Kecubung Biru

Kecubung Biru
Dikejar


__ADS_3

Kini kita hidup dalam pengejaran lagi dan mesti berpindah-pindah tempat. Bergerilya. Bersama Bagus Sodewo mencoba menembus pasukan musuh. Sebab kita tahu kemampuannya yang demikian hebat. Sudah terbukti. Dan sama musuh menjadi suatu momok besar yang demikian berarti untuk kami melakukan perlawanan berikutnya.


Tapi lawan bertambah banyak, mereka terus menambah pasukan, dengan merekrut tenaga baru dari mancanegara. Dan memperkuat persenjataan. Mereka terus membangun benteng pertahanan dan memperkuat yang ada. Dibangunnya di hampir tiap desa atau daerah yang telah dikuasai. Dengan benteng-benteng itu, keberadaan semua laskar bisa diamati. Jika terdeteksi ada gerakan mereka langsung mengarah kemari untuk melakukan pengejaran.


Sementara kita semakin terjepit. Diantara pasukan yang menurun dan perbekalan yang seadanya.


Beberapa kali kita mesti merebut makanan dari para prajurit Kumpeni atau bangsawan pendukung mereka. Hingga tuduhan semakin menjepit kita. Mereka menganggap kita perampok gerombolan liar atau manusia hutan yang hidup tak pasti. Sedangkan pasukan inti tak diketahui keberadaannya.


Satu resiko dengan strategi gerilya kita hanya mengandalkan kelengahan mereka atau kondisi alam yang turut membantu. Situasi dan lokasi di hutan sudah kami kuasai dan hafal. Jika tidak demikian kita bakalan kewalahan. Mereka kuat.


Dalam hidup berpindah –pindah di alam liar ini. Tak sedikit penyakit yang turut menyerang. Banyak yang terkena malaria. Dan membuat kami bertambah lemah. Bahkan banyak yang binasa karenanya. Sebab tak ada pengobatan. Hanya dari tanaman liar. Yang belum tentu sesuai dengan penyakit yang diderita. Kalau tepat mungkin bisa meringankan. Namun bila keliru akan menambah sakit dan semakin parah.

__ADS_1


Berbeda dengan lawan. Mereka dirasa hampir tak ada masalah. Pasokan senjata terus mengalir dan memperbaharui kekuatan serta kemampuan persenjataan itu. Mereka rasanya tak kehabisan dana. Ada saja pemasukannya. Selain dari kas yang memang besar. Juga hasil penjualan rempah-rempah yang masih tinggi harganya. Juga hasil bumi lainnya. Semua itu turut membantu pembiayaan perang ini.


Kondisi ini semakin di perparah dengan berakhirnya perang Sumatera, mereka kini berdamai dan situasi sudah tenang. Sehingga hampir semua pasukan yang semula ditempatkan di Bumi Minang itu ditarik dan digunakan untuk membantu keraton. Menjepit keberadaan kami yang semakin terpencar dalam gerilya jika banyak pasukan bakalan diketahui keberadaannya. Makanya sebisa mungkin berpencar menunggu satu waktu kita dikumpulkan untuk melakukan perang bersama lagi.


Seperti senja ini. Kita hanya makan rebusan nasi tanpa lauk hasil menjarah gudang musuh yang berhasil kita rebut lalu diambil isinya dan dibakar gedungnya sebagai usaha bumi hangus.


Meski kami kehilangan beberapa teman. Akibat kepergok oleh para penjaga dengan senjata lengkap.


Yang langsung membombardir kami. Dengan senapan terbaru. Yang kemampuannya semakin canggih saja.


Paman Ronggo Pekik entah dimana. Jika kami bertemu maka Paman Pulung Jiwo langsung menyerangnya. Dia rupanya masih perlu waktu guna menghilangkan rasa dendam di hatinya akibat persengketaan dulu itu.

__ADS_1


“Makan.”


“Terima kasih.”


Kami makan seadanya nasi saja dengan minuman hangat dengan jahe liar dan gula kelapa. Pulung Jiwo mendapatkannya tadi. Yang langsung dimakan untuk bisa kita nikmati bersama.


Kemudian tiduran dibawah pohon besar atau tumpukan jerami yang dijadikan gubug hanya sekedar menghindari jatuh air atau dingin embun.


Kami sudah tak peduli pada binatang liar semacam ular atau banteng liar justru bakalan senang setidaknya itu makanan yang diberikan alam pada kami kala itu.


Pagi itu ada keributan. Telik sandi melapor. Katanya melihat rombongan Kumpeni yang tengah patroli mencari para perusuh.

__ADS_1


Menurut telik sandi jumlahnya lumayan banyak setidaknya ada tiga regu atau tiga puluhan orang. Dengan prajurit keraton yang tak seberapa itupun dari luar Jogja. Segera kita dikumpulkan. Jumlahnya lebih banyak. Dua kali dari kelompok mereka.


Kebetulan dipimpin langsung oleh Bagus Sodewo. Kami mencari posisi bagus beberapa masih di Suroloyo di pos pengintaian mereka yang mengamati daerah tersebut serta pergerakan musuh. Rupanya beberapa mata-mata mereka mengetahui keberadaan kita makanya mencari kemari.


__ADS_2