Kekasih Beda Alam

Kekasih Beda Alam
petaka 2


__ADS_3

"Dan kamu tunggu disini,aku akan kembali kerumahku" ucap Arum.


"Baik, eh Arum trimakasih atas ssmuanya" jawab Nimas dengan nada lirih dan seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Yah sudah tugasku membantumu" jawab Arum dan bersiap untuk pergi.


"Ahhh anu Arum" ucap Nimas dengan nada takut.


"Apalagi kamu ...kamu jangan membutku emosi lagi dong ini lagi serius" Arum kesal karena bolak balik di pangil Nimas.


"Anu bisakah menemaniku di sini aku takut?" jawab nimas sok polos dan sok imut.


"tidak mau" Arum langsung menolak tanpa basa - basi.


"Ayolah setidaknya sampai orang -orang kesini" Nimas memohom dengan melas.


"Hah kamu itu sungguh merepotkanku saja, kamu itu keluar dari perut gendruwo saja hidup juga sudah meiliki ilmu kanuraga, kenapa masih takut sih, heran deh" celoteh Arum karena kesal demga Nimas yang penakut.


"Bukan hanya itu Rum, kok aku jadi aneh sih" jawab Nimas kembali.


"Kenapa!" Arum madih dengan gayanya yang sinis.


"Kok aku jadi melihat kawan - kawanmu, ada poci, kuntil, dan ada bulong" ucap nimas dengan wajah polos serta ketakutan membayangkan semunya.


"Apa sih mas kamu ngomong tu jangan di singkat-singkat" Arum agak geli dengan Nimas yang clingak - clinguk.


"Iya pokoknya itu aku nggak enak sebut nama" Nimas menjawab dengan gaya clingak -clinguknya.


"Yaitu mas satu kelebihanmu, melihat mereka semua dan mereka menjadi kawanmu wkwkwwk" Arum semakin mengejek dan menakuti Nimas.


"Astaga bukanya mujur malah buntung aku. Bisa bisa mati karna takut, Rum bisa tidak kelebihan satu ini di ganti dengan tumbuh seksi nan cantik atau kaya paling nggak kelebihan lemak dah biar aku semakin seksi" celoteh nimas dengan muka kecewa.


"Apa -apaan" sahut Arum geli.


"Nimas! " Cakra memanggil Nimas dan beberapa orang warga kampung yang mengikuti.


"Mas ini selimut tolong selimutkan Winarsih" perintah Cakra sembari Memberikan slimut garis -garis kepada Nimas.


"Baik kra makasih" jawab nimas segera menyelimuti Winarsih yang masih dalam keadaan pingsan.


"Ayo cepat bapak - bapak gotong Winarsih pulang" Cakra memerintah warga untuk segera membawa Winarsih pulang.


"Ayo mas aku antar kamu pulang" Cakra mengajak Nimas umtuk di antar pulang kerumahnya, sebenarnya hati sudah menunjukan fajar akan segera daatang tetapi jiwa laki-lakinya muncul.


"Baiklah trimakasih" Nimas mengiyakan dengan wajah memerah malu.


"Dasar semprul, suruh menunggu sekarang udah ada cowok ngakak pulang di tinggal tanpa pamit dasar cewek bangsat" celoteh Arum yang kesal kemudian pulang kerumahnya.


"Em kra, kamu tinggal dimana?"


Arum bertanya kepada Cakra di sela - sela perjalanan Mereka pulang menuju rumah Nimas, melewati jalan setapak dan pancaran obor.


"Aku tinggal di desa Kramat, tidak jauh dari desa ini" Cakra menjawab Nimas dengan melihat tersenyum.


"Ohh.. ya ya".Pada saat itu hati nimas berdebar sangat kencang seakan -akan hatinya akan meloncat keluar.


"Ayo sudaha dekat" Cakra yang melihat Nimas seakan - akan mengerti apa yang Nimas rasakan, karena Cakra pun juga merasakan hal yang sama.


"Assamualaikum, simbok bapak Nimas pulang" tak berapa lama Nimas dan Cakra sampai di rumah Nimas.


"Walakumsalam, alhamdulillah kamu pulang nduk" Ibu Nimas menjawab salam dan membukaaan pintu langsung memeluk sembari menciumi Nimas.


"Assalamualaikum, mbok perkebalkan nama saya Cakra" Cakra mengucapkan salam sembari mencium tangan ibu Nimas.


"walakumsalam, oalaah silahkan masuk Nak Cakra, monggo" Ibu nimas mempersilahkan Cakra masuk.


