Kecubung Biru

Kecubung Biru
Perang berlanjut


__ADS_3

Hanya beberapa hari kita berkumpul. Beberapa waktu berikutnya Bagus Sodewo membawa sebagian besar prajuritnya untuk bergabung kembali dengan laskar inti. Sedikit orang yang tinggal termasuk aku dan Paman Pulung Jiwo. Kita menunggu langkah berikutnya.


“Sebentar lagi kita bakalan nyaman. Tak harus berkelana begini,” kataku pada Kecubung Biru yang tengah asik membakar umbi. Hanya ini yang kami dapat. Mungkin kalau keadaan sudah pulih kami bakalan makan yang lebih nikmat daripada hanya sekedar makanan yang didapat percuma di hutan.


“Iya, aku akan memasak gulai kambing.“


“Dan aku akan mencicipinya.“


“Lalu kambingnya?“


“Minta tetangga kan boleh.“


Kami hanya meringis. Semua khayalan itu terbayang percuma. Dikala semua benar-benar tak kami punyak. Berikutnya hanya menyantap yang jelas-jelas ada dihadapan kami ini.

__ADS_1


Kita beristirahat ditempat seadanya. Aku tidur sembari mendekap senjata pemberian bapak. Nyaman rasanya. Meskipun hanya pada tempat yang boleh dikata kurang layak.


Paginya meskipun kami belum mandi dan cuci muka dihadapan sudah terhidang umbi hangat.


“Ini makan, sisa semalam. Lumayan buat pengganjal perut. Daripada sama sekali tak terisi.”


Kecubung Biru sudah memasak dan kami makan dulu sebelum mandi di sungai. Aku hanya mengangguk. Lalu mengambil beberapa potong. Ku santap dengan lahap. Makanan ini enak juga rasanya. Kelihatannya karena suasana hati yang tengah suka membuat segala yang ada menjadi kepuasan tersendiri.


Kemudian berlatih sepanjang hari ini bersama teman yang ada. Kami menjaga kemungkinan. Jika suatu waktu dipanggil Telah siap. Karena kondisi jelas belum menentu. Mereka belum menyerah. Dan kami belum nyaman posisinya.


Mereka menginginkan serangan terbuka karena telah siap segalanya. Meskipun pasukan sama jumlahnya. Hanya saja persenjataan yang menjadi persoalan. Mereka mendapat bantuan persenjataan yang sudah datang dari Batavia maupun Semarang.


Sementara para laskar sedikit ada perpecahan. Pendapat kami berbeda. Kyai Mojo menginginkan terus bergerilya. Merasa masih belum siap menghadapi para prajurit keraton.

__ADS_1


Meski jumlah kita tergolong banyak tapi kekuatan persenjataan juga pengalaman perang di medan terbuka masih tergolong minim.


Sejauh ini kita menang dalam bergerilya. Menguasai alam yang begitu dipahami seluk beluknya.


Tapi sebagian besar pangeran menginginkan serangan terbuka. Guna menunjukkan kekuatan. Sehingga, jika menang, kemungkinan bisa menguasai sebagian atau bahkan seluruh Jogja.


Beginilah akhirnya pasukan dalam jumah besar itu terus membombardir para laskar. Banyak yang tewas.


23 ribu pasukan bersenjata lengkap antara lain meriam, senapan laras panjang, juga panah mesin terus menderu.


Berikutnya di buru oleh prajurit keraton jumlanya sangat besar ratusan ribu gabungan dari empat negeri. Yang siap dengan senjata sakti panah, tombak, pedang terus menerus menerjang para laskar. Untung Pangeran lolos.


Namun Kedaton Pleret jebol. Benteng di Selarong diacak-acak. Bahkan Pangeran Diponegoro mesti melompat ke jurang untuk menghindari penangkapan.

__ADS_1


Keadaan kembali berubah kami mesti mengembara kembali mencari peluang untuk menang. Bagus Sodewo kembali dengan letih. Dia istirahat sejenak Mengganti pakaian wulungnya. Dengan putih bersih dan sorban. Mungkin sebentar lagi bakalan berpetualang menghindar dari kejaran musuh. Kami terus waspada mengamati keadaan sekitar Siapa tahu para pengejar sudah mengetahui tempat ini.


__ADS_2