
Lalu berhadapan dengan prajurit keraton. Hampir saja dia menusuk musuh. Tapi ragu-ragu, dia bekas temannya. Makanya dibiarkan orang itu pergi. Bagaimanapun dia tidak tega. Sudah lama bersama, masa harus mengakhirinya juga. Itulah sisi lembut manusia yang kadang terkalahkan oleh ambisi berat. Namun kini coba dikurangi. Dan bila menyadarinya kelak, mungkin akan sama –sama mendapati kehidupan yang kemudian saling menguntungkan dalam suasana yang saling tolong menolong diantara rekan.
“Kau ikut mereka?“ ujar temannya itu keheranan. Dia juga belum tahu kalau Pulung Jiwo sudah keluar dari keprajuritan nya.
“Ya. Ini kesempatan aku untuk hidup bebas. Lebih baik kamu pergi. Aku tak ingin menyakitimu,“ ujar Pulung Jiwo.
“Baiklah. Tapi kalau aku boleh memberi saran. Sebaiknya kau kembali ke Keraton menjadi prajurit. Yang pasti akan membuatmu lebih terjamin. Terutama anakmu itu.“
“Sekarang aku belum mau.“
Orang itu menghindar. Sedangkan Pulung Jiwo terus membantu yang lainnya memenangkan pertarungan.
Ronggo Pekik juga mengamuk. Dia demikian garang. Apalagi pengalamannya membuat dia tampak hebat. Terlihat terbiasa dengan segala kekerasan yang tengah menghadangnya kini.
“Hai tunggu!“
“Apa?“
“Kamu mau mati ya?“
“Aku tak inginkan itu. Tapi ingin menebas kepalamu,“ ujar serdadu yang tak gentar akan kekuatan musuhnya.
“Kurang Ajar sekali kamu!“ Ronggo Pekik semakin marah.
“Makanya lebih baik menyingkir saja.“
“Kamu yang akan merasakan pusaka ku ini.“
“Majulah kalau ingin merasakan tusukan ku.“
Dengan pedang, dia tengah mengejar-ngejar para Kumpeni. Nampaknya memang ada sesuatu yang membuatnya begitu. Antara kebencian, keengganan, serta menghendaki musuh jauh-jauh meninggalkan dunianya. Bukan hanya untuk kembali ke negerinya yang jauh. Tapi lebih jauh lagi menghadap penciptanya. Itu harapannya.
Serdadu itu kebingungan. Melihat gerak cepat musuh. Yang tahu-tahu sudah berada di depannya. Makanya dia langsung menggunakan pedangnya. Karena tak sempat memakai senapan tanpa terisi peluru. Pedang itu dia sabetan pada musuh. Yang jelas berhasil dihindari. Dengan cepat Ronggo Pekik menggunakan kesempatan ini. Ditusuknya serdadu itu hingga tewas. Dia tak perduli dan merasa puas rasanya sudah membunuh musuh yang demikian dia benci. Berikutnya merampas peluru dan direnggut senjatanya yang lain.
Lalu dia berpaling pada musuh yang setelah menaklukkan serdadu itu dan memukuli prajurit keraton yang bersama dengan serdadu dan jaraknya tak begitu jauh. Dia rupanya juga kawannya dahulu waktu masih sama-sama menjadi prajurit.
__ADS_1
Orang itu rupanya bukan tandingannya yang sangat hebat dalam melakukan pertarungan jarak dekat ini. Terbukti dengan waktu yang tak seberapa lama pertarungan langsung bisa diatasi. Dan berikutnya Ronggo Pekik bisa langsung berhasil memporak-porandakan posisi musuh dengan segala kehebatan yang dia miliki.
“Gawat...“
“Dia sangat sakti.“
“Lebih baik jangan menghadapinya.“
“Atau kita bokong dia dari belakang.“ Ada rencana yang lumayan bagus. Dengan jalan memutari suatu kereta, atau lewat semak belukar, yang tak nampak dari musuh. Lalu main tusuk dari belakang. Hal ini akan membuat musuh takluk. Tapi untuk menyerang dari belakang, akan membutuhkan suatu tempat yang mestinya sudah sangat dihafal. Dengan begitu seluk beluk tempat untuk menjangkau keberadaan lawan akan teratasi dan rencana bakalan berjalan dengan lancar. Ini beda. Tak bisa itu. Dia tak tahu apa-apa. Dan sama sekali tak paham daerah tersebut. Maka rencana kali ini tak mungkin berhasil. Justru mereka yang menghadapi masalah nantinya.
