
Meskipun hatinya masih berkecamuk pemikiran yang tak kami pahami.
Dia sedikit memberi wejangan, Ki Sodewo itu.
Bagaimanapun dia tak ingin melihat pertengkaran diantara dua orang terbaiknya ini. Perjuangan masih panjang. Sepanjang harapan semuanya. Warga, kawula, rakyat. Yang mendambakan perubahan. Seperti yang diinginkan, oleh semuanya. Semuanya mesti terwujud. Mungkin sebentar lagi, jika semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana awal. Dan orang-orang terbaik itu, hendaknya jangan mengacaukan yang berakibat buyar segalanya.
Hari ini kami bersama, tapi tak nyaman di hati. Masih ada bara yang sewaktu waktu meletup, terhadap kawan, juga pada musuh yang senantiasa mengancam kami.
Paman Pulung Jiwo duduk menyendiri. Dadanya masih mendidih. Bergemuruh bagai genderang perang yang ditabuh.
Kami, Aku dan Kecubung Biru, hanya diam mematung, tak jauh darinya.
“Stt... daripada bingung mending makan ini.“
“Apa itu....“
“Ubi kemarin.“
“Sudah dingin kan?“
“Iyalah. Tapi lumayan untuk mengganjal perut.“
Paman Ronggo Pekik juga. Dia marah. Capek-capek berpetualang, hanya mendapat perlakuan tak enak. Dia sudah berupaya membantu segala sesuatu, demi perjuangan ini. Tapi oleh rekan sendiri masih dianggap musuh. Itu yang membuat dadanya juga berdebar kencang. Marah.
Berikutnya kami berpisah menjadi tiga rombongan Bagus Sodewo dengan sebagian besar pasukan pergi menjelajah di seputaran Wates.
Lalu kami dan Paman Pulung Jiwo mencari daerah-daerah tersembunyi, masih di pegunungan sini.
Dan selebihnya Paman Ronggo Pekik berada pada kelompok tersendiri mencari daerah-daerah lebih ke selatan.
“Kecubung Biru....“ aku memanggilnya.
“Apa....“
__ADS_1
“Kita mandi yuk....“
“Dimana?“
“Tuh sungai yang banyak bebatuan.“
“Ayo.“
Kami menuju sungai dengan aliran yang lumayan deras. Karena bebatuan demikian banyak menyebar di dasarnya. Sungai pegunungan. Tak bisa dilayari. Namun alami. Dengan bentukan manusia yang hampir tak ada. Selain hanya memindah-mindahin bebatuan yang lepas. Atau untuk bahan membangun. Selebihnya masih merupakan bentukan alam yang demikian alami. Dibentuk dari proses yang lama, memakan waktu dan kuatnya gerakan alam itu dalam menatanya menjadi bentukan asri yang terlihat memanjakan mata.
“Hati-hati jangan mencari tempat yang dalam.“
“Ini banyak batu.“
“Itu justru berbahaya. Karena aliran arusnya deras dan langsung bertemu dengan dinding sungai yang berbatu-batu.“ Banyak kasus. Air yang dalam justru tak bergerak. Sunyi. Namun air yang melintasi bebatuan juga berbahaya. Terkadang licin. Dengan lumut-lumut yang menempel di dinding batu semakin sulit terpegang kalau orang terlanjur hanyut. Dan kecepatan arus turut mempersulit memegang tepiannya. Sehingga berakhir bencana. Dia akan terantuk bebatuan itu dan terseret hingga hilir dalam keadaan mengenaskan.
“Airnya jernih.“
“Kita juga bisa mencari ikan ini.“
“Bagaimana....“
“Kita coba.“
Berikutnya kita mencoba siapa tahu ada ikannya. Tak kelihatan sama sekali. Kalaupun ada, hanya kecil. Itu juga bergerak sangat cepat. Menyelinap pada kerikil dan batu yang ukurannya sedang.
“Itu... itu....“ dia menunjuk pada sesuatu.
Aku mencoba mengejar. Tanganku kubuka lebar, kemudian menangkapnya. “Udang ini, bukan ikan. Sulit lagi dalam menangkapnya.“
“Masih mendingan ada, akan kita cari yang lain.“
Kita terus bermain-main. Seakan tak terbatas waktu. Melewatkan semuanya. Perang yang kejam. Lelahnya menghadapi hidup. Kekalahan yang menyakitkan. Dan bersama sunyi untuk lebih dekat dengan alaminya suasana.
