Kecubung Biru

Kecubung Biru
Perang Jawa


__ADS_3

Pasukan Kumpeni sudah mendarat di tepi sungai Progo. Mereka langsung berkumpul. Membentuk formasi yang demikian tertata rapi. Menandakan kalau mereka berasal dari suatu yang sudah terlatih dan mumpuni. Sekian lamanya mereka melatih diri, sebelum akhirnya diterjunkan pada daerah rawan yang sesungguhnya. Sehingga kemampuan tempur mereka tak usah diragukan lagi.


Meskipun begitu ada yang menggigil kedinginan, karena menyeberangi sungai dengan suhu yang berbeda dengan cuaca sekitaran, hingga basah pakaiannya dan dalam memegang senapan pun sampai bergetar. Tak fokus. Andai saja menembak pantat, bisa kena kepala atau menembak kepala meleset mengenai pantat.


“Ada gempa apa ya?“ ujar rekannya dengan logat mereka yang kental sekali.


“Itu karena aku kedinginan,“ katanya sembari menunjukkan tangannya, yang berkerut dan membiru. Meskipun sebenarnya mungkin cuacanya biasa saja. Tapi karena bakalan menghadapi sesuatu yang besar, membuat rasanya juga berbeda.


“Begitu amat?“


“Nyatanya dingin, mau bagaimana lagi.“


“Sabar, nanti disana sudah kering,“ tunjuk pada seberang sungai. Sebentar lagi sampai.


“Tapi....“


“Kenapa?“


“Malah banyak musuh.“


Namun sebagai serdadu yang demikian terlatih, keadaan itu langsung teratasi. Kembali mereka tergabung dalam suatu barisan yang tertib kembali. Mereka berjajar sepanjang sungai yang memanjang dalam kelompok yang demikian banyak.


Kini Pangeran Diponegoro sendiri yang menemui Patih Danurejo. Mereka berembug di tengah pasukan yang siap perang. Dalam suatu pagar betis yang aneh. Dalam dua kelompok yang saling berseberangan. Yang keduanya sudah siap perang. Dengan berbagai senjata di tangan. Yang siap setiap saat langsung merenggut nyawa musuh jika genta perang berbunyi. Tanda bakalan di mulainya perang kali ini. Tentu saja mereka sudah yakin, kalau bakalan bertempur, karena sekian lama sudah di jalani hingga sejauh ini perang terus berkecamuk. Baik secara terbuka seperti kali ini, atau cuma bergerilya yang sembunyi-sembunyi.


Aku berdiri dekat Kecubung Biru. Tanganku bergetar. Bakalan melawan ratusan musuh. Jangankan melawan yang jumlahnya demikian banyak. Hanya bertemu orang keraton yang terlatih saja belum tentu bisa menandinginya. Ini berlipat kali.


“Bagaimana kakang, kok nampak bergetar?”


“Iya, aku sedikit ngeri dengan musuh yang sangat banyak itu. “


“Hehe...“ dia hanya terkekeh.


“Kau tak takut?“


“Ada bapak, aku akan dilindungi.“


“Iya, tapi dia juga sibuk nanti. “


“Aku juga memegang senjata kok,“ ujarnya sembari memperlihatkan banyak senjata yang dia pegang.


“Tapi mereka banyak dan sakti-sakti.“


“Biarlah, akan tetap ku hadapi nanti.”


Dia tenang saja dalam menatap musuh yang bagai gelora untuk siap menerjang.


“Kecubung Biru, kau dibelakang saja nak. Bersama para laskar wanita. Agar lebih aman. Dan bapak bisa melakukan tugas dengan penuh kewaspadaan, tanpa terganggu konsentrasi ku akibat sambil mengawasi mu terus.”


Paman Pulung Jiwo sudah memperingatkan, agar dia berada di front belakang saja, atau membantu laskar wanita menolong para korban. Tapi Kecubung Biru menolak dia takut kalau-kalau Ronggo Pekik menyerangnya lagi.


“Tapi kalau paman Ronggo menyerang bagaimana?“ Kecubung Biru khawatir. Dia bakalan kewalahan kalau orang sakti itu datang mencelakakannya.


“Tidak. Dia juga tengah sibuk,“ kata Pulung Jiwo memperhitungkan kalau rekannya itu juga bakalan melawan banyak musuh.


“Tidak lah pak. Aku disini saja membantu bapak,“ Kecubung Biru tetap ingin di tempat itu.


“Ya sudah tapi jangan jauh-jauh dari bapak ya. Dan selalu waspada kalau musuh datang mendekat.“


“Iya pak.“


Akhirnya Pulung Jiwo mengijinkan. Hanya pesannya supaya dia tak jauh darinya.


