
Lembayung sutra di ufuk mulai bercahaya. Sinarnya semburat menerangi gunung Meru yang agung. Gunung dimana segala janji seakan tercipta, bersama kepulan yang membubung, sebagai suatu tanda, akan kuasa alam, yang tak ingin daerahnya tercoreng, oleh angkuhnya manusia, yang kerdil bagai Banteng Wareng, namun berucap laksana Bima yang sakti dan berputar pada suatu jalur, dimana bertebaran air susu yang membentuk cahaya-cahaya baru, untuk berputar dan menggelinding, laksana bola tapi pipih kentang, seperti cakram dan melayang pada suatu tempat yang luas tak terbatas oleh mata. Dan menyelusup di sela si kembar, Susundara Sumbing. Menjulang menembus batas langit. Terpancar indah dalam pantulan sinar pagi. Membuai mata. Seakan tersenyum. Mendamba setiap yang datang untuk menyentuh kehalusannya. Dan terpercik oleh kelokan aliran sungai Prayogo. Sungai yang melintasi suatu kota. Dimana segala janji tercipta. Segala kenikmatan. Segala keinginan pada masa lampau. Untuk menuju keabadian. Hingga terkuak kembali keberadaannya, oleh tangan-tangan keingintahuan. Dan mata airnya, jernih berkilauan. Diantara tebaran-tebaran abu gunung yang panas. Memerah, melebur segala. Kemudian kelabu, sedingin abu. Batu-batunya angkuh, semakin hitam, oleh teriknya panas, semakin licin. Setiap saat mandi dinginnya air yang terus memercik dan mengalir sepanjang waktu. Berputar jatuh dalam titik-titik embun. Yang pusarannya menggelinding, menakjubkan, menyeret segalanya, pada suatu hentakan keheningan mendalam. Dan kelokan yang tajam terhalang tebing cadas nan keras. Diantara ngarai, lembah dan perbukitan yang memukau untuk terus memanjakan nya. Sembari menatap ikan-ikan yang mandi dengan anggunnya diantara kaki-kaki para batari yang turun dengan ayunan gemulainya. Berbatas hutan dengan pepohonan yang redup. Tak hanya rindang. Namun seakan tertutup kabut misteri. Yang menghalangi cahaya mentari menelusup. Untuk menembus hingga dalam hati. Dan tersekat diantara tebing cadasnya. Membatasi antar dua berbeda. Yang rendah menghamba, dan tinggi menggelora. Untuk tetap terpisah, dalam suatu perbedaan. Tinggi dan rendah. Serendah Jurang. Jurang derita. Tingginya keinginan. Berpadu. Pada paduan suara alam. Melagukan kidung nestapa. Akan perubahan dunia. Yang demikian tajam. Setajam apa. Dan bertemu dengan pohon-pohon cemara. Tidak hanya itu. Segala pepohonan. Yang tak harus pohon itu. Agar semua lega tak merasa di duakan. Untuk terus menjaga keselarasan dan keberagamannya, membuat hutan menjadi semakin lebat, semakin suram. Agar tak dikunjungi, oleh tangan-tangan yang merampas keberadaannya. Dan tetap lembab.
__ADS_1
Lama kami tinggal berdua. Pada rumah sunyi tepi hutan. Mengelola ladang, menggarap sawah. Sembari menatap bintik-bintik embun. Dingin menghanyutkan. Menjaga batin kita, untuk tetap dingin. Tak penuh amarah. Demi terjaganya suatu norma. Yang sudah tercabik. Dan mesti ditata ulang. Pada jalurnya. Sehingga apa yang menyimpang, bakal kembali lurus, sesuai dengan aturan yang berlaku. Serta kembali pada keberadaannya di lingkup sosial yang melingkari rumah mungil tepi dusun. Yang tak terabaikan oleh sekitarnya, masyarakat, juga lingkungan lainnya.
__ADS_1
Lembayung senja pun mengatupkan mata.
__ADS_1