakin hancur. Tak bisa ternikmati. Mereka hanya ingin cepat sampai. Pada tujuannya.


Jalanan memang masih sulit tapi dengan banyaknya pasukan membuat mudah dilalui. Mereka menebang pohon yang melintangi jalanan. Menyibak semak ilalang yang tak sanggup di tembus. Serta menyingkirkan binatang berbahaya yang menghadang.


“Awas pohon!“


“Biar aku potong.“


Dipangkasnya pepohonan liar yang tengah miring ke arah jalanan. Yang benar sangat mengganggu buat rombongan pasukan yang demikian banyaknya. Makanya langsung di tebang. Disingkirkan di tepi jalan dalam posisi memanjang di sisinya. Sehingga yang bagian belakang bisa lewat dengan mudah.


“Ih... lebat banget!“ ujar yang lain. Kala melintasi suatu rumpun ilalang yang lebat dan sangat panjang cakupannya. Dia hanya menyibak dengan ujung tombak sebagai tongkat.


“Kaget aku!“


“Apa?“


“Itu kancil.“


“Lumayan akan aku kejar. Bisa kita sate ini.“


“Yah... sudah jauh.“


Binatang itu lari. Menelusup pada rimbun rerumputan lain yang lebih lebat.


“Itu baru kancil,“ kata yang lain senang. Nampak ada sesuatu yang bergerak-gerak.


“Waaa....“ tapi setelah disibak langsung kaget.


“Apa....“


“Ular besar hitam.“


Nampak ular panjang melingkar-lingkar yang biasanya terdiam, atau berjalan dalam sunyi, kali ini dia membuat gerakan mencurigakan dengan membuat gerumbulan itu bbergerak-gerak, seakan ada binatang besar lain yang ada disitu.


“Tombak saja beres.“


Ular itu langsung di tombak. Dan menggeliat-geliat saat kena. Barulah yang lain beramai-ramai memukul dengan ujung gagang tombak panangnya.

__ADS_1


“Ih sayang kulitnya.“


Hingga menjelang siang mereka sampai di pesisir. Disini tanahnya berpasir, landai dan luas.


__ADS_2