“Patih Danurejo,“ ujar Pangeran.


“Kanjeng Pangeran,“ ujar Patih Danurejo. “Bagaimana kabarnya?“


“Yah beginilah sulit mengatakannya. Tapi kalau kesehatan jelas sangat baik dan siap untuk melakukan pertempuran yang menentukan ini,“ jawab Pangeran Diponegoro. Dia yakin kalau kali ini juga tak bakalan berhasil untuk menuntut apa yang dia inginkan. Yang sudah pasti untuk saling bertikai.


“Sayang sekali kalau kita sebagai kerabat harus melakukan pertumpahan darah. Bukankah sebaiknya kita berdamai dan segala persoalan bisa kita selesaikan dengan musyawarah.“


“Itu lebih baik, namun tuntutan kami jelas tak akan kalian respon. Kalian hanya akan menuruti kehendak sendiri bukan. Makanya lebih baik kalau kita melawan“


“Tapi kami tentu saja sangat kuat. Karena persenjataan yang sangat hebat dan para prajuritnya jelas sangat terlatih. “


“Kami mendapat dukungan rakyat demikian kuat. Pastinya kami akan mampu memenangkan perang ini. “


Pangeran Diponegoro menuntut, agar diakui sebagai raja Jawa. Tapi ditolak oleh Patih Danurejo, karena dia yakin Kumpeni bakalan membela mati-matian.


Njeng Pangeran marah. Dia menampar sang patih yang kurang ajar, murang toto. Dengan pipi kesakitan, Sang Patih berteriak untuk mulai menyerang.


Serang!


NYI Ageng Serang, salah satu pemimpin wanita terkejut. Tengak-tengok sebentar sebelum menatap lurus. Dia bersiaga.


“Verdom seh.....”


Andreas Viktor jengkel. Dia marah-marah dan bicara tak karuan. Dengan logatnya yang aneh.


“Wah... mereka tak mau menyerah rupanya. Kalau begitu kita siap-siap,“ ujarnya pada anak buah.


“Baiklah semua sudah kita masukkan ke tempatnya. Peluru besi bundar ini masuk meriam,“ jawab serdadu dengan menunjukkan meriam besar beroda dua itu telah terisi amunisi.


Dia menyuruh para Kumpeni menembak.


“Langsung lepaskan saja peluru besar kita!“

__ADS_1


“Sekarang?“


“Ya.... “


Meriam-meriam meletus.


Membuat pasukan Diponegoro terpelanting dan banyak yang binasa.


“Aduh sakit!“ teriak prajurit yang terluka. Tiba-tiba saja peluru itu meledak di dekatnya. Banyak yang langsung tewas.


“Awas hati-hati!“ kata temannya yang selamat. Dia menarik tangan rekannya agar lolos, namun tak kuasa. Terlanjur luka parah.


“Celaka, datang lagi!“ peluru-peluru bundar itu mengarah ada kerumunan orang.


Pasukan Diponegoro langsung bubar. Melihat rekannya banyak bergelimpangan. Terkena ledakan meriam belian itu.


“Kau seret orang yang terluka itu,“ dia menyuruh rekannya menyingkirkan yang masih selamat. Agar bisa diobati.


“Baiklah kau sendiri hati-hati. Senjata ini demikian hebat. “


Pangeran Diponegoro yang kecil ramping, bergerak sangat gesit. Banyak peluru yang sulit mengenai tubuhnya. Apalagi kalau dia mengenakan jubah. Bakalan sulit ditembus. Hingga orang-orang mengira, Dia punya ilmu kebal. Tak mempan peluru. Padahal pakaiannya yang gombrong membuat dia sulit ditembus. Meskipun bajunya sampai bolong. Tapi tak mengenai kulit. Ini juga yang membuat dia dikenal mempunyai ilmu Lembu sekilan. Meskipun tertembak. Tapi masih ada satu kilan, tangan. Yang membuatnya tak terserempet. Meskipun begitu dia terkenal memiliki ilmu yang tinggi akibat seringnya tirakat dan melakukan topobroto yang ketat.


Bagus Sodewo bergerak cepat. Kudanya dipacu kencang. Pedangnya bergerak cepat. Dia mengendalikan kuda dengan dua lututnya. Sementara tangannya sibuk mengobat-abitkan pedang, keris di tangan kirinya ikut menusuk. Keris perang ini langsung menembus tubuh musuh. Membuat lawan bergelimpangan.


“Terus maju... rasakan ini!”


Dia melemparkan tombak sembari melajukan kudanya cepat-cepat. Tombak menancap pada tubuh serdadu Kumpeni. Dan berikutnya jatuh tak bernyawa.


