Kecubung Biru

Kecubung Biru
Satu lagi yang takkan mungkin kulupa


__ADS_3

Bapak....


Kecubung Biru yang melihat kejadian itu hanya bisa menjerit. Dia meronta, berupaya melepaskan diri, mau mendekati ayahnya. Dia sedih, bapaknya terus menerus menderita.


Tapi didorong Ronggo Pekik dengan kasarnya hingga gadis itu jatuh.


Ronggo Pekik mendekati Pulung Jiwo yang sudah terkapar. Dia meraih tombak, hendak menuntaskan nyawa sahabatnya itu. Satu ayunan tangan pasti Pulung Jiwo binasa.


Ah....


Terdengar suara jeritan. Paman Ronggo Pekik yang menjerit. Dia tertusuk tombak. Aku yang melempar. Aku tak tega menyaksikan paman Pulung Jiwo disiksa. Sudah terlalu jauh perbuatannya. Akan semakin membuat luka jika diteruskan. Dan aku semakin sedih kala melihatnya.


Ronggo Pekik jatuh. Menelungkup di atas tubuh Pulung Jiwo, dengan darah meleleh dan tubuh masih tertancap tombak. Dia didorong oleh Pulung Jiwo menggunakan sisa tenaganya. Agar bisa bernafas bebas. Terasa lega semuanya.


“Sekarang pergilah.”


Dia berucap pada kami. Kami terkejut. Tapi tak bisa bersuara banyak. Hanya menuruti kehendaknya.

__ADS_1


“Tapi aku ingin disini pak!”


Kecubung Biru yang belum paham. Dia masih ingin bersama bapaknya yang kali ini terluka. Dia juga terluka. Dan seperti perjalanan sebelumnya. Keduanya bisa saling menyembuhkan, saling membantu dalam pengobatannya, untuk kemudian sembuh bersama pula. Melanjutkan kembali satu keluarga yang tak utuh. Namun saling membantu. Dan kebahagiaan kecil yang berikutnya didapatkan.


“Layung...” Paman memanggil. Lirih. Aku mendekati Paman Pulung Jiwo. Kelihatannya ada yang hendak diungkapkan. Penting. Sehingga, meskipun sangat sulit untuk bicara, karena luka yang demikian parah yang dia derita, sebisa mungkin ingin mengatakan hal penting itu.


“Apa?”


“Aku titip dia ya?”


“Tapi...”


“Baik paman.”


Aku cuma bisa mengiyakan.


“Bapak... Aku ingin bersama bapak.”

__ADS_1


“Tidak Kecubung. Pergilah dengannya. Kau ku anggap sudah dewasa. Sudah bisa menjaga diri. Perjalanan panjang mu tidak dengan bapak. Jalani dengan tabah."


“Tapi bapak masih terluka. Aku ingin membantu mengobati.“


“Tak mengapa, sebentar lagi juga akan sembuh sendiri.“


Aku membawa Kecubung Biru, meninggalkan kedua orang itu ke rumah, disana, pada rumah yang biasa di pergunakan Pulung Jiwo untuk kesehariannya. Mengolah tanah, menaungi diri dan segala upaya dalam menata kehidupan berumah tangganya. Yang tak bisa dianggap utuh. Berupaya untuk utuh. Tapi perjalanan waktu seolah menghempaskan segala harapan. Semua terurai dengan sendirinya. Menguap bagaikan air yang terkena terik matahari. Semua itu memerlukan waktu. Dan waktu pula yang bakalan mendinginkan segalanya.


Sedang rumah Ronggo Pekik dipakai oleh Pulung Jiwo. Rumah itu kosong, tak ada yang menempati, kini. Sedang sebelumnya, hanya ada kepedihan untuk sejenak. Dimana tangis jerit Kecubung Biru menghiasinya.


Kini sunyi. Bakalan tertinggal kan bersama kenangan yang terkubur didalamnya. Dan Ronggo Pekik menghiasinya.


Sesampai di rumah, kami berusaha membersihkan diri dari debu dan kotoran yang melekat di tubuh. Mengobati kepedihan, sekaligus melupakan luka batin.


Memang sulit. Terkadang waktu tak sanggup menuntaskannya. Namun seiring waktu juga, ada keinginan untuk hal itu. Agar semua seperti semula. Tertata dari awalnya.


Kecubung Biru mengandung. Perutnya membesar. Sebesar penderitaannya. Untuk tetap bertahan. Pada suatu luka. Yang mengiris batinnya. Tapi mesti dia tanggung.

__ADS_1


Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain menjaga perasaannya, menjaga kesehatannya, dan mungkin apa yang ada di perutnya.


Mungkin benih itu buah tak baik. Tapi aku berusaha, agar dia tetap layak. Berada dalam satu lingkaran keteguhan. Dan sanggup merubah wataknya tak seperti orang tuanya.


__ADS_2