“Sulit itu.“
Akibat sepak terjangnya yang demikian menakjubkan ini banyak dari pihak musuh yang menjadi panik. Para pengawal itu kebingungan dalam menghadapi serangan mendadak ini.
Mana musuh berasal dari tempat yang sebelumnya tak mereka ketahui. Tahu-tahu sudah berada dalam jarak yang sudah dekat. Didepan, disampingnya, atau dibelakangnya yang langsung menancapkan senjata.
“Ah....“
“Rasakan ini....“
“Itulah kalau kamu tak segera lari.“
“Ijinkan aku lari.“
“Sayang keburu tertusuk pusaka ku, kamu.“
Kejadian kacau ini bertambah parah. Cuaca benar-benar tak bersahabat. Gerimis turun menambah sengitnya pertarungan. Darah mengucur berbarengan dengan derasnya air yang langsung membasahi bumi ditepian Progo itu. Membuat bertambah sengit dan mengerikan keadaannya.
“Semakin sulit ini.“
“Bagaimana....“
“Mundur saja, kita cepat-cepat. Sangat berat menghadapi mereka yang sudah hafal dengan keadaan disini. Kita hanya melawan bayangan saja. Tahu-tahu mereka muncul. Kemudian menghilang. Mereka benar-benar sulit kita atasi.“
Melihat situasi tak menguntungkan, orang Kumpeni memerintahkan untuk mundur. Kalau memaksa melawan, maka kemungkinan pasukan akan habis dan harta bawaan tetap bakalan terenggut. Makanya langkah terbaik kali ini adalah mundur.
__ADS_1
Meskipun kalah sementara untuk menang dilain waktu. Di kondisi yang lebih baik tentunya. Lebih menguntungkan juga lebih banyak teman.
Dalam pertempuran mundur membuat suasana semakin tak menguntungkan untuk Kumpeni. Mereka semakin terdesak. Semakin tak mampu berkutik. Dan hanya bisa bertahan. Untuk selebihnya hanya kekalahan yang diderita. Mending kalau cuma terluka sebagian besar langsung tewas.
“Aduh.....“
“Cepat mundur.“
“Mereka sangat cepat. Sudah berada di belakang kita,“ itulah, dia melihat pasukan musuh sudah sangat dekat. Banyak orang yang memburu dengan mengacung-acungkan senjatanya. Berikutnya menyerang dengan kelebatan cepat dan sangat mematikan.
“Gawat aku tak bisa melindungi mu.“
“Aku juga tak sempat menangkis ini a.... “
Prajurit paling belakang langsung kena dampaknya. Mereka digempur terus oleh pasukan yang memburu. Para laskar tak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka mengejar dikala musuh mundur. Agar bisa lebih banyak menjatuhkan lawan. Sehingga pada perlawanan berikutnya jumlah musuh sedikit berkurang.
Akibat perburuan ini, para pengawal itu banyak yang tewas. Gerak mundur itu banyak menelan korban. Dan kereta tak bisa dibawa semua. Kini mereka memikirkan keselamatan dan tak peduli materi yang dibawa.
Kalau kali ini berhasil lolos, maka lain waktu bakalan menumpahkan kekesalannya untuk membalas dendam.
“Ayo kita terus ke jembatan.“
“Melintasinya dan lolos.“
“Mereka akan kesulitan kalau kita sudah diseberang,“ para serdadu berusaha menjangkau daerah yang aman. Diseberang itu harapan mereka bakalan kenyataan. Selain posisinya yang sudah jauh. Disana nanti merekalah yang bisa mengontrol. Dengan pandangan yang lebih jauh. Serta bisa berlindung pada tempat yang aman.
“Jika mereka terus memburu, kita bisa melihatnya di jembatan yang terbuka. Dan senapan ini dalam jarak jauh pasti akan mengenainya.“
Kumpeni memaksa melewati jembatan. Itu satu-satunya kesempatan. Dalam menyelamatkan bawaan, serta meloloskan diri dari maut.
Kuda-kuda dipacu cepat. Secepat yang mereka bisa. Meskipun jalanan semakin sulit. Licin akibat hutan. Dan terseok-seok oleh hadangan senjata musuh.
Kereta yang kelihatannya paling penting adalah yang berisi amunisi dan persenjataan karena untuk dipakai melawan para laskar oleh prajurit keraton, makanya mati-matian diselamatkan.
Meskipun begitu kereta bahan makanan juga mesti dipertahankan. Karena makanan sangat penting guna melakukan serangan balasan. Dengan tenaga yang penuh maka perlawanan juga akan maksimal. Dan semua itu bakalan didapat dengan adanya makanan yang berhasil masuk ke tubuh.
__ADS_1