"Silahkan" Nimas mempersilahkan Cakra masuk tapi pada saat itu Cakra dan Nimas ingin masuk bersama.


"Kamu dulu" Cakra tersenyum tampan mempersilahkan Nimas masuk dahulu.


"Emm baiklah" Nimas tersnyum malu, kedua pipinya merah merona.


"Sikahkan duduk nak, Nimas buatkan nak Cakra kopi" Ibu Nimas duduk sembari mempersilahkan Cakra dan menyuruh Nimas membuat kopi.


"Tidak usah mbok, tidak usah repot-repot" Cakra melambaikan tangan menolak karena merasa merepotkan.


"Tidak nak cuma kopi,temani simbok ngobrol sebentar bapak sedang pergi kerumah Winarsih" ucap ibu Nimas,mencairkan suasana.


"Ini kra kopinya" Nimas menyodorkan kopi yang dibawanya dari dapur.


"Trimakasih,mas" ucap Cakra sambil mengeser kopi yang agak kejauhan.


"Duduk ndok kita ngobrol" Ibu Nimas menyuruh Nimas sambil menepuk kursi isyarat Nimas disuruh duduk di sebelahnya.


"Ya buk" jawab Nimas patuh.

__ADS_1


"Gimana menurut kalian, dengan kejadian ini, simbok dan bapak tanpa kalian ceritakan sudah mengerti" Ibu Nimas membuka percakapan dengan serius.


"Ya begitu mbok, pelan - pelan kita sampaikan kepada keluarga Winarsih dan Winarsih tentang kejadian ini terutama kejadian Winarsih sudah


tidak suci dan mengandung" jawab Cakra dengan nada serius sembari menggangukan kepalanya.


"Tapi ini bukanya akan sulit mbok" ucap Nimas miris memikirkan sahabatnya tersebut.


"Ya bagaimana lagi nduk, ini takdirnya Winarsih, kita hanya bisa berdoa semoga Winarsih kuat" ucap simbok.


"Iya mbok" Nimas membenarkan apa yang di katakan ibunya itu.


"O ya nak Cakra, apa nak Cakra sudah menikah?" tanya Ibuk nimas dengan serius.


"Belum mbok saya masih sendiri" jawab Cakra dengan tersenyum malu.


"Ahhh... pas Nimas juga masih sendiri" tegas Ibu Nimas dengan serius.


"Ah simbok " Nimas menegur ibunya dengan tersipu malu.


"Kalau Nimas, mau bisa di bicarakan mbok" jawab cakra serius.


"ah apa sihh, kamu Kra... sana pulang lihat Winarsih" Nimas yang semakin kepanasan akan pembicaraan Ibunya dan Cakra akhirnya mengusir Cakra pulang.


"Eh nduk jangan begitu, nggak boleh masak nak Cakra di usir" Ibu yang kaget dengan Nimas menegurnya secara halus.


"Iya mas masak sama calon suami begitu" Cakra yang semakin berani menggoda Nimas.


"Ahh aapan sih" Nimas yang malu malah melarikan diri kekamarnya.


"Hehe, maaf ya mbok, bener kata Nimas saya pamit pulang dulu saya juga khawatir dengan keadaan Winarsih" ucap Cakra sembari berdiri meminta pamit dan mencium tangan Ibu Nimas.


"Oalah maafkan Nimas ya nk yang masih seperti anak kecil" ucap Ibu Nimas mengiyakan sembari mengantar Cakra menuju pintu.


"Mari buk" ucap Cakra sembari berjalan.


"Mari nak hati-hati" jawab Ibu Nimas.


Pagi pun sudah datang Ibu Nimas dan Bapak sudah berada di ruang makan.


"Pagi mbok, pak" sapa nimas yang baru bangun dari tidurnya kemudian menuju ke dapur.


"Pagi nduk, sudah bangun mandi sana kita segera pergi kerumah Winarsih" ucap ibu winarsih.


"Ya buk siap, Nimas mandi dulu" jawab Nimas dan segera mandi kemudian siap-siap.


"Sarapan dulu nduk" Perintah ibuk yang melihat Nimas keluar dari kamar setelah siap-siap.


"Ya buk" jawab Nimas sembari duduk di meja makan yang berhadapan dengan bapaknya.


"Pak bagaimana keadaaan winarsih tadi malam apakah sudah siuman" Nimas bertanya kepada Bapaknya dengan wajah yang serius.