__ADS_1
“Airnya jernih. Tapi ikannya sama sekali tak nampak. Hanya batu-batu hitam saja. “
“Diminum juga enak nih. Air murni pegunungan.“
Tak perlu dimasak. Masih bersih. Dengan bebatuan yang membebaskannya dari segala kuman penyakit. Sebagai penyaring. Dan aliran yang lumayan kuat, turut membantu membuatnya bertambah bersih. Karena dalam posisi bergerak.
“Sudah lah dingin.“
“Kita berjemur di atas batu saja.“
“Wih....“
“Sambil membiarkan kuman-kuman penyakit juga ikut mati terpanggang matahari.“
Berikutnya hanya berjemur saja diatasi batu besar. Namun kaki masih menjuntai di dalam air. Jadi teriknya mentari langsung bisa didinginkan oleh air sungai yang bergemerincik dibawahnya.
Beberapa waktu berjalan. Kami melaluinya hampir tak menemukan konflik berat. Hanya berpindah-indah tempat Sembari menunggu kalau-kalau rombongan sudah berkumpul dan bakalan melakukan perang besar lagi.
Tapi nampaknya kemungkinannya kecil. Pasukan musuh terus memperketat penjagaan. Dan tiap pos selalu diisi banyak prajurit.
Waktu yang ditunggu bukannya yang diinginkan. Justru kabar tak mengenakkan yang mesti kami terima.
Kami mendengar Bagus Sodewo tertangkap oleh pasukan Kumpeni dan prajurit Keraton dan langsung di pancung. Sesuai hukum yang berlaku di Kesultanan.
Aku terkejut. Seakan tak percaya. ‘Bukankah dia sakti, punya aji pancasona. Dimana bumi tak mampu mencabut nyawanya, meskipun kepala sudah dipenggal dan terpisah dari badan, asal anggota tubuh masih menyentuh tanah, bisa langsung hidup kembali dan menempel ke tempat semula seperti tak terjadi apa-apa. Tapi kabar terakhir yang terdengar ini begitu mengerikan dan membuat kami semakin sedih.
Namun kabar berikutnya sedikit melegakan, katanya Bagus Sodewo masih hidup. Dia berada di daerah timur. Monconegoro Wetan daerah tempat kelahirannya di sekitar Madiun. Bahkan menurut kabar pula orang yang menembaknya sampai ketakutan akibat melihat yang telah meninggal hidup lagi dan hal ini membuat orang itu terbirit-birit sembari memegangi burungnya agar tak ngompol banyak-banyak. Ini juga yang membuat kabar tentang kesaktian Bagus Sodewo semakin santer bahwa dia punya ilmu Pancasona yang tak bisa mati.
Kabar terbaru mengatakan kalau yang sebenarnya dipenggal adalah anak buahnya yang mirip dengannya dan pakaian serta perlengkapan perang berikut kuda dan segalanya dikenakan pada orang itu hingga kepalanya terpenggal dan badannya dihanyutkan ke sungai Serang hingga tak ditemukan. Kepalanya itu diletakkan di Gunung Songgo.
Hal ini dilakukan untuk mengelabuhi Kumpeni agar mereka terkecoh. Demikian saja merasa aman. Dan nyaman bisa terlelap di atas kasur empuk. Tanpa takut ada bahaya di luaran. Meskipun semua semu. Kejadian buruk masih saja menginta. Nyawa sewaktu-waktu bisa melayang.
Tapi disisi Kumpeni sendiri, bisa jadi segalanya dipersiapkan dengan sengaja dan diberitakan dengan cepat dari mulut ke mulut. Supaya anak buahnya yang ada si gunung bersedia menyerah. Terutama yang lamban kabar. Dan belum memahami apa yang tengah terjadi. Kemudian memperlemah perjangan Pangeran Diponegoro.
__ADS_1
Beliau sempat menjadi demang dengan nama lain. Makanya dia dipaggil dengan nama Notodirjo itu dan terus melakukan perlawanan secara diam-diam. Baik menculik para kumpeni yang lengah atau memberi bantuan makanan buat para gerilyawan di hutan.
Yang berikutnya menjadi hal buruk adalah kabar terakhir tentang tertangkapnya kembali dia. Kali ini kelihatannya tak mungkin salah. Karena anaknya perempuan, lebih dulu menyerah. Membuat sikapnya melemah dan menyerahkan diri hingga dia dieksekusi. Serta kepalanya di songgo tiang. Ditaruh diatas tiang pada satu gunung. Dan badannya dihanyutkan di sungai Serang. Lalu dikebumikan di daerah Wates. Tentu saja hal ini menjadi pukulan buat kami.