Beberapa orang mencoba menghadangnya dengan senapan siap ledak. Tapi kalah cepat, akibat kuda itu begitu garang dalam bergerak.


“Minggir! Awas kalau masih menghalangi jalanku!”


Dia berkata sembari tangannya membabatkan pedang. Beberapa orang langsung jatuh terkena senjatanya.


Dua, tiga orang mencoba menghentikannya. Sayang tak kuat menahan terjangan. Dan akhirnya terbabat pusaka ampuhnya.


Yang berikutnya nampak beberapa orang bertumpuk terkena senjata pedang itu.


Paman Pulung Jiwo sembari mengawasi putrinya terus mengamuk. Asal ada musuh langsung diserang.


Punggungnya penuh anak panah. Tangannya cekatan. Menyambar anak panah dipunggung. Lalu melepaskannya dengan cepat. Berkali-kali. Terkadang malahan lebih dari satu, akibat tangannya banyak menarik anak panah akibat tergesa-gesa. Kumpeni banyak yang kena. Beberapa orang jatuh tertembuas panah.


Namun para pengeroyok terus berdatangan. Membuat dia semakin sulit membidik. Satu tombak tertancap pada musuh diambil dan dilemparkannya kuat-kuat. Dan tepat menancap pada penyerangnya itu.


Berikutnya, dua serdadu di depannya sudah menghalangi. Dia kemudian menghantamkan pedangnya. Tapi ditangkis dengan senapan. Yang berikutnya senapan itu di tarik pelatuknya dan meledakkan peluru ganas. Tapi berhasil dihindari meskipun dari jarak dekat. Yang berikutnya dia menusukkan sangkur pada senapan laras panjangnya. Ditangkis pedang, kemudian direbut pakai tangan kiri. Dan tangan kanannya kembali menghantamkan pedang yang langsung menembus tubuh serdadu Kumpeni itu. Dan tungkai kakinya menendang serdadu yang lain. Keduanya terjatuh.


Ronggo pekik juga tak mau ketinggalan. Dia mengamuk. Apalagi melihat Pulung Jiwo demikian ganas mengalahkan musuhnya. Segera dia mencari lawan. Setelah melihat Kumpeni langsung ditubruknya. Dia tengah mengokang senapan karena berkali-kali menembaki para laskar.


Setelah terpegang, dihunusnya keris pada pinggangnya dan ditikamnya kuat-kuat. Serdadu itu hanya menjerit sebentar sebelum ambruk bersimbah darah.


“Rasakan ini!“


Dia melepaskan anak panahnya dan mengarahkan pada serdadu yang mendekat. Panah menancap tepat pada Kumpeni itu. Yang langsung jatuh terinjak rekan di belakangnya.


Berikutnya Kecubung Biru melepaskan lagi. Dan serdadu dibelakang yang tadi juga kena.


Begitu terus, dia melepaskan panah berkali-kali yang diambilnya dalam bumbung tempat anak panah.


Seorang serdadu melihatnya. Dia geram. Banyak rekannya yang tewas tertembus panah. Kecubung Biru memanahnya. Tapi tertangkis pedang. Dan dia tak sempat lagi memasang anak panah di busur, keburu musuh sudah dekat. Dia kemudian menyabetkan pedang ke arah Kecubung Biru yang sudah dekat. Seayunan tangan sudah pasti bakalan kena.


Untunglah Pulung Jiwo datang dan membabat serdadu itu hingga dia roboh terlebih dulu, sebelum berhasil mengenai Kecubung Biru.


“Kecubung Biru, kamu ke sana saja menggabungkan diri dengan para laskar wanita!” ujarnya setelah berhasil menyingkirkan bahaya.


“Iya pak!”


Kecubung Biru menurut. Dengan dada berdebar karena terkejutnya tadi dia mendapati teman-temannya wanita.


Aku sendiri repot. Langsung mendapat lawan tangguh. Seorang prajurit keraton yang sudah berpengalaman. Dia teman ayahku dahulu. Kali ini sedikit ada perbedaan. Dia tetap pada pekerjaannya. Sementara kita membantu musuhnya. Dan ini membuat kita saling berhadapan sebagai orang yang bakalan saling bantai.


“Mundurlah nak“ ujarnya.


“Tidak paman aku membela perjuangan ini.“


“Kau akan menyesal nak.“


“Semua sudah saya pahami resikonya.“


“Ayahmu diatas sana juga pasti bakalan sedih melihat anaknya bakalan tewas mengenaskan.“


“Dia akan bangga kalau saya membela kebenaran.“


“Berarti kau akan menanggung resikonya. “


Dia menyerang. Aku menangkis. Pedang kami berbenturan dengan kuat. Berikutnya aku mencoba menusuknya. Tapi dia menghindar dan menghantam dengan tangan kiri. Mengenai pelipisku. Tapi aku balas menyerangnya.