"Winarsih sudah sadar nduk tapi keadaanya tidak bisa di bilang buruk dan tidak bisaa dibilang baik, lebih baik kami lihat sendiri nduk nanti setelah sarapan kita kesana" jawab Bapak Nimas.


Tak butuh waktu lama Nimas, Bu Sri dan Pak Rebo sudah sampai di rumah Winarsih yang tidak begitu jauh dengan rumah Nimas.


"Assalamualaikum". Ibu Nimas mengucapkan salah sebelum masuk ke rumah Winarsih.


"Walaikumsalam, silahkan masuk Mbok Sri" jawab ibu winarsih dari dalam rumah.


"Gimana keadaan Winarsih yu, apakah sudah ada perkembangan"bIbu Nimas bertanya kepada ibu Winarsih dengan mengelus bahunya.


"Ya seperti iti Mbok Sri...huu...huu...Huu" ibu Winarsih nagis sejadi - jadinya.


"Sudah yu sudah yang sabar pasti ada jalan, Nimas kamu masuk temani Winarsih" pinta Ibu Nimas kepada Nimas.


"Baik mbok" Nimas mengiyakan dan menuju kamar Winarsih.


"Assamualaikum, Win ini aku Nimas" Nimas masuk ke kamar Winarsih Nimas sangat terkejut dengan keadaan Winarsih, sontak membuat Nimas meneteskan air mata.


"Kok bisa win kenapa Win, kenapa jadi seperti ini" Nimas tanpa henti menjatuhkan air matanya dan tak hentinya memeluk Winarsih.


"Win bangun ceritakan apa yang sudah terjadi" Nimas masih berharaap sahabatnua itu meresponya, tapi semua sia - sia Winarsih hanya melihat ke atas dengan kosong seakan tidak mempunyai nyawa lagi.


"Baiklah Win, aku akan kesini lagi aku sudah membalaskan dendamu mahluk itu telah musnah,aku keluar dulu" ucap Nimas yang tidak tahan melihat keadaan sahabatnya itu.


"Simbok, Bude, bagaimana ini bagaimana dengan Winarsih?" Nimas menghampiri ibunya dan ibu Winarsih di ruang tamu dengan keadaan yang masih menangis.


"Sabar Nduk, Bude dan Simbok juga sedih tapi bagaimana lagi ini takdir kita hanya bisa berusaha mencari pengobatan" ucap Ibu Nimas menenangkan suasana.


"Assalamualaikum, Cakra datang Bude" Cakra salam dan masuk tanpa melihat siapa yang didalam.


"Cakra bagaimana ini cakra winarsih dia...dia" tanpa di sadari Nimas lari memeluk Cakra dengan erat, sontak semua menjadi kaget dan membisu, begitupun dengan Cakra.


"Emh...hem, Nimas sabar ya kita cari jalan keluarnya" Cakra dengan suara yang ragu juga menenangkan Nimas membalas pelukan Nimas dengan ragu.

__ADS_1


"Ahh astaga, anu maafkan aku...aku spontan" ucap Nimas kaget secepat kilat langsung melepaskan pelukanya dari Cakra dan malu dengan perbuatannya sendiri.


"Hem ada yang tidak sabar ini yu" ejek Ibu Nimas dengan senyuman.


"Alhamdulillah kalau begitu secepatnya kita bicarakan saja Mbok Sri Nimas dan Cakra juga sudah tak angap anak sendiri" senyuman sumringah dari ibu Winarsih seakan merestui mereka.


"Ya sudah yu kami tak pamit dulu, nak pangil Bapakmu mari kita pulang" perintah Ibu Nimas menyuruh memangil bapak pulang bersaman.


" Ya buk" jawab Nimas.


Sore menjelang malam Nimas dan keluarga sudah sampai di rumah, mereka berkumpul di ruang kuarga.


"Pak, Simbok mau ngomong Nimas kan sudah besar bagaimana kalau kita mencarikan suami" Ibuk Nimas membuka percakapan memecah kesunyian mereka bertiga.


"Apa to mbok, kok Nimas lagi" jawab Nimas malas dengan pembahasan yang dimulai ibunya.


"Iya mbok bapak setuju tapi siapa mbok?" tanya bapak nimas


"Bagaimana kalu Cakra saja pak dia anak yang baik?" Ibu Nimas memberikan usulan


"Ah Bapak dan Simbok ini" Nimas malu dan berlari ke kamar.


"Baimana Pak kalau ini serius saja?" desak Ibu Nimas.


"Tapi buk Nimas dan Cakra baru bertemu beberapa hari saja, apa tidak kecepetan" Bapak Nimas menjawab pertanyaan Ibu Nimas dengan berfikir dengan mengerutkan dahi.


