
Kami juga turut marah mendengar dia berbicara dengan nada tinggi. Jengkel juga. Kalau kita marah, dengan bahasa kampung, nanti mereka bakalan tak tahu. Makanya mendingan meniru mereka saja, barangkali bakalan semakin marah karena itu.
Kami mulai menyerang. Pada berloncatan keluar dari persembunyian. Pedang di kanan. Keris di kiri. Maju bersama. Menggempur para musuh dari jarak dekat.
Mereka membalas. Rupanya tak mau mati sia-sia. Sebisa mungkin melakukan perlawanan. Senapan itu yang ada dalam pegangannya itu. pada meledak. Ada yang terarah ada yang tidak. Meskipun begitu kawan-kawan kami banyak yang kena. Mereka langsung terjungkal.
Para letnan menggunakan pistolnya menembaki kami juga. Mereka kini terlindung oleh para anak buahnya.
Bagaimanapun sebagai pimpinan, maka anak buahnya sebisa mungkin melindungi dia, meskipun menjadi tameng hidup. Yang penting atasannya selamat. Sebab kalau pimpinannya sendiri tewas sedangkan dia selamat maka bakalan kena tanggung jawab untuk tindakan kedisiplinan dan persatuannya.
Anjingnya itu bergerak dengan ganas. Dia sangat terlatih rupanya. Makanya begitu tuannya ada masalah dia langsung mengejar kami. Menggigit sana, menggigit sini sembari menggonggong supaya kami ketakutan.
Jelas saja hal yang tak wajar itu membuat Kecubung Biru lari sembari menjerit-jerit.
“Kakang Layung tolong! Kakang Cahyo Layung.”
__ADS_1
Dia menyebut namaku.
Aku sendiri yang kala itu tengah kerepotan. Musuh masih ada didepan. Padahal posisinya sudah selemparan tombak maka akan berhasil kita taklukkan. Tapi teriakan Kecubung Biru. Membuat aku berpaling ke arah suaranya. Kemudian mencoba membantu menyelamatkannya. Kukejar anjing itu dan ku lempar pakai batu sekepalan tangan. Kena kepalanya, membuatnya menjerit-jerit, untuk tak meneruskan langkah mengejar si perempuan.
Melihat kondisi yang sedikit berubah itu kami berupaya membalas tindakan mereka. Aku kemudian meluncur kembali untuk mendapatkan musuh. Dengan ganas ku lempar mereka dengan tombak. Berikutnya saat dekat aku menggetok kepala Kumpeni itu yang membuatnya pusing.
Yang lain menyerang dengan ganas pula. Mereka pada keluar semua dari persembunyian. Kemudian membabat kan pedangnya dengan kuat. Sehingga tubuh musuh luka robek atau bahkan terpenggal.
Yang lain menusukkan tombaknya. Seketika itu juga para Kumpeni banyak yang jatuh oleh gempuran.
Sebagian besar tewas karena luka sayat yang mengerikan mereka terkena tikaman pedang atau tembusan keris ampuh dengan pamor dan racun yang membuat tubuh musuh melepuh.
Kapten Hermanus memanggil anjingnya.
Para meneer itu berusaha mundur. Mereka panik melihat teman-temannya pada berguguran.
__ADS_1
Kami terus mengejar berusaha mendapatkan pistolnya, tapi lari mereka lebih cepat dari rasa takutnya. Itu yang membuat kita kesulitan.
Kemenangan kami hanya sebentar. Disini pertarungan silih berganti kondisinya. Sesaat kita unggul. Namun musuh berikutnya mampu membalikkan keadaan. Mereka juga sangat lihai dalam adu taktik. Sehingga tak mudah terjerumus pada satu kegagalan.
Setelah lewat beberapa waktu dari pertarungan sebelumnya, datang rombongan rekan kami dari kelompok lain, dimana wajah mereka, suasana dan situasinya tampak begitu memprihatinkan.
Mereka rupanya habis diburu pasukan Kumpeni pimpinan Andreas Viktor dan Kapten Hermanus. Yang berhasil mendapatkannya dan langsung melakukan perburuan hebat. Dengan membawa persenjataan lebih canggih dan pasukan yang banyak, membuat mereka berhasil.
Semula jumlah para gerilyawan sampai ratusan orang. Kini yang datang tak lebih dari 20 orang, itupun ada yang luka dan pakaiannya dekil. Disana ada Paman Ronggo Pekik. Dia juga lesu lelah Pakaiannya compang camping. Dengan badan dekil dan habis melakukan perlawanan hebat meawan musuhnya.
“Kamu!”
Paman Pulung Jiwo tiba-tiba menyerang Ronggo Pekik. Keduanya terlibat duel. Orang-orang hebat itu terlibat pertarungan sengit. Sudah menghunus keris dan bakalan ada pertumpahan darah. Dengan ganas Pulung Jiwo menyerbu bekas temannya Dan Ronggo Pekik tak mau mengalah. Mereka saling hajar tendang pukul.
'Berhenti!" Bagus Sodewo, Anak Njeng Pengeran mencoba melerai. Hal itu langsung membuat keduanya terdiam.
__ADS_1