Begitulah pedang berbenturan dengan pedang. Dan tinju saling mendarat. Aku kerepotan menandinginya. Dia demikian kuat. Sampai akhirnya tendangan kuatnya mengenai perutku.


Aku jatuh terjungkal. Namun disampingku ada lembing bekas prajurit keraton yang tewas. Langsung kutusukkan sekuat tenaga. Dia yang tengah memburu ke arah ku tak menduga. Dan berikutnya menjerit tertahan dengan perut tertusuk pusaka. Prajurit itu menggelepar dan langsung terbujur kaku.


Aku sedikit bernafas lega. Sesaat terdiam. Untuk menata tenaga kembali. Dan merasa maut sedikit menjauh. Tapi langsung bangkit kembali untuk membantu yang lainnya.


Suasana kacau ini semakin kacau. Pihak keraton keteteran. Kumpeni yang diandalkan sedikit kewalahan. Membuat mereka mundur.


Den Bei, sang ahli strategi sedikit panik melihat para laskar bergelimpangan. Dia takut rekan-rekannya menjadi ciut hati. Makanya dia mulai menjalankan rencananya.

__ADS_1


“Pasukan siap!“ Den Bei memberi perintah. Sehingga para pasukan kembali berkumpul dalam suatu perintah tegas. Yang terpenar kembali kumpul. Yang jatuh bangkit dan yang jauh berlari-lari mendekati kelompoknya.


“Kita pergunakan siasat perang supit urang.“ Itu suatu siasat yang dipakai dalam perang klasik. Dimana hanya mengandalkan senjata kuno. Sehingga lawan juga senjatanya sama. Biasanya kemenangan didapat dari kelihaian dalam bersiasat.


Posisi ini seperti bentukan udang. Dimana tengah menyempit dan samping menggelembung banyak pasukan yang memperkuatnya.


Karena pasukan musuh bersenjata mengerikan, dan seringkali terarah pada bagian tengah di mukanya, maka mereka akan menyerbu di bagian sisi agar bisa menusuk jauh ke pasukan muduh kemudian merobek pertahanan utamanya di tengah.


Kalau semua terkonsentrasi pada permainan lawan, maka korban banyak berjatuhan, karena memudahkan arah tembakan meriam musuh yang langsung fokus dalam membidiknya.


Jika dari tepi, maka mereka akan kebingungan mencari titik bidikan itu. Hingga ada jeda waktu, sampai pasukan berhasil menjangkau musuh.


Pasukan berkuda yang bisa bergerak cepat diperintahkan supaya menembus jantung pertahanan musuh. Supaya meriam tak kembali meledak. Sebab, ada jeda waktu, untuk mengisi dengan peluru. Dan menembakkannya.


Kelompok pasukan itu segera bergerak cepat. Kudanya melaju kencang. Sembari membabatkan pedangnya. Dua tiga serdadu langsung terjungkal.


Namun musuh waspada.


“Gawat!“


“Mereka cepat sekali.“


“Tembak dia!“


“Apanya?“


“Matanya...“


“Kalau kena.“


Mereka menembak kuda berikut penunggangnya. Yang kena penunggang itu. Dia jatuh terguling. Kudanya lari panik.


Berikutnya dibidik kudanya. Tepat pada satu titik. Pelatuk ditarik. Melesatlah peluru. Mengenai mata kuda. Dan langsung membuatnya terjungkal. Kuda menggelepar, tapi anggota laskar itu masih bernyawa dan langsung bangkit. Lalu meraih tombak, buat melempar pada si penembak.


Para pangeran dan pasukan berkuda dengan bergerak cepat terus saja menerjang musuh.


“Ayo serang terus!“


“Jangan mundur!”


Benar, rencana Den Bei menjadi kenyataan. Setelah peluru keluar, mereka sibuk mengisi amunisi. Saat itulah pasukan kuda sampai dan langsung menerjangnya serta membabat dengan tombak atau membabat dengan pedang.


“Cepat kita babat dia!” dia memburu pada serdadu yang sibuk mengisi peluru di senapannya.


“Kanan juga!” dikanannya juga langsung diterjang. Sama seperti temannya, setelah menembak dia mengisi peluru besi bulat untuk menembak lawan. Para serdadu bergulingan. Tak kuasa menahan terjangan musuh.


