Kecubung Biru

Kecubung Biru
Pulung Jiwo lara


__ADS_3

“Diam kamu! Dia sekarang sudah jadi istriku! Kamu jangan bertingkah macam-macam. Kalau tidak ku pukul kamu!" ujar Paman Ronggo Pekik mengancam.


“Ini makan!”


Dia melemparkan sesuatu.


Aku makan yang diberikannya. Isinya ubi dan segala makanan yang ada dimeja. Aku tak bisa berbuat banyak. Tapi kasihan menyaksikan Si Kecubung Biru disiksa terus menerus sama Paman Ronggo Pekik.


Sampai-sampai anak itu tak mau makan.


Tak ingin mencicipi apa yang dibawa paman Ronggo Pekik. Karena batinnya tertekan.


Padahal dia membawa makanan enak-enak.


Seperti daging ayam hutan, hati kijang buruan, hingga daging kambing hasil membeli dari pasar.


Tapi dia tak merasakan enak. Walau hanya menyentuh sudah segan, apalagi menikmatinya.


Ingin rasanya aku membawa lari gadis itu. Tapi tak berani. Takut kalau tertangkap kembali. Bakalan lebih menderita, karena mendapat siksaan lebih kejam lagi. Makanya hanya bisa terdiam dan cuma sanggup menghibur gadis itu, jika ada kesempatan.


Beberapa hari kami di rumah neraka itu. Datang seseorang dengan langkah tertatih. Dia memanggil-manggil Paman Ronggo Pekik dengan suara keras. Cukup lama dia mengulangi perbuatannya, mengucap nama itu.


Ronggo Pekik kemudian keluar. Sembari membawa segala persenjataan. Nampaknya sudah menduga dan paham siapa yang menghampiri rumahnya.

__ADS_1


“Kau?”


Aku melihat dia, Paman Pulung Jiwo. Langkahnya tertatih. Nampak lukanya belum sembuh benar.


“Ya.” Hanya dia yang berani melawannya.


Paman Ronggo Pekik baru saja menyiksa Kecubung Biru, gadis itu.


“Rupanya kau berhasil menemukan kami lelaki lemah!”


“Kurang ajar! Lepaskan anakku!”


“Tidak bisa! Dia sekarang sudah jadi istriku. Kau hanya boleh pergi. Membiarkannya bahagia bersamaku.”


“Rasakan kalau kau tak mau menyerahkannya!” Dia terus berteriak dan meracau, sembari melemparkan segala persenjataan yang dibawanya.


Dielakkan oleh Ronggo Pekik. Lolos. Keduanya terlibat pertarungan lagi. Ronggo Pekik balas menusukkan pedangnya. “Sudah kubilang kembali saja kamu lelaki sakit.”


Giliran Pulung Jiwo yang mengelak. Dia memukulkan pedangnya.


Pertarungan sengit terus terjadi. Pedang beradu pedang. Tombak berganti tombak. Saling pukul. Saling tangkis. Andai pedang sampai terlepas, Pulung Jiwo meraih tombaknya. Dengan kuat melemparkannya.


Kelihaian mereka seimbang, silih berganti, saling terjang, libas, hunjamkan. Tak ada yang kuat. Belum ada yang mengalah. Ronggo Pekik mundur-mundur. Menangkis dengan apa saja yang bisa diraihnya. Tapi Paman Pulung Jiwo terus memburu tak memberi kesempatan musuh mendapat angin segar.

__ADS_1


Terus begitu, hingga akhirnya, Paman Pulung Jiwo yang marah, berhasil menendang Ronggo Pekik dan terjatuh. Kemudian diburu dan bakalan dihujam dengan pedangnya. Kali inilah saatnya. Terasa segala dendam muncul. Mulai dari dibawanya anak tercinta. Lalu ditusuknya dia sampai terluka parah, bahkan sekarang pun belum sembuh. Hingga tak diserahkan anaknya itu.


Saat terjepit itu, Paman Ronggo Pekik melempar pasir ke muka Pulung Jiwo.


Membuat lelaki itu mengusap sejenak mukanya. Disaat itu Ronggo Pekik bangkit.


Pulung Jiwo mencoba membuka mata dan terkejut.


Mendapati kenyataan, kali ini Ronggo Pekik sudah menangkap anaknya, Kecubung Biru, dan berada dalam todongan keris ampuh.


“Lepaskan dia, licik!”


“Hehe... Kalau bisa majulah. Kau bakalan mendapati anakmu jadi mayat.”


“Kurang ajar!”


Pulung Jiwo bergetar hebat. Dia semakin marah. Namun tak bisa berbuat banyak. Semuanya kini berada dalam kendali Ronggo Pekik. Nyawa anaknya menjadi taruhan. Dia tak mau anaknya mati.


“Makanya jatuhkan senjatanya.”


Mau tidak mau Pulung Jiwo menjatuhkan pedangnya.


Saat itu juga, Ronggo Pekik melemparkan keris yang dipakai buat menodong Kecubung Biru.

__ADS_1


Tepat di dada Pulung Jiwo.


__ADS_2