"Jaman kita dulu malah tidak kenal pak ketemu pas akad nikah langsung malamnya main kuda-kudaan" jawab Ibu Nimas bercanda dengan suaminya.


"Ah simbok membuat bapak jadi malu" muka Bapak semakin memerah melihat tingkah laku istrinya yang mulai merayu-rayu.


"Bapak bisa malu ya biasanya malu-maluin" jawab ibu Nimas sambil mencubit perut bapak Nimas yan tembem.


"Ah aduh sakit mbok...besok bapak coba tanyakan kepada Cakra mbok bagaimana kalu sekatang kita bobok".Bapak memberi kode kode rahasia dan lanjut di kamar utama.


Pagi sudah tiba seperti rutinitas biasa bapak siap - siap berangkat ke kantor kepala desa, karna bapak adalah kepala desa di desa dimana Nimas tinggal.


"Mbok bapak berangkat dulu" Bapak menggendong tas sampingnya.


"Iya pak jangan lupa nanti kalau ketemu cakra ya pak" Ibu Nimas tidak lupa kembali mengingatkan bapak tentang Cakra dan tidak lupa mencium tangan bapak.


"Siap buk bapak berangkat dulu"bucap bapak sembari menuju pintu depan.


"Hati -hati pak" jawab Ibu Nimas sembari mengantar suaminya keluar.


"Huamm, Buk, Bapak sudah berangkat?" anya Nimas yang baru saja bangin dengan rambut awul-awulan.


"Sudah nduk sana mandi dulu terus sarapan perawan kok seperti itu!nanti ikut ibu kepasar" perintah Ibu Nimas kepada anak perawan dan semata wayangnya.


"Ya bu siap" jawab Nimas.


Hari sudah memunjukan pukul 2, waktunya bapak Nimas pulang, saat di perjalanan pulang bapak bertemu Cakra sedang ada di warung kopi pingir jalan, Bapak tanpa basa - basi pun langsung menghampiri Cakra.


"Eh nak Cakra, ngopi nak?" Bapak menyapa Cakra dengan basa -basi seakan pertemuan ini tidak di sengaja.


"Eh iya pak monggo pinarak saya pesankan kopi ya" Cakra yang agak kaget dan grogi mempersilahka Bapak Nimas bergabung dengannya.


"Ya baiklah nak kebetulan ada yang ingin bapak bicarakan kepadamu" jawab Bapak sembari duduk di kursi yaang tersedia berhadapan degan Cakra.


"Buk kopi satu lagi ya" Cakra dengan segera memesankan kopi untuk Pak Rebo Bapaknya Nimas.


"Ya mas siap" sahut ibu penjual kopinya.


"Bagaimana pak keadaan bapak sekeluarga" Basa -basi cakra membuka percakapan agar tidak grogi.


"Alhamdulillah baik nak, bagaimana dengan Winarsih?" Bapak kembali bertanya kepada Cakra.


"Yah masih seperti itu lah pak, oh iya pak apa yang ingin bapak bocaraka kepada saya" sahut cakra sembari bermain jari jemarinya upaya menghilangkan rasa groginya.


"Ah begini saja nak Cakra...langsung saja ya ke intinya ehem.. hemm" suara Bapak yang semakin tidak beraturan seakan juga memberanikan diri dan takut salah.


"Kopinya kopi" sahut ibu pemilik warung kopi.


"Ahhh iya buk terimakasih, silahkan pak kopinya diminum dulu" Cakra mengeser kopinya dekat dengan Pak Rebo.


"Ya nak, ayo saya minum ini" Bapak mengambil kopinya menyerutup perlahan karena panas.


"Oh iya pak tadi bapak mau berbicata apa ya, belum jadi di bicarakan kopinya malah datang" tanya Cakra penasara karena Pak Rebo tadi belum jadi berbicara.


"Jadi begini nak, terus terang saja, Bapak sedang mencari calon mantu, suami untuk Nimas, Bapak dan Simbok maumya juga secepatnya, nah Bapak mau tanya apa nak Cakra sudah punya calon?" ucap Pak Rebo panjang lebar tapi mantap.


"Huk huk, be...belum Pak" Cakra yang sedang minum tersedak karena kaget.


"Pelan -pelan nak hati- hati...bagus kalau begitu, apakah nak Cakra bersedia dengan Nimas? " Pak Rebo berbicara tanpa basa - basi.


"Saya...saya....

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2