Saat itu juga dikala musuh terkoyak, dan pasukan kuda berhasil merobek pertahanan musuh, Pasukan Diponegoro yang lain menyerang beramai-ramai. Mereka berteriak-teriak sembari melontarkan tombak ke arah musuh. Musuh terkejut. Tiba-tiba saja dadanya sudah tertancap tombak. Belum selesai dengan hal itu langsung disusul dengan hunjaman pedang. Semakin porak-poranda barisan musuh.


Tapi tak semudah bayangannya. Pertahanan musuh juga kuat. Hanya sebentar mereka kocar-kacir. Berikutnya mereka langsung membentuk formasi yang sulit ditembus. Mereka langsung memasang perisai. Pada depan kelompok pasukan. Beberapa perisai yang digabung dalam satu kelompok yang saling terkait dan mendukung. Sehingga dia bisa menahan terjangan kuda. Berikutnya peluru Kumpeni meletus mengarah pada pasukan gerak cepat itu. Hasilnya membuat beberapa kuda cepat jatuh.


Situasi jadi tak jelas. Karena sesaat menang, belum tentu detik berikutnya bakalan jaya.


Patih Danurejo bertindak cepat. Tak ingin keadaan bertambah parah. Dia menyuruh prajurit keraton bergerak. Banyak dari Laskar Diponegoro yang enggan melawan bekas rekan mereka. Membuatnya kesulitan bergerak. Mau memburu Kumpeni sulit. Mau melawan rekan sendiri tidak tega. Membuat mereka lena dan berakhir di senjata musuh.


Suasana genting.


“Waduh gawat!“


“Mereka semakin ganas,“


“Ayo yang lain semangat!“ Semua memberi dukungan untuk terus maju. Jangan sampai ikut lena agar pertahanan kembali terjaga.


Hal ini membuat Ronggo Pekik mengamuk. Dia tak peduli siapa. Asal didepannya dia babat. Tak perduli dulu kawan atau bahkan kerabat.


“Terus maju!”


Satu orang serdadu menghadang. Dia acungkan senjatanya. Namun Ronggo menyabetnya. Dan langsung terguling.


Dua orang keraton mencegat. Siapa tahu dia jjuga enggan. Tapi Ronggo menyabetnya juga. Dan duanya terguling untuk langsung binasa.


Banyak yang binasa ditangannya akibat kenekatannya itu.


Panglima Sentot dan Bagus Sodewo yang berpakaian wulung ikutan mengamuk. Mereka mengejar-ngejar para Kumpeni. Asal tampak batang hidungnya yang panjang seperti Petruk langsung terkena pedangnya.


“Terus serbu!“ mereka menyerbu.


“Mumpung mereka lagi terdesak! “


Para prajurit yang jumlahnya menjangkau 400 orang itu mengekor di belakangnya. Mereka ikut membantai musuh. Membuat orang enggan menghadangnya. Kalau melihat, lebih baik para musuh itu menghindarinya. Daripada terkena senjata lalu terguling dan disusul terjangan banyak pengikutnya itu. Maka binasa yang pasti didapat.


Apalagi gerimis mulai turun senja itu. Matahari bakalan jatuh. Gelap. Menguntungkan para laskar yang biasa dikegelapan rimba.


“Celaka! Malam.“


“Kita bakalan kesulitan ini.“


“Kalau begitu kita tarik dulu mereka.“


“Nanti kita cari tempat yang bagus untuk membalikkan keadaan.“ Mereka harus menghemat para prajurit. Kali ini banyak yang hilang. Kalau begitu terus, maka para Laskar pasti akan menyerbu kota. Berikutnya bakalan menguasai keraton. Kalau itu terjadi maka kerugian besar akan semakin dirasa. Bak hilangnya kedaton, atau cuma kerusakan besar di kota. Biaya perbaikan atau pengadaan kembali akan sangat besar.


“Baiklah ayo kita perintahkan para prajurit. “


“Mundur!! “


Itu akhirnya. Para Kumpeni membalik. Mereka mesti cepat pergi. Dan bergegas menyeberangi sungai Progo. Diseberang nanti bakalan lebih aman dan hendak menyerang dari jarak jauh dengan menggunakan senjata yang canggih. Mereka mundur sembari terus memandang para penyerbu. Untuk bertahan dari sabetan musuh. Dan menangkis memakai pedang panjangnya. Gerak mundur ini membuat para laskar terus memburu. Siapa tahu beberapa serdadu masih bisa di tusuknya. Bahkan mereka mengejar sampai ke air. Barulah mereka mundur setelah tak mungkin memburu. Musuh sudah ada jarak. Makanya mereka ikut membalik.

__ADS_1


__ADS_2