
Meninggalkan segalanya termasuk rumah yang demikian teduh untuk menghalau hujan. Menyimpan segala harta dan kenangan sepanjang mereka membina rumah tangga hingga mendapatkan buah hati dari segenap cinta yang tertumpah. Itu semua tak menyurutkan niatan dalam usaha membantu segala bentuk penentangan pada ketidak Adilan yang mereka semua, rakyat juga masyarakat yang merasa masih dirugikan.
Itulah makanya banyak rumah yang ditinggalkan. Nanti kalau perjuangan selesai, bakalan diambil lagi, ditempati lalu melanjutkan tugas sebagai petani. Menanam tanaman yang bisa dinikmati. Menempuh kehidupan damai yang diinginkan. Sesuai dengan hati yang nyaman juga.
Paman Pulung Jiwo bisa tidur.
Aku menemani si Kecubung sembari memandang pemandangan tepi hutan yang asri.
Dia bercerita.
Dulu, kata bapak, aku lahir saat ibu meninggal, kebetulan dia melihat kecubung berbunga di depan rumah dan dibawahnya ada batu akik berwarna biru makanya aku dinamakan demikian, bahkan batu itu dia gosok dan dipakai sebagai perhiasan di jarinya. Cincin yang diberi nama kecubung biru, sama seperti namaku.
Aku hanya manggut-manggut .
“Kalau aku lahir pada senja hari, dimana warna langit begitu mempesona dengan lembayungnya maka aku diberi nama Cahyo Layung.”
Beberapa hari kita tinggal di gubug itu. Gubug ditepi hutan. Sepi. Tak ada kegiatan, tak banyak yang lewat juga. Hanya senja, berganti suara serangga malam yang menjerit kan iramanya. Dan menanti cahaya lembayung pagi yang menyinari bersama dinginnya suasana.
Kami makan seadanya. Yang berhasil kami dapat kala itu. Terkadang hanya makan umbi liar kalau Cuma itu yang ditemukan. Atau mencari buruan yang sulit didapat. Seperti malam ini kami pada bakaran di depan rumah. Menikmati rejeki yang kami dapat dihari ini. Meskipun begitu kami masih bisa mengucap syukur, ada yang bisa kami makan dikala sulit ini.
__ADS_1
Lalu mereka tidur dengan tenang. Melupakan perang, perselisihan, permusuhan, dendam dan melewatkan malam dalam sepinya.
Sudah lama kita disini.
Sebenarnya hampir tak ada gangguan.
Kami merasa tenang. Seperti suasana dalam sebuah keluarga rasanya.
Maklumlah aku lama sudah tak punya keluarga.
Hanya sebatang kara.
“Ayo kita pergi. Kita cari pasukan Diponegoro.“
Mereka berkemas aku juga. Mencari kelompok laskar yang bergerilya dan tinggal mengelompok.
Di tempat sepi diperjalanan mereka bertemu anggota laskar yang tengah menyamar
“Dimana kelompok kita?“ tanya Paman Pulung Jiwo pada seseorang yang begitu asiknya memandang ke suatu tempat dengan sorot yang tajam dan demikian konsentrasinya.
__ADS_1
“Disana,“ tunjuk orang itu pada suatu tempat yang rimbun. Baik tertutup oleh semak ataupun tebing yang bebatuannya besar-besar dan sanggup melindungi diri dari pandangan musuh. “Kita mau mencegat pasukan musuh,“ jelasnya lagi.
“Baiklah kalau begitu kami juga mau membaur,“ kata Pulung Jiwo yang segera menyuruh kami untuk bersiap mengikuti apa yang para laskar akan lakukan.
“Kamu juga mau menyerbu,“ sapa kami pada seseorang yang lagi bersembunyi di balik pohon tumbang. Dia hanya mengangguk.
Masing-masing bertemu dalam suasana tegang. Masih mengintai. Namun yang diintai belum juga nampak. Yang ditunggu tak datang-datang.
Makanya aku penasaran.
“Ada apa?“
“Menurut telik sandi ada iring-iringan niaga yang dijaga ketat pasukan Kumpeni. Mereka bakalan ke keraton melewati daerah ini,” jelas orang itu yang membawa berbagai keperluan perang klasik. Nampak ada panah, tombak dan pisau besar di pinggangnya.
“Kenapa disini mencegatnya?“ ujarnya masih ingin mengetahui lebih dalam rencana yang bakal dilakukan.
“Karena tempat ini begitu ideal untuk pencegatan,“ terangnya sembari memperlihatkan segala lokasi hanya dengan matanya dan main tunjuk.
“Tidak di pertigaan saja, lebih jantan begitu?“ ujarnya menunjuk pada suatu pertigaan ramai yang tak jauh dari tempat tersebut yang memang sangat ramai dalam perlintasan oleh orang-orang yang banyak berkepentingan untuk kesehariannya. Termasuk juga yang berasal dari luar daerah. Mereka bakalan melewati temat yang ramai tersebut. Untuk itulah kami menanyakan lokasi itu.